JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Kasus teror ledakan yang terjadi pekan lalu di SMAN 72 Jakarta Utara (Jakut) masih menyisakan duka mendalam bagi kita semua. Terlebih lagi dengan adanya 96 orang yang menjadi korban luka-luka akibat dari peristiwa tersebut.
Oleh karenanya, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ‘Poros Rawamangun‘ Rudy Darmawanto SH, tak tinggal diam untuk menyoroti. Bahkan menyebutkan bahwa peristiwa teror itu terjadi karena lemahnya pengawasan di sekolah oleh jajaran Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta.
“Sebab, pemerintah bersama kepala sekolah dan orangtua wajib menjaga keamanan kawasan sekolah secara serius. Jika kita menyoroti akibat lemahnya sekolah, baik itu dalam pencegahan maupun antisipasi gangguan keamanan, seperti ledakan itu kan bagus- bagus saja,” kata Rudy dalam keterangannya kepada POSBERITAKOTA.COM dan SUARAKARYA.ID di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Masih menurut Rudy lagi bahwa dirinya juga mencermati peristiwa itu terjadi, karena diduga tidak adanya supervisi terhadap pembinaan siswa dan pendidikan di sekolah meski SMAN 72 Jakarta Utara sebagai sekolah negeri. Namun realitasnya di lingkungan sekolah tersebut malah rentan terjadinya pem-bully-an di kalangan peserta didik.
“Bukan hanya itu saja. Dari sumber di internal Diknas, ternyata tindakan bully membully juga terjadi di lingkungan Diknas. Bahkan jadi menjadi perilaku umum atas kepemimpinan Kadisdik Nahdiana selama ini,” urai Rudy, apa adanya.
Pada bagian lain lagi, ditambahkan Rudy, pihaknya mendapatkan informasi bahwa Kadisdik Nahdiana, disinyalir melakukan perilaku membentak, marah-marah yang tidak jelas, menuduh serta mempermalukan staf di depan umum. Malah kejadian itu pernah dialami oleh awak media nasional di depan awak media lainnya saat mereka mempertanyakan masalah SPMB 2025 lalu.
“Jadi, kasus bully inilah yang diduga memicu seseorang siswa SMAN 72 Jakarta Utara melakukan teror bom terhadap teman-teman di sekolahnya,” bebernya.
Padahal, dijelaskan Rudy, sebenarnya peristiwa tersebut tidak bakal terjadi, jika pihak Diknas selalu melakukan supervisi menyeluruh terhadap keberadaan siswa dan sekolah. Dimana tujuannya agar tidak terulang kembali peristiwa semacam itu. Namun tentunya juga harus sejalan dengan kepemimpinan Kadisdiknya.
“Apabila Kadisdiknya tukang bully, dan dia juga dianggap sebagai guru atau pengajar, maka pastinya menjadi contoh yang tidak baik bagi siswa-siswanya di semua sekolah,” ungkapnya.
Diharapkan Rudy bahwa guna mencegah agar tidak terulang kembali kejadian buly membuly di SMAN 72 Jakarta Utara yang memicu terjadinya malapetaka meledaknya bom rakitan itu dan tidak menutup kemungkinan bisa terjadi di sekolah lainnya, maka pihaknya mendesak adanya evaluasi total terhadap kinerja penyelenggaraan pendidikan di berbagai sekolah di Jakarta. Kenapa? Karena hal itu tidak terlepas dari kinerja dari Disdik Provinsi DKI Jakarta.
“Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung harus melakukan evaluasi terhadap penempatan seseorang dalam jabatan tertentu. Lebih lagi menyangkut jabatan di dunia pendidikan, khususnya posisi Kadisdik DKI Nahdiana yang sekarang,” desak Rudy. © RED/AGUS SANTOSA

