JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Di tengah kesibukan perkuliahan dan persiapan Ujian Akhir Semester suasana berbeda terasa di Kampus Institut Teknologi PLN (ITPLN), Rabu, 8 Juli 2026 sore kemarin. Lobi timur kampus ITPLN berubah menjadi panggung pagelaran budaya saat Paguyuban Sunda ITPLN merayakan milangkala (HUT) ke-18. Suasana kampus teknik ini berubah menjadi syahdu ketika lantunan seruling-pupuh mengalun lembut.
Pupuh yang selama ini dikenal sarat petuah tentang kasih sayang, tuntunan hidup, serta harapan bagi generasi muda itu dibawakan dengan penghayatan mendalam. Setiap baitnya seolah mengajak mahasiswa untuk tidak melupakan akar budaya di tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa M.K., M.T. IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., mengaku bangga melihat mahasiswa teknik ITPLN yang masih bisa menjaga dan melestarikan budaya Sunda di Jakarta. Iwa yang juga asli Sunda itu memberikan pesan agar setiap mahasiswa ITPLN harus memahami jati diri dan tanah kelahirannya, termasuk melestarikan kebudayaan daerah masing-masing.
“Saya bangga pada kalian yang konsisten masih mempertahankan budaya Sunda. Tetap menjaga Marwah Sunda. Itu tidak semua orang bisa, meskipun sama orang Sunda sendiri,” ujar Iwa dalam sambutannya.
Senada dengannya, Dosen Pembina Paguyuban Sunda ITPLN, Dhami Johar Damiri mengatakan, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Sunda sejatinya selaras dengan semangat pembangunan berkelanjutan. Salah satunya mengajarkan harmoni antara manusia dan alam menjadi landasan penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan transisi energi.
“Di ITPLN, kami tidak hanya mendidik mahasiswa agar unggul di bidang teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang menghargai alam. Semangat melestarikan budaya harus berjalan beriringan dengan ikhtiar mewujudkan kemandirian energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjaga warisan budaya sekaligus menghadirkan inovasi untuk masa depan energi bangsa,” kata Dhami.
Salah satu Dosen Pembina- Pangaping Paguyuban Sunda ITPLN, Hendra Jatnika, mengingatkan, peringatan hari jadi paguyuban bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ajang evaluasi diri, pengembangan organisasi paguyuban, ruang bagi mahasiswa untuk menjaga identitas budaya.
“Sekaligus mempererat kebersamaan lintas angkatan, alumni dan himpunan daerah serta orwmawa lainnya, menjalin kerjasama dengan paguyuban sunda lainnya diluar kampus, dan harus mampu adaptasi dengan jaman,” kata Jatnika.
Dia juga mengatakan slogan paguyuban Sunda ITPLN “Omat Edankeun’ memiliki makna diantaranya amanah untuk melahirkan inovasi-inovasi dari para mahasiwa lintas bidang ilmu yang tergabung dalam paguyuban guna menjawab tantangan masa.
Ia menambahkan, seni budaya seprti lantunan pupuh mengandung filosofi yang tetap relevan hingga sekarang. Di balik setiap liriknya tersimpan nilai kesabaran, kerendahan hati, serta kebijaksanaan yang dapat menjadi fondasi dalam membentuk karakter mahasiswa yang unggul, adaptif, dan berintegritas.
Di sisi lain, Dosen Pengaping Paguyuban Sunda ITPLN lainnya, Herman Bedi berpesan agar Paguyuban Sunda tidak meninggalkan ciri khasnya sopan santun dan menjadi tauladan dalam menjaga budaya sunda. Sebab, ucapnya, tidak semua orang sunda mampu menjaga budayanya.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa menjadi insan teknik tidak berarti jauh dari budaya. Justru karakter, etika, dan nilai kehidupan yang diwariskan budaya Sunda menjadi bekal penting dalam membangun profesionalisme di masa depan,” kata Bedi selaras dengan amanah dari Rektor ITPLN.
Acara dibuka dengan laporan kesiapan kegiatan milangkala oleh Muhammad Said Hasan M lalu sambutan Ketua Paguyuban Sunda ITPLN Wildan Fathurrohman yang menyebutkan bahwa Milangkala ke-18 menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan mahasiswa terhadap budaya daerah. Menurut Wildan, paguyuban tidak hanya menjadi wadah berkumpul mahasiswa asal Sunda, tetapi juga ruang terbuka bagi seluruh sivitas akademika yang ingin mengenal kekayaan budaya Nusantara.
“Kami berharap kegiatan ini membuat budaya Sunda semakin dekat dengan mahasiswa. Siapa pun bisa belajar, menikmati, dan ikut melestarikannya sehingga nilai-nilai budaya tetap hidup di lingkungan kampus,” kata Wildan.
Acara dilanjutkan prosesi pemotongan tumpeng yang dilakukan para pembina dan pengurus paguyuban sebagai simbol rasa syukur, disaksikan oleh sivitas akademika ITPLN utamanya oleh anggota paguyuban sunda dan tamu undangan seperti himpunan daerah lainnya serta perwakilan -perwakilan ormawa di ITPLN dengan latar belakang panggung bertuliskan “Milangkala ke-18 Paguyuban Sunda”.
Tak lama kemudian, Perayaan semakin semarak ketika sejumlah mahasiswa sunda menampilkan pertunjukan seperti tarian, pembacaan sastra Sunda, permainan tebak aksara Sunda hingga pertunjukan musik tradisional dan pentas seni lainnya yang sarat dengan budaya Sunda, berpadu harmonis dengan semangat generasi muda kampus teknik yang mengangkat nilai gotong royong, hormat kepada orang tua, dan pentingnya menjaga jati diri.
Perayaan itu pun menjadi bukti bahwa kampus teknik tidak hanya melahirkan calon sarjana atau insinyur yang menguasai teknologi, tetapi juga generasi muda yang mampu menjaga warisan budaya bangsa. Kampus teknik bukan hanya tempat lahirnya inovasi teknologi, tetapi juga ruang yang menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Ketika budaya terus dijaga dan inovasi energi terus dikembangkan, ITPLN ingin menunjukkan bahwa kemandirian energi Indonesia tidak hanya dibangun dengan kecanggihan teknologi, melainkan dibangun juga oleh generasi yang berakar kuat pada budaya, mencintai lingkungan, dan siap mengawal masa depan energi terbarukan nasional. ® RED/RAMADHAN ALDIANSYAH /EDITOR : GOES