Kajian Subuh di Al-Barokah Kranggan Bekasi, Ustadz AH IBNU RAHMAN : Tumbuhkan Kecintaan Agama Melalui Masjid

BEKASI (POSBERITAKOTA) ■ Salah satu karakteristik ajaran Islam yang menonjol adalah mudah dan memudahkan. Ajaran (syariat) Islam tidak datang untuk mempersulit dan menyempitkan kehidupan manusia. Islam hadir justru menjadi rahmat dan kasih sayang Allah bagi semesta; rahmatan lil ‘alamin

Demikian antara lain dikemukakan AH Ibnu Rahman Al-Bughury S.Hi, menjawab pertanyaan wartawan, seputar fungsi masjid dalam konteks pembinaan generasi muda.

“Masjid harus dikelola oleh orang-orang yang inklusif, berfikir substantif, dan tidak literatif. Konsep inilah yang seharusnya diterapkan di masjid,” ujarnya, setelah tampil sebagai narasumber dalam Kajian Subuh Sabtu Pagi di Masjid Al-Barokah, Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, Sabtu (29/8/2020).

Di era teknologi informasi saat ini, menurut Ibnu Rahman, pemanfaatan new media dan sosial media untuk dakwah sangat penting. Dakwah yang dilakukan di masjid tidak hanya bersifat konvensional. New media dengan berbagai aplikasinya yang maju dan serba digital dapat dimanfaatkan menjadi sarana dakwah.

“Teknologi komunikasi dan informasi sangat dibutuhkan dalam kondisi saat ini sebagai sarana dakwah. Sekarang kecanggihan teknologi internet secepat roket. Tapi kemampuan kita secepat oplet. Agar dakwah berimbang gunakan kendaraan teknologi canggih, jangan oplet. Kalau oplet kapan sampenye,” kelakar Ibnu Rahman, beranalogi.

Ibnu Rahman, sepakat berdakwah gunakan media audio visual, seperti melalui karya film. Nabi Muhammad SAW, kata Ibnu, pernah berdakwah dengan visual. Dimana ketika beliau di Madinah pernah membuat garis di tanah berpasir dengan jarinya untuk menerangkan makna kehidupan manusia.

“Berdasarkan riwayat itu boleh kita berdakwah dengan karya seni film. Namun tetap berpegang pada batasan syar’i-nya. Dakwahnya harus lebih dominan ketimbang hiburannya, serta perlu dikemas lebih menarik,” ujar da’i Sarjana Strata Satu (S1) Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Jakarta, angkatan tahun 2008 ini.

Masjid sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat memiliki peran penting dalam proses perubahan sosial. Oleh karena itu, sarana pendukungnya disesuai kebutuhan banyak orang. “Ada Wi-Fi gratis. Sarana olahraga yang memadai. Ada taman bermain tempat orangtua mengasuh anak balitanya. Ada tempat kongkow ‘ngopi bareng’ dengan view yang cukup nyaman,” saran penulis buku ’Bagi Warisan Sesuai Syariat,’ yang diterbitkan Pusat Kajian dan Terapan (Puskapan) Jakarta, tahun 2018 ini.

Masjid memberi solusi karena adanya para ustadz yang siap melayani konsultasi 24 jam, layaknya dokter menangani pasien. “Dakwah delivery dengan gaya kekinian tanpa menanggalkan muru’ah (kehormatan) seorang ustadz. Insya Allah akan tumbuh kecintaan mereka terhadap agama ini melalui masjid,” kata Ibnu.

Hidupkan Tradisi Keilmuan
Melalui tema kajian “Keutamaan Masjid dan Bagi yang Memakmurkannya,” Ibnu Rahman, menyampaikan, tentang keutamaan fungsi masjid sebagai majelis ilmu, yang melaksanakan berbagai kajian.

Pengajian, menurut Ibnu Rahman, memiliki keutamaan dan keluasan makna. Pengajian merupakan salah satu faktor yang menyebabkan turunnya limpahan ampunan dan rahmat Allah.

“Masjid pusat peribadatan. Tempat menggali ilmu. Pengajian di masjid bertujuan at-taqarrub kepada Allah SWT. Salah satu ulama lulusan masjid, Abu Hurairah (sahabat Nabi Muhammad yang paling banyak meriwayatkan hadits). Beliau tidak punya rumah. Tidurnya saja di serambi masjid. Jadi ulama besar, belajar langsung pada Nabi,” ujar da’i kelahiran Jakarta, 25 April 1977 ini.

Dakwah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis masjid telah diperankan oleh Rasulullah SAW. Di masjid Nabawi Madinah, Nabi berhasil memperbaiki dan mengubah kondisi masyarakat Madinah menjadi masyarakat baru yang maju dari semua sisi.

“Bentuk pemberdayaan yang dilakukan di masjid meliputi pemberdayaan dalam aspek spiritual, aspek sosial (persatuan dan kesetaraan), pendidikan, ekonomi, politik dan pertahanan,” ujar Ibnu Rahman.

Semangat membangun masjid secara fisik, kata Ibnu, harus diikuti semangat memakmurkannya. Jangan sampai aasjid terlihat besar dan megah, tetapi minim dari berbagai kegiatan bersifat membangun rohani masyarakat.

“Makna memakmurkan masjid itu menghidupkan ruh masjid secara spirit. Masjid tidak sekedar tempat sujud, beribadah, dan ber-tawajjuh kepada Allah SWT. Tapi menjadi refleksi kebangkitan, perubahan mindset, transformasi sosial politik, dan kemajuan peradaban manusia,” ujar Ibnu. ■ RED/EDKA/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here