Acuan Survei Setara Institute Tentang ISIS, ‘ANAK MUDA dalam Lingkaran Ekstremisme & Kekerasan’

OLEH : HANNOENG M. NUR

TAHUN 2015 Setara Institute pernah membuat survei tentang ISIS. Sasaran survei adalah para siswa dari 114 sekolah SMU di Jakarta dan Bandung. Hasilnya, sebanyak 75,3% mengaku tahu tentang ISIS, 36,2 responden mengatakan ISIS sebagai kelompok teror yang sadis, 30,2% responden menilai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama dan 16,9% menyatakan ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan agama Islam.

Hasil survei tersebut agak mengejutkan, terutama pada angka 16,9% yang menyatakan ISIS adalah ‘pejuang‘ yang hendak mendirikan negara Islam.

Kata ‘pejuang’ memberikan kesan kekaguman atau simpati. Secara simple, ada keberpihakan di dalam penyebutan kata ‘pejuang’ itu. Kita toh tidak akan menyebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai pejuang, kecuali kita memang memiliki simpati atau keberpihakan kepada mereka. Dengan demikian, maka angka 16,9% yang menyebut ISIS sebagai ‘pejuang‘ adalah persoalan yang amat serius.

Jika kita bicara tentang anak muda, maka akan segera terbayang sekumpulan manusia yang berada dalam rentang umur antara 17 s/d 24 tahun. Mereka telah melewati masa remaja (12-18 tahun), namun masih memiliki tingkat emosi dan nalar yang belum terlalu beranjak jauh dari masa remaja.

Prof. Dr. Singgih Gunarsa mendefinisikan karakteristik anak muda, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidak-stabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

Ke-empat karakteristik di atas menggambarkan dengan jelas, bagaimana jika para anak muda ada yang mengidolakan ISIS atau kelompok-kelompok radikal sejenisnya? Itu terlihat pada point ke 2, 3 dan 4.

Ketidak-stabilan emosi membuat anak muda begitu mudahnya mengagumi sesuatu yang bersifat ‘berbeda’, sehingga mereka merasa lebih keren atau lebih hebat dibandingkan dengan yang lainnya. Pada situasi seperti ini, mereka mudah tersulut emosinya. Maka tak aneh jika kejadian tawuran massal dilakukan di rentang umur mereka. Tawuran pelajar/mahasiswa dan genk motor ada di rentang usia ini. Sehingga tak heran jika ISIS menjadi hero buat mereka, lalu apa yang dilakukan oleh ISIS dianggap sebagai ‘perjuangan‘?

Masa transisi usia anak muda adalah juga berisi kekosongan perasaan, yang dengan mudah dimasuki oleh faham-faham keliru tentang banyak hal, termasuk agama. Sehingga tak aneh jika bibit radikalisme masuk ke dalam pikiran mereka. Dwi Permana berusia 18 tahun saat meledakkan bom di Hotel Marriot atau Umar dari Banten yang meledakkan bom di Suriah masih berusia 19 tahun.

Sikap menentang dan menantang orangtua juga menjadi faktor menyebab dari lahirnya pikiran radikal di kalangan anak muda. Mereka memberontak terhadap kemapanan, yang salah satu perwujudannya adalah orangtua atau ajaran agama yang umum. Mereka bangga menjadi out of the box, berusaha mencari sesuatu yang lain, yang dianggap lebih benar menurut dimensi pemikiran mereka.

Hasil survei Setara Institute di tahun 2015 silam itu, bisa saja sekarang berubah secara prosentase, di mana makin menggambarkan situasi yang makin buruk atau makin baik. Apapun fakta yang ada saat ini tetaplah ada satu hal yang harus dipegang, yaitu para anak muda harus diselamatkan dari pemikiran atau ide yang radikal negatif, sehingga bisa dicegah aktivitas-aktivitas yang mengarah pada ekstremisme dan bahkan terorisme. (***)

(PENULIS adalah Redaktur Senior POSBERITAKOTA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here