Di Malam Tahun Baru, KAWASAN MABES KOTA Tak Bakal Semarak Era 90-an

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Bagi penikmat hiburan di Ibukota Jakarta, rasanya tak mungkin kalau tak mengenal kawasan Mangga Besar (Mabes) Kota. Sederet fasilitas hiburan siap memanjakan pengunjungnya. Baik untuk bersantai menikmati beragam hiburan, minum-minuman keras maupun bisnis ‘esekesek‘ ilegal.

Bagaimana jelang perayaan tutup tahun atau pesta Malam Tahun Baru 2019, pada Senin (31/12) mendatang? Dari pemantauan POSBERITAKOTA selama dua pekan belakangan dan menemui sejumlah pengelola tempat hiburan, nampak terkesan kurang menggeliat. Kondisinya tak seperti di era 90-an.

Sejumlah tempat hiburan mulai dari diskotek, pub, singing hall, rumah karaoke, massage, live musik dangdut, justru belum punya acara spesial. Mereka menegaskan hanya tetap beroperasi saja. Tapi, jika bikin acara spesial, belum tentu laku dengan cara menjual tiket masuk.

“Berbeda di era 90-an, kita jual tiket atau tabel untuk pengunjung, dua minggu malah sudah habis dipesan. Sekarang? Belum tentu ada yang mau beli,” ujar Par, manajer tempat hiburan musik live dangdut di Jalan Mangga Besar VIII, Jakarta Barat.

Menurutnya, pengunjung sekarang berbeda. Mereka harus dimanjakan, gratis bayar tiket masuk dan pembelian minuman pun menolak jika diminta beli per paket. Dulu, dijual paket minuman 10 botol bir dan dapat gratis 3 botol, masih mau.

Sekarang? “Mereka sepertinya nggak mau seperti itu lagi. Jika dibuat event atau bigshow dengan menampilkan artis ternama, belum tentu bisa ketutup sama penjualan minuman,” tutur pria yang sudah malang melintang di dunia hiburan malam sejak tahun 90-an itu.

Hal senada juga dipaparkan AW, manajer pub di Jalan Labu, Kota, Jakarta Barat. Meski nantinya menggelar acara hiburan spesial, tetap tidak menjual tabel. Penyanyi yang ditampilkan juga dari artis biasa saja. Tapi bisa dua atau tiga artis bergantian.

“Pokoknya, beda banget dengan era 20 tahunan lalu. Sekarang saja, pengunjung kita pancing dengan hadiah. Jika cash minuman di atas Rp 500 ribu atau Rp 1 juta, bisa dapat kupon. Nanti diundi dan bisa dapat hadiah barang-barang elektronik,” tutur pria yang juga merangkap MC tersebut.

Pemerhati hiburan malam, Jokwal, mengakui kalau geliat dunia malam di kawasan Mabes Kota saat ini, tak lagi menggeliat. Mungkin, katanya, karena mayoritas sudah terimbas karena penggunaan Narkoba. Jadi, kalau untuk nonton show, justru tak diminati lagi.

“Duit mereka sudah habis buat beli Narkoba. Makanya, untuk beli minuman atau beli tiket hiburan, mereka tak mau boros,” tegas pria setengah baya yang sampai sekarang masih keliling diskotek itu.

Para pemilik diskotek saat ini, menurut pengamatan Jokwal, sudah tak berani ambil risiko. Misalkan bikin acara, sudah mengeluarkan dana besar, tapi pengunjung baru berdatangan justru pada dinihari. Sedang saat ada show, mereka tak mau datang.

Yang agak lumayan ramai, justru pub-pub kecil yang juga menyediakan ruang massage sebagai prostitusi terselubung. Cukup mengeluarkan kocek Rp 300 ribu, justru sudah bisa melakukan kencan. Praktek semacam itu justru menjamur di kawasan Mabes Kota, Jakarta Barat. ■ RED/TIM PBK/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here