BALI (POSBERITAKOTA) – Sebanyak 68 kejadian gempa bumi Bali dan sekitarnya tercatat pada minggu pertama Juni 2026. Stasiun Geofisika Denpasar melaporkan, guncangan ini didominasi gempa dangkal dan tidak dirasakan masyarakat.
Muhammad Azany Harits, Ahli Pertama Stasiun Geofisika Denpasar, menjelaskan detail aktivitas kegempaan tersebut. Puluhan gempa ini memiliki magnitudo bervariasi. Rentang magnitudo tercatat mulai dari 1.3 hingga 4.1.
Mayoritas gempa memiliki magnitudo kecil. Sebanyak 61 kejadian atau 89 persen bermagnitudo kurang dari 3. Tujuh kejadian lain bermagnitudo antara 3 hingga kurang dari 5.
Tidak ada peristiwa gempa dengan magnitudo di atas 5 yang tercatat. Kondisi ini menjadi faktor utama. Hal tersebut menyebabkan guncangan tidak terasa oleh warga.
Berdasarkan kedalaman, 77 persen kejadian gempa kurang dari 60 km. Ini berarti 53 kejadian merupakan gempa dangkal. Gempa dangkal cenderung tidak merusak jika magnitudo kecil.
Terdapat 13 kejadian gempa dengan kedalaman menengah. Kedalaman menengah ini berkisar antara 60 hingga 300 km. Dua kejadian sisanya merupakan gempa dalam.
Aktivitas seismik ini berasosiasi dengan subduksi Indo Australia-Eurasia. Sebanyak 37 kejadian melanda selatan Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika lempeng tektonik.
Sebanyak 31 kejadian gempa lainnya menyebar di wilayah Pulau Bali, Lombok, dan sekitarnya. Kejadian ini berkaitan dengan sesar di belakang busur Flores. Aktivitas sesar aktif juga turut berperan dalam peristiwa ini.
Stasiun Geofisika Denpasar menegaskan bahwa selama periode tersebut tidak ada guncangan yang dirasakan. Masyarakat di Bali dan wilayah sekitarnya tetap beraktivitas normal. Informasi ini penting untuk menjaga ketenangan publik.
“Puluhan gempa bumi kembali mengguncang Bali dan wilayah sekitarnya sepanjang minggu pertama Juni 2026,” ujar Muhammad Azany Harits. “Namun tidak dirasakan masyarakat karena didominasi gempa dangkal.”
Data dari Stasiun Geofisika Denpasar menunjukkan frekuensi aktivitas gempa bumi Bali yang tinggi. Namun, dampaknya minim dan tidak menimbulkan kepanikan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi. ® RED/BALI 01

