JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Sugiyanto alias SGY Emik yang dikenal sebagai Aktivis Jakarta dan sekaligus Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), mengungkapkan bahwa percepatan pembangunan Jakarta menuju Kota Global tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik saja.
Namun ada hal lain yang tak kalah pentingnya. Apa itu? Menurut SGY yaknin peningkatan kualitas layanan air bersih, sanitasi, lingkungan, transportasi, inovasi, hingga sumber daya manusia (SDM) – dimana menjadi faktor utama agar Jakarta mampu menembus 50 besar Kota Global pada tahun 2030 mendatang.
Pemikiran dan pandangan tersebut di atas, disampaikan SGY dalam bincang-bincang Serius Tapi Santai Aktivis Jakarta Tentang Jakarta Menuju Kota Global bertema : “Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global” di Balaikota Pemprov DKI Jakarta yang digelar Forum Lintas Aktivis Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Lebih jauh SGY juga menjelaskan bahwa konsep Jakarta sebagai Kota Global memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ).
“Pembangunan Jakarta menuju Kota Global tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan para aktivis Jakarta,” tambahnya.
Bahkan dalam beleid tersebut, Jakarta ditetapkan sebagai pusat perekonomian nasional sekaligus Kota Global yang kemudian diperkuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menuju Indonesia Emas 2045.

“Status Kota Global diukur melalui berbagai indikator internasional. Mulai dari kualitas transportasi, lingkungan, tata kelola pemerintahan, daya saing ekonomi, inovasi hingga kualitas hidup masyarakat,” imbuh pria yang aktif sebagai pengamat kebijakan publik dan pemerintahan tersebut.
Untuk saat ini, menurutnya lagi, posisi Jakarta masih berada di kisaran peringkat ke-71 dalam salah satu indeks Kota Global sehingga membutuhkan percepatan pembangunan di berbagai sektor. Lalu, SGY juga menilai target layanan air bersih 100 persen yang tercantum dalam RPJMD DKI Jakarta 2025–2029 menjadi salah satu indikator penting menuju Kota Global.
Pada bagian lain, SGY tak lupa berpesan ihwal pengendalian emisi, peningkatan sanitasi, pengelolaan sampah berbasis energi, serta transformasi teknologi juga menjadi aspek yang harus dipenuhi oleh Pemprov DKI Jakarta.
“Jadi, persoalan Kota Global bukan hanya soal gedung-gedung tinggi atau pembangunan fisik saja. Tetapi, juga mencakup banyak aspek yang saling berkaitan. Seluruh organisasi perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat harus bergerak bersama,” tuturnya, panjang lebar.
Tak hanya SGY sebagai pembicara. Diskusi santai ini juga menghadirkan narasumber, Direktur Utama PT PAM Jaya (Perseroda), Arief Nasrudin hingga Staff Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim. Sedangkan Syaiful Jihad tampil sebagai moderator.

Dikatakan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, pembangunan Jakarta sebagai Kota Global harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Selain itu, dirinya juga memastikan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjadikan peningkatan akses pendidikan sebagai prioritas. Yakni di antaranya melalui perluasan penerima manfaat Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), hingga penguatan program beasiswa.
“Sebab, Jakarta kini tidak lagi bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia, melainkan harus mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia,” kata Chico.
Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta, Matsani menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong peran aktif kelompok masyarakat sipil dan organisasi kemasyarakatan untuk ikut mengawal transformasi Jakarta menuju kota global. Aktivis dinilai memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadirkan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
Matsani mengatakan bahwa Jakarta saat ini berada dalam fase transformasi strategis setelah tidak lagi menjadi ibu kota negara. Perubahan tersebut, kata dia, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar Jakarta tetap menjadi kota yang kompetitif, modern, dan memiliki karakter kuat.
“Jakarta saat ini tengah berada pada fase transformasi yang sangat strategis sebagai kota yang terus berkembang menuju Kota Global. Jakarta tidak hanya harus unggul dalam pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga memiliki masyarakat yang inklusif, partisipatif, dan berdaya,” urai Matsani.

Menurut dia lagi, aktivis dan organisasi kemasyarakatan merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan aspirasi masyarakat secara konstruktif. Kehadiran kelompok masyarakat sipil juga dinilai penting untuk memperkuat partisipasi publik, menjaga nilai persatuan, serta mengawal kebijakan agar berjalan transparan dan berpihak kepada kepentingan warga.
Kemudian, Matsani menegaskan tekait cita-cita menjadikan Jakarta sebagai Kota Global tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas hingga para aktivis untuk membangun ekosistem kota yang maju.
Begitu pula yang diungkapkan Ketua Panitia, Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta, Cecep Sulaeman. Ia mengatakan para aktivis memiliki pemahaman yang dekat dengan berbagai persoalan masyarakat karena selama ini terlibat langsung dalam dinamika sosial di Jakarta.
Masih menurut Cecep, forum tersebut menjadi momentum untuk membedah berbagai persoalan Jakarta sekaligus merumuskan gagasan yang dapat mendukung perubahan kota menuju arah yang lebih baik.
Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada Bakesbangpol DKI Jakarta dan sejumlah pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Cecep berharap diskusi antara aktivis dapat menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi pembangunan Jakarta.
“Semoga kegiatan ini menjadi momentum yang baik untuk kita semua dalam membedah persoalan Jakarta dan memberikan masukan agar Jakarta bisa menjadi kota yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara Direktur Utama (Dirut) PAM Jaya (Perseroda), Arief Nasrudin, mengungkapkan cakupan layanan air minum perpipaan di Jakarta telah mencapai 82 persen. Bahkan, capaian itu setara sekitar 1,2 juta sambungan rumah atau hampir 9 juta penduduk yang telah menikmati layanan air bersih.
Ditambahkan Arief soal peningkatan tersebut tidak lepas dari dukungan penuh Pemprov DKI Jakarta, mulai dari percepatan proses perizinan hingga penguatan regulasi yang mempercepat pembangunan jaringan perpipaan.
“Apalagi dukungannya bukan hanya sekadar dukungan bicara. Tetapi juga dukungan aturan dan berbagai bentuk dukungan lainnya. Pada akhirnya semangatnya menjadi sama,” ungkapnya.
Karena itu lupa, Arief mengaku optimistis adanya kolaborasi tersebut. Karena hal itu akan mempercepat pencapaian target layanan air bersih bagi seluruh warga Jakarta.
“Sekarang ini saja cakupannya sudah 82 persen, setara dengan sekitar 1,2 juta sambungan rumah. Namun kalau jumlah jiwa yang kami layani sudah hampir 9 juta orang,” tutup Arief. ® RED/AGUS SANTOSA

