Karya Novelis Inggris, FILM GREYHOUND Beri Pelajaran Baik Khusus di Area Pertempuran Laut

CATATAN : GUNAWAN WIBISONO

GREYHOUND (GR) itu diangkat berdasarkan novel ‘The Good Shepherd’ (1955) karangan C.S. Forester, seorang novelis Inggris yang tulisannya mengkhususkan di area pertempuran laut. 

Mirip novelis idola saya, yakn almarhun Tom Clancy, mantan agen asuransi yang banting setir jadi penulis spesialis spy-thriller, “clear and present danger”, “Patriot Game” atau yang fenomenal “The hunt for Red October” yang terus saya baca ulang.

GR dari awal langsung memacu ketegangan. Kisahnya simpel. 37 iring-iringan kapal suplai dari Amerika yang akan memasok ke Inggris dikawal sejumlah kapal perang, harus melintasi samudera Atlantik nan luas dan ganas dimana di bagian tengah area samudera adalah kawasan blank spot- area buta- yang tak bisa awasi pesawat terbang dari atas karena terbatasnya jangkauan radio pesawat.

Nah, di kawasan tak bertuan inilah menanti 4-6 kapal selam Jerman (U-Boat), mereka menyerang secara bergerombol bak kawanan srigala yang siap memangsa domba, makanya disebut wolf pack.

4 kapal pengawal tadi dipimpin oleh kapal dengan sandi: Greyhound yang dikomandani oleh kapten Ernest Krause (diperankan oleh Tom Hanks). Ernest harus menghadapi berbagai manuver, kelicinan dan keberanian kapal selam Jerman yang terkenal karena kebuasannya.

Sebuah tontonan menarik juga menegangkan. Nah, dari kapten Ernest kita banyak belajar tentang leadership. Seorang pemimpin yang baik itu tetap tenang meski berbagai bahaya menghadang, datang silih berganti. Tetap cool. Bila pemimpin panik, apalagi anak buah?

Ia tidak memaki musuhnya, wajahnya sedih tatkala ia melihat hamparan minyak yang terapung di laut karena U-boat yang berhasil ia tenggelamkan. Ia harus mengalahkan musuhnya, sebab musuh juga berusaha membunuhnya. Itulah perang.

Kapten Ernest tidak membentak anak buahnya, ia selalu mengucapkan kata -terima kasih-  kalau dilayani. Kata yang sakti, membuat orang lain merasa dihargai. Ia bahkan menyelipkan kata -thank you- saat berbalas pesan radio! Tauladan yang bagus.

Saat genting datang, BBM dan amunisi menipis dan terpaksa harus melanggar protokol -tidak perlu melakukan manuver zig-zag untuk menghemat bensin – ia membicakannya secara pelan-pelan dengan wakilnya (XO, Executive Officer).

Inilah sikap pemimpin sejati. Anak buah tak boleh tahu kesulitan komandan. Kapasitasnya beda. Anak buah bila tahu keadaan genting, secara naluriah ia akan menceritakan pada rekan lainnya, lalu satu kapal akan tahu semua! Mereka bisa ciut nyali, semangat tempur langsung anjlog dan itu berbahaya!

Di perusahaan pun sama. Bila Anda seorang pemimpin, kesulitan apapun sebaiknya anak buah tidak usah harus tahu. Efeknya akan mengkhawatirkan.

Kapten Ernest juga religius. Bangun dan mau tidur berdoa. Demikian juga saat hendak makan. Ia menyelipkan kartu ayat di dalam kamarnya, Ibrani 13 ayat 8 : “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” Orang relijius -bukan fanatik- itu asyik. Ia tegar, penuh percaya diri dan mantap dalam mengambil keputusan. Tidak ragu, karena ia yakin ada yang menopang, mendukungnya dalam setiap langkah. Ini belajaran berharga.

Apapun kepercayaan yang Anda anut, Anda pasti merasa tenang dan kuat saat mengarungi kehidupan yang bak lombang samudera, turun dan naik. Itu bisa terjadi karena Anda percaya dan yakin ada kekuatan besar tak terlihat yang selalu menjaga Anda. (***/goes)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here