OLEH : TAUFAN HIDAYAT
AL-QUR’AN bukan sekadar kitab yang dibaca saat senggang, tetapi petunjuk hidup yang menuntun setiap langkah manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat. Namun, realitas hari ini menunjukkan banyak hati yang menjauh darinya.
Aduan Nabi ﷺ menjadi cermin yang menyentuh, mengingatkan bahwa keterasingan Al-Qur’an dalam hidup adalah awal dari kegelisahan dan hilangnya keberkahan.
Ditengah gemerlap dunia yang memikat, manusia sering lupa bahwa cahaya sejati bukanlah pada kilauan materi, tetapi pada petunjuk ilahi yang diturunkan melalui Al-Qur’an. Allah Ta’ala mengabadikan sebuah aduan yang sangat menyayat hati dalam firman-Nya:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Artinya: “Berkatalah Rasul: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan: 30).
Ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin bagi umat hari ini. Betapa banyak di antara kita yang memiliki mushaf, tetapi jarang membacanya, apalagi mentadabburinya.
Mengabaikan Al-Qur’an tidak hanya berarti tidak membacanya. Ia juga mencakup tidak mendengarkan dengan khusyuk, tidak memahami maknanya, dan yang lebih dalam lagi, tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Ketika hukum Allah SWT digantikan oleh hawa nafsu, ketika nilai Al-Qur’an ditukar dengan standar dunia, saat itulah hakikat “mahjura” (ditinggalkan) benar-benar terjadi. Hati menjadi keras, hidup terasa sempit, dan keberkahan perlahan menghilang tanpa disadari.
Padahal, Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang gelisah. Allah SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82).
Betapa banyak manusia mencari ketenangan melalui berbagai cara, namun melupakan sumber ketenangan yang paling hakiki. Al-Qur’an bukan hanya memberi solusi, tetapi juga menenangkan jiwa, meneguhkan iman, dan membimbing akal agar tetap lurus.
Rasulullah SAW ﷺ juga memberikan peringatan yang kuat melalui sabdanya:
إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Al-Qur’an, seperti rumah yang runtuh.” (HR. Tirmidzi).
Gambaran ini begitu jelas: hati tanpa Al-Qur’an adalah hati yang kosong, rapuh, dan mudah diserang oleh syubhat serta syahwat.
Sebaliknya, orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW ﷺ bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Artinya: “Akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: bacalah, naiklah, dan tartilkan sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena kedudukanmu sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Ini adalah janji kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh apa pun di dunia.
Kembali kepada Al-Qur’an bukan berarti harus langsung memahami semuanya, tetapi dimulai dari langkah kecil yang istiqamah: membaca setiap hari, walau hanya beberapa ayat, lalu berusaha memahami maknanya, dan perlahan mengamalkannya dalam kehidupan. Ketika Al-Qur’an menjadi teman harian, ia akan menjadi cahaya dalam keputusan, penyejuk dalam kesedihan, dan penuntun dalam kebingungan.
Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup adalah bentuk jihad yang nyata. Ia menuntut kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan. Namun, hasilnya adalah ketenangan yang tidak bisa dibeli, keberkahan yang tidak terlihat namun terasa serta kedekatan dengan Allah yang menjadi tujuan tertinggi seorang hamba.
Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah Al-Qur’an benar-benar hidup dalam hati kita, atau hanya menjadi hiasan di rak rumah? Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang diadukan oleh Nabi ﷺ.
Jadikanlah hari ini sebagai titik balik, untuk kembali membuka mushaf, membaca dengan hati, memahami dengan akal, dan mengamalkan dengan penuh kesadaran. Karena sejatinya, kemuliaan umat ini terletak pada sejauh mana ia memuliakan Al-Qur’an dalam hidupnya. (***/goes)
(PENULIS : TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Keagamaan dan Kehidupan, kini tinggal di Jakarta)

