Peringati 25 Tahun Sister City Jakarta-Berlin, PEMPROV DKI Gelar Lokakarya Ramah Disabilitas

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, membuka lokakarya (workshop) sister city Jakarta-Berlin di gedung Balaikota. Kegiatan bertema ‘Pertukaran Informasi yang berkelanjutan tentang Peluang Pendidikan dan Peningkatan Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam dan/atau dengan Masyarakat Sipil di Jakarta dan Berlin’.

Lokakarya ini sebagai tindak lanjut dari peringatan 25 tahun hubungan sister city antara Jakarta-Berlin. Lokakarya tersebut dihadiri dan diisi oleh Deputy Head of Mission, Embassy of the Federal Republic of Germany untuk Republik Indonesia, Mr. Hendrik Barkling; Prof. dr. Michael Wahl, Kepala Institut Ilmu Seni dan Ilmu Sosial dari Humbolt University; dan Ibu Irdanelly. DJ. SE, Ketua Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin); serta perwakilan dari Kementerian Sosial RI, Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia, serta Kementerian Ketenagakerjaan RI.

“Bila sebuah kota bisa ramah kepada penyandang disabilitas, ramah kepada anak usia dini, ramah kepada lansia, maka otomatis kota itu akan ramah kepada semuanya,” ujar Anies, Selasa (3/9).

Ia berharap lokakarya ini benar-benar nantinya berorientasi pada langkah-langkah yang bisa mengubah kebiasaan untuk lebih peduli pada yang lemah.

Anies juga menjelaskan bahwa perumusan kebijakan ramah anak, orang tua dan penyandang disabilitas harus dimulai dari perubahan mindset (perspektif) yang berorientasi pada kesetaraan kesempatan.

“Fungsi dari Pemprov DKI Jakarta bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi pembuat aturan. Seluruh aturan harus ditinjau kembali agar bisa mengikuti prinsip kesetaraan, mulai dari fasilitas infrastruktur keras (jalan, gedung, dan alat transportasi), sampai dengan infrastruktur lunak, seperti kesetaraan dan kesempatan belajar maupun berusaha,” kata Anies.

Baca Juga:  Dilaksanakan di Kota Salatiga, INKOPTI Sukses Gelar RAT Luar Biasa

Peraturan Gubernur pertama Nomor 1 Tahun 2018 itu adalah soal menyetarakan kesempatan. “Setiap Pemprov DKI Jakarta melakukan rekrutmen, maka kita berkewajiban untuk memberikan persentase kepada penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan di Pemprov DKI Jakarta. Tujuannya, lagi-lagi, adalah menyamakan. Dan bila kita menyaksikan teman-teman penyandang disabilitas bekerja dan berkarya, maka mereka berkarya juga dengan amat baik. Bahkan kalau melihat apa yang mereka kerjakan seringkali justru melampui saudara-saudaranya yang tidak memiliki kebutuhan khusus,” ungkap Gubernur.

Perlu diketahui, kegiatan lokakarya ini merupakan pertukaran informasi antara Jerman dan Jakarta. Diharapkan menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang ramah bagi penyandang disabilitas. Anies berharap, seluruh peserta maupun pemateri yang hadir dalam lokakarya dapat memberikan ide, terobosan, pengalaman, dan alternatif solusi konkret yang bisa dilakukan bersama secara berkelanjutan.

“Bagi kami yang berseragam, pesan saya untuk mengikuti workshop ini, jangan close-minded. Kalau kita bisa open-minded dan menerima ide, insya Allah Jakarta akan menjadi kota yang ramah bagi penyandang disabilitas, ramah bagi anak-anak, ramah bagi lansia, dengan begitu ramah bagi semuanya,” tutup Anies. ■ RED/JOKO S/G

Beri Tanggapan