Jalan Kaki, KAKEK SOLEH Jajakan Es Krim Sampai Puluhan Kilometer

JAKARTA (POSBERITAKOTA) □ TRENYUH melihat kakek-kakek tiap hari harus membanting tulang, berjalan kaki puluhan kilometer hanya demi menjajakan es krim dari rumah ke rumah warga. Pendapatannya yang sangat minim, membuat keluarga Mohammad Soleh (66) yang tinggal di kontrakan rumah petak Gang F Nomor 15 RT 12 RW 06 Kelurahan Karanganyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, terpaksa berhemat makan.

Di Ibukota Jakarta yang banyak dihuni orang kaya ‘tajir melintir’, namun sebaliknya tak sedikit orang ‘melarat sekarat’ yang terabaikan dari jaring pengaman sosial dari Pemerintah. Melihat sosok Kakek Soleh yang selama puluhan tahun hanya makan nasi sekali atau dua kali setiap harinya, menunjukkan ketimpangan sosial yang sangat parah di tengah gemerlapnya kemewahan kota Jakarta.

“Yaaah, beginilah hidup keluarga saya yang tiap hari hanya makan sekali atau dua kali. Beda kalau orang kaya, sehari makannya minimal tiga kali,” tutur Soleh, Minggu (10/6).

Selama puluhan tahun sebagai pedagang es krim, ia hampir saban hari keliling menjajakan dagangan di Komplek Angkasa Pura, Kelurahan Gunung Sahari Utara dan sekitarnya yang jaraknya cukup jauh jika diukur dengan jalan kaki.

Selain jumlah makan yang kurang, lauknya pun cuma tahu, tempe atau paling banter telur ayam. “Kami tidak pernah makan tiga kali sehari, karena ndak punya uang,” ujar Soleh yang tiap hari dari pagi sampai jelang malam, berjalan kaki hingga berpuluh-puluh kilometer sambil berteriak ‘Es krim Woody!’

Menurutnya kalau lagi mujur, dagangannya ludes, maka dia dapat keuntungan sekitar Rp 75 ribu untuk dipakai kebutuhan hidup Soleh dan Rohyati (istri) serta anak semata wayang yakni pemuda pengangguran bernama M Ridwan.

Menjadi pedagang asongan es krim sejak 40 tahun lalu, Soleh mengaku keberuntungannya terpengaruh oleh cuaca. “Kalau musim kemarau dagangan laris, tapi kalau sering hujan dagangan sepi sekali. Berarti kami hanya makan sekali dalam sehari. Kalau lapar ya ditahan, lama-lama jadi biasa,” kata Soleh yang mengais rezeki dengan cara halal dan mulia.

Baca Juga:  Dipasangi 25 CCTV, TERMINAL KALIDERES Dijaga 100 Petugas Gabungan Layani Pemudik

Di tengah kemiskinannya yang mendera, kakek berperawakan kecil kurus ini tak mau menjadi tukang minta-minta. “Hidup susah ndak apa-apa, yang penting ndak jadi pengemis,” tambah lelaki renta yang tiap hari berjalan kaki sambil menggendong kotak es yang cukup berat.

Sebagai warga DKI Jakarta, Soleh dan keluarga juga memiliki KTP DKI. Namun selama ini dia termasuk keluarga miskin yang tidak menikmati program sosial dari Pemprov DKI. Dia sangat berharap anaknya yang berusia 20 tahun dapat diterima sebagai pegawai harian lepas (PHL) Pemprov DKI agar kehidupannya lebih baik.

“Selama ini, hidup kami hanya tergantung pada jualan es krim,” ungkap Soleh yang tiap bulan harus menyisihkan Rp 450 ribu buat bayar sewa kontrakan di rumah kost Pak Asep. Sedang Soleh membeli dagangan dari pasar swalayan dengan modal sekitar Rp 250 ribu.

“Jujur, saya sering ketakutan kalau dagangan sepi. Kami mau makan apa dan tinggal di mana,” ujar Soleh yang pernah merasakan hidupnya lebih terpuruk dibanding sekarang.

“Dulu, saya ndak bisa bayar sewa kontrakan. Terpaksa sering tidur di emperan rumah orang,” tambah Soleh yang tinggal di rumah petak Gang F milik Asep sejak empat tahun terakhir.

Tiap hari dia menabung minimal Rp 10 ribu untuk bayar sewa rumah kontrakan atau kost. Perlu diketahui berita ini dibuat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan dengan tujuan untuk mengetuk hati nurani para dermawan. Alangkah baiknya di bulan suci ini, para dermawan mengunjungi rumahnya atau menemui di lokasi berjualan untuk memberikan bantuan. ■ RED/JOKO/GOES

Beri Tanggapan