Dihadiri 2000 Apoteker, IAI Gelar Rakernas & PIT 2019 di Bandung

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Indonedia, negara yang sudah cukup lama merdeka, ternyata hingga kini belum punya UU tentang farmasi. Selain itu jenis obat keras yang seharusnya dijual berdasarkan resep dokter kini bisa dibeli bebas oleh masyarakat luas melalui toko online sehingga perlu penanganan dari pemerintah.

Dua pokok masalah itulah yang akan menjadi salah satu topik bahasan pada rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) 2019 yang akan diselenggarakan di kota Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 12 sampai 15 Maret. Kegiatan yang akan dihadiri lebih dari 2.000 apoteker dari berbagai penjuru Tanah Air diagendakan dibuka oleh Menteri Kesehatan RI Nila Juwita Moeloek.

Ketua Pengurus Pusat IAI Drs Nurul Falah Eddy Pariang, Apt mengatakan sebenarnya banyak sekali masalah yang akan dibahas dalam rakernas tersebut. “Namun yang paling urgen adalah soal Rancangan UU tentang farmasi yang akan kami sampaikan kepada pemerintah. Sungguh memprihatinkan negara sebesar ini belum punya UU tersebut. Padahal, obat-obatan itu sebenarnya bisa menjadi racun dan membahayakan penggunanya, jika tidak diawasi ahlinya yakni apoteker,” ujarnya di kantor pusat IAI kawasan Tomang, Jakarta Barat, Jumat (8/3).

Selain itu peredaran obat-obatan keras yang begitu bebas di lapak online juga menjadi sorotan pada rakernas. “Banyak obat keras seperti obat kuat pria, penggugur kandungan, dan lainnya dijual bebas secara online, tanpa resep dokter sehingga cukup membahayakan masyarakat. Ini sebagai salah satu risiko dari era digitalisasi,” ujar Nurul didampingi Ketua Panitia Rakernas dan PIT 2019, Drs Sutrisno Untoro, Apt dan Seksi Publikasi Dra Tresnawati, Apt.

Baca Juga:  Demi Pemilu Aman & Damai, POLRES-KODIM 0602 SERANG Gelar Forum Silaturahmi Kamtibmas

Nurul menambahkan pihaknya juga akan membahas soal kode etik apoteker. “Banyak apotek yang memajang nama apoteker jaga, tapi itu hanya formalitas saja karena apoteker yang dimaksud hampir tak pernah jaga di apotek tersebut. Nah, apoteker yang melanggar kode etik tersebut harus ditertibkan demi melindungi masyarakat konsumen,” tandas Nurul sambil menambahkan rakernas dan PIT digelar rutin tiap tahun untuk memberi sumbangsih kepada pemerintah dan masyarakat tentang kefarmasian.

Sutrisno menambahkan rakernas yang digelar di Bandung selama empat hari mengambil tema ‘Enhancing Public Access to Pharmacists in Digital Era’ bertujuan untuk memberi nasihat kepada masyarakat.

“Kegiatan ini juga akan dihadiri pakar apoteker dari sejumlah negara India, Pakistan, Malaysia, Singapura, dan lainnya. Selain itu juga diadakan teleconference di beberapa negara,” tambahnya. Kegiatan diikuti ribuan apoteker mulai dari pemula sampai pakar. ■ RED/JOKO/G

Beri Tanggapan