BALI (POSBERITAKOTA) – Cuaca buruk di perairan Selat Bali mengganggu jalur logistik Jawa-Bali selama tiga hari terakhir. Angin kencang dan hujan ekstrem menyebabkan operasional kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk turun drastis, memicu antrean kendaraan.
Penurunan operasional mencapai 43 persen dari kondisi normal. General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko, menjelaskan hal ini. Kondisi cuaca ekstrem memengaruhi olah gerak kapal. Keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama operator.
Operator pelayaran terpaksa melakukan penyesuaian jadwal. Ini dilakukan demi menjamin keselamatan penumpang dan awak. Angin kencang dan hujan deras menjadi penyebab utama. Perairan di Pelabuhan Ketapang sangat terdampak.
“Dari sisi armada semuanya berfungsi normal,” kata Arief Eko pada Jumat, 22 Mei 2026. “Namun, tiga hari terakhir kondisi cuaca berupa angin kencang dan hujan memengaruhi kondisi perairan di Pelabuhan Ketapang.”
Kapal mengalami keterlambatan saat sandar dan berlayar. Nahkoda harus memperhitungkan arus laut serta gelombang. Faktor keselamatan lainnya juga menjadi pertimbangan penting. Ini memperlambat proses penyeberangan.
Jumlah perjalanan kapal logistik turun signifikan. Dari 70 trip, kini hanya sekitar 40 trip. Penurunan ini terjadi di dermaga LCM dan dermaga IV. Dermaga ini melayani angkutan logistik utama. Kondisi ini berdampak langsung pada rantai pasok Jawa-Bali.
Antrean kendaraan barang terlihat di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Meskipun demikian, ASDP menyebut peningkatan arus tidak signifikan. Antrean saat ini jauh di bawah situasi angkutan Lebaran. ASDP mengambil langkah antisipasi.
ASDP mengurai kepadatan dengan memaksimalkan kantong parkir Bulusan. Kantong parkir ini mampu menampung hingga 400 kendaraan besar. Truk dan kendaraan logistik diarahkan masuk ke area tersebut. Mereka menunggu giliran sebelum menuju pelabuhan.
Kendaraan kecil dan sepeda motor tetap langsung masuk pelabuhan. Mereka diperbolehkan segera menyeberang. ASDP terus berkoordinasi dengan BMKG. Pihak terkait juga dilibatkan dalam pemantauan cuaca. Pengaturan operasional penyeberangan dilakukan berkala.
Arief Eko berharap kondisi cuaca membaik. Terutama pada Jumat, 22 Mei 2026. Cuaca yang kondusif dapat mempercepat normalisasi operasional. Ini berlaku untuk lintasan Ketapang-Gilimanuk.
“Alhamdulillah hari ini cuaca bagus,” pungkas Arief Eko. “Semoga segera bisa mengurai antrean kendaraan.”
Kondisi cuaca ekstrem memang menjadi tantangan besar. Gangguan pada lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ini mempengaruhi kelancaran distribusi barang. Pemulihan operasional vital bagi kelancaran logistik Jawa-Bali. Semua pihak berharap kondisi segera normal kembali. ® RED/BALI 01

