Raja Juli Antoni, Antara PSI dan Fitnah ke Anies Baswedan Bertubi-tubi

OLEH : DR YUSUF BLEGUR

KEKUASAAN yang tak menghadirkan Ketuhanan, lebih sering tampil tanpa kemuliaan. Terbiasa meninggalkan kemanusiaan, kerap mendatangkan kejahatan. Begitupun yang jauh dari keadaban, kian terasa dekat dengan kehinaan.

Ngunduh Wohing Pakarti. Tak ada ungkapan yang lebih pantas disematkan kepada Raja Juli Antoni selain Ngunduh Wohing Pakarti. Sekjend Partai Solideritas Indonesia (PSI) dan Menteri Kehutanan RI itu kini seperti sedang memasuki fase “memetik buah dari perbuatannya”.

Sosoknya kini terseret dalam pusaran skandal amplop Bupati Kuantang Singing, Suhardiman Amby, yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus suap pengisian jabatan Sekda. “Orang Jokowi” yang dalam “pangkuan Prabowo” terasa sedang tenggelam dalam gegap gempita klarifikasi gratifikasi.

Politisi yang dikenal publik sebagai bagian dari Geng Solo, kini seperti sedang mengalami keruntuhan moral, etika, dan hukum akibat perbuatan masa lalunya.

Menjadi pendiri sekaligus Sekjend PSI dengan kiprah politiknya yang identik dengan irisan kekuasaan Jokowi.

Sosok Raja Juli Antoni juga tak bisa lepas dari jejak menggerus profil dan kepemimpinan Anies Baswedan. Terutama dalam pelbagai produksi isu, intrik, dan fitnah yang intens terhadap Anies melalui mesin politik PSI.

Siapa menabur angin akan menuai badai. Baik buruknya perbuatan seseorang akan kembali kepada dirinya sendiri. Episode penghakiman Tuhan dengan keterusterangan sejarah, perlahan mulai melucuti eksistensi Raja Juli Antoni, Jokowi, dan PSI.

Betapapun kekayaan, jabatan, dan pengaruh kekuasaan tebal menyelimuti entitas politik berjuluk instrumen Geng Solo yang penuh kebohongan, manipulatif, dan destruktif itu.

Begitupun sebaliknya dengan Anies Baswedan. Kesabaran, ketulusan, dan integritas yang kokoh dalam menghadapi badai kecurangan dan kejahatan yang sistemik pada figur dan kepemimpinannya selama ini. Mampu membawa tokoh inspiratif dan perubahan itu tetap menjaga komitmen, konsistensi, dan kesinambungan bersih diri serta totalitas mengabdi.

Anies tak ubahnya tekun menyelami sekaligus menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadaban dalam Ketuhanan dan kemanusiaan.

Mengikuti arus sejarah yang terus mengalir, menyisakan kanal hitam putih kehidupan kebangsaan. Kemudian dengan kesadaran penuh dan ketetapan hati, memilih jalan sunyi, terpinggirkan, dan terasing mengusung kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

Raja Juli Antoni, PSI, dan Fitnah Anies bertubi-Tubi, boleh jadi seperti cerita perjalanan politik yang ringan, tanpa beban, dan menjadi serba permisif. Namun dibalik semua itu, ada kedalaman materil dan spirituil yang tak bisa dihindari siapapun.

Bahwa kekuasaan yang tak terbatas pun, bukan berarti tak berujung, tak bertepian, dan melebihi ketinggian langit. Terutama, ketika masih menyandang dan menjadi manusia. (***/goes)

(Penulis : Yusuf Blegur adalah Akademisi bergelar doktor, kini tinggal di Bekasi)

Related posts

Sejumlah Persoalan yang Melilit, Reklame Jakarta: Siapa Untung dan Siapa Buntung?

Dapat Rp31.849/Hari atau Rp955.480 Tiap Bulan, Tanpa Korupsi Dana Rp 268 Triliun Cukup untuk Bantu 23,36 Juta Warga yang Miskin di Indonesia

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Rezim Baru & Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter (Seri-28)