BALI (POSBERITAKOTA) – Aliansi FRONTIER Bali menggelar aksi simbolik bertajuk “Grubug Agung” di Denpasar pada Senin, 6 Juni 2026. Aksi ini memprotes kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat dan lingkungan hidup.
Aksi FRONTIER Bali tersebut berlangsung di depan Monumen Bajra Sandhi, Renon, mulai pukul 10.00 WITA. Massa aksi menyoroti memburuknya perekonomian, lonjakan harga kebutuhan pokok, serta kerusakan ekologis yang terjadi.
Dalam unjuk rasa itu, ditampilkan teatrikal yang menggambarkan keluhan pedagang dan konsumen. Mereka mengeluhkan kenaikan harga akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Aksi diakhiri dengan simbol penyiraman air keras sebagai gambaran tindakan represif terhadap aspirasi rakyat.
Sekjen FRONTIER Bali, I Wayan Satya Tirtayasa, menjelaskan makna aksi tersebut. “Jadi yang Grubug Agung yang diangkat hari ini adalah situasi negara dan Pulau Dewata hari ini yang tidak baik-baik saja,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan pemerintah saat ini tidak berpihak pada rakyat dan lingkungan.
Massa juga memukul kulkul bulus sebagai tanda bahaya. Pemukulan kentongan dalam tradisi Bali ini menyimbolkan kondisi demokrasi yang dianggap amburadul dan tidak sedang baik-baik saja. Demonstrasi ini merupakan gabungan dari FRONTIER Bali, Walhi Bali, dan Kekal Bali.
Aliansi menyatakan tidak menyerahkan tuntutan resmi ke kantor pemerintah. Protes ini sengaja digelar sebagai aksi simbolik untuk menguji kepekaan para pengambil kebijakan. Aksi FRONTIER Bali ini diharapkan dapat didengar oleh pemerintah tanpa harus menyampaikan tuntutan secara langsung. ® RED/BALI 01 /EDITOR : GOES

