Khusus untuk Daerah 3T, Mahasiswa ITPLN Berhasil Ciptakan PLMH Surya & Angin Hadirkan Listrik 24 Jam

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Tim mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) menghadirkan solusi elektrifikasi mandiri untuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui inovasi Pembangkit Listrik Mini Hybrid (PLMH) Surya–Angin. Sebuah inovasi teknologi yang memadukan energi surya dan angin ini akan dipasang di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) atau khusus untuk daerah 3T

Perlu diketahui bahwa inovasi itu berhasil meraih juara kategori Inovasi Solusi Perubahan Iklim pada ajang PLN SustainAction 2025 lalu. Kini, mahasiswa ITPLN itu fokus merakit prototipe PLMH Surya Angin, sebelum dipasang di lokasi terkait. Mereka merakit komponen bilah turbin angin di area laboratorium luar ruangan ITPLN. Jemarinya teliti menyambungkan kabel ke generator, sementara rangka baja dan panel surya dan baterai disiapkan untuk dirancang agar bisa menjawab kebutuhan listrik masyarakat di daerah 3T.

Berkat tangan dingin dan pemikiran cemerlang dari mahasiswa ITPLN, PLMH Surya–Angin menjadi sistem pembangkit yang mengombinasikan dua panel surya berkapasitas 590 Wp atau total 1.180 Wp dengan turbin angin Archimedes berdiameter 1,5 meter yang digerakkan Permanent Magnet Generator (PMG) berdaya 1.000 watt. Total kapasitas pembangkit mencapai sekitar 2 kW, cukup memenuhi kebutuhan dasar listrik satu rumah tangga.

Namun tak berhenti sampai di situ saja. Konsep pengembangan PLMH dirancang lebih luas. Sistem ini ditargetkan mampu menyuplai listrik secara mandiri selama 24 jam untuk satu lingkungan rukun tetangga (RT), dengan produksi energi sedikitnya 2.500 kWh per tahun. Selain menyediakan akses energi bersih, teknologi tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga sekitar dua ton CO₂ setiap tahun.

Dijelaskan Ketua tim inovator, Ibra Habibi Alfitra, gagasan tersebut lahir dari keinginan menghadirkan solusi yang sederhana, mudah direplikasi, sekaligus sesuai dengan karakteristik wilayah terpencil di Indonesia yang memiliki potensi sinar matahari dan angin melimpah.

“Yang jelas, kami ingin teknologi ini benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mudah dipelajari, dirawat, dan dikembangkan secara mandiri di daerah 3T,” tutur Ibra Habibi Alfitra melalui keterangannya di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Sedangkan untuk tim pengembang PLMH Surya Angin ini terdiri atas Ibra Habibi Alfitra (NIM 202311072), Amalia Mutmainnah Nasruddin (NIM 202311127), dan Zidane Arrafi Iryon (NIM 202311228). Mereka turut menyusun panduan teknis agar teknologi tersebut dapat direplikasi di rumah-rumah lain, sekaligus menyiapkan program pelatihan bagi masyarakat sehingga keberlanjutan sistem tetap terjaga.

Dalam kesempatan itu Dosen pembimbing ITPLN, Andi Makkulau, ST., M.Ikom., MT, mengatakan inovasi mahasiswa tidak hanya dinilai dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari dampak nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Menurutnya, pendekatan pembelajaran berbasis riset menjadi salah satu cara membentuk lulusan yang mampu menjawab tantangan transisi energi nasional.

“Atas karya inovasi PLMH Surya–Angin menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi yang aplikatif. Inovasi seperti ini sangat penting untuk mendukung pemerataan akses listrik sekaligus mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia,” jelas Andi Makkulau, mengakhiri. © RED/RAMADHAN ALDIANSYAH/ EDITOR : GOES

Related posts

Polda Bali Buru Pelaku Pembunuhan Pedagang Lawar di Klungkung

Bersama Kemensos, MATA dan PT Basik Gelar Lomba serta Pameran Fotografi Nasional ‘Sekolah Rakyat’

Wagub Bali: Opsi Regrouping Sekolah Sepi Peminat di Tahun 2026