PosBeritaKota.com
Opini

Masih Mampu Jaga Eksistensi, ATET ZAKARIA & Perjalanan Lawak Tunggal Indonesia

OLEH : HANNOENG M. NUR

JIKA kita bicara soal lawak tunggal, maka entah kenapa kita akan berpikir tentang Stand up Comedy; sebuah jenis humor atau lawak yang mulai berkembang di Amerika di tahun 1800-an. Pada saat itu di Amerika ada sebuah teater bernama “The Minstrel Show” yang diselenggarakan oleh Thomas Dartmouth “Daddy” Rice. Namun bentuknya masih slapstick, karena belum ada mikrofon. Setelah mikrofon ditemukan, barulah berkembang Stand up Comedy seperti yang kita kenal saat ini.

Stand up Comedy dengan segala pakemnya yang diimpor itu, memang adalah barang baru di Indonesia, namun jika kita melihat Stand up dalam koridor yang lebih luas, tanpa pakem-pakem yang njelimet itu, maka kita semua tahu bahwa Stand up Comedy telah ada sejak lama di Indonesia, dengan nama lawak tunggal.

Di tahun 50-an ada nama-nama pelawak tunggal yang hebat, seperti Bing Slamet, Edi Sud, Iskak, Mang Udel dan lainnya. Bahkan di kawasan Mataram sana sudah ada Basiyo, misalnya. Di Jawa Timur malah di pertengahan tahun 40-an ada legenda lawak tunggal yang namanya Cak Markeso.

Pertunjukan-pertunjukan Srimulat selalu menyelipkan konsep lawak tunggal itu di peran pembantu, yang sering dimainkan oleh Gepeng, Asmuni, Basuki, Timbul dan Mamiek Prakoso. Sehingga roh lawak tunggal sebenarnya gak terlalu aneh-aneh banget, sehingga ketika stand up masuk sebahagian besar penikmat lawak merasa biasa-biasa saja.

Lawak tunggal mendapat tempat yang agak lebih serius ketika Lembaga Humor Indonesia (LHI) pimpinan Arwah Setiawan menyelenggarakan lomba di TIM sekitar tahun 1979. Dari sana lahir jago-jago lawak tunggal, diantaranya Otong Lennon, Otong Lalo, Memed Mini, Qomar dan Atet Zakaria.

Perkembangan bisnis komedi di Indonesia rupanya belum memberikan tempat yang layak bagi lawak tunggal. Buktinya, Bing Slamet kemudian membentuk Kwartet Jaya bersama Edi Sud, Iskak dan Ateng, setelah sebelumnya Edi Sud melahirkan group lawak Trio EBI. Otong Lalo juga membentuk group lawak Jali-Jali Group bersama Chachan dan Bonang serta Yanto Stock On You. Lalu ke mana Atet? Atet bersama Memed Mini dan Jack John melahirkan Billy Group.

Kiprah Atet kemudian adalah masuk ke dalam jajaran Jali-Jali Group. Jali-Jali adalah satu dari sedikit group lawak yang juga berhasil di dunia rekaman kaset. Tercatat ada beberapa album lahir dari group lawak ini.

Di Jali-Jali, peran Atet sangat besar. Ia bersama Otong Lalo yang memformulasikan materi lawakan Jali-Jali dalam konteks verbal, sementara untuk slapstick banyak dikuasai oleh Chachan, yang tak jarang berperan sebagai waria.

Pengalaman Atet sebagai pelawak tunggal bersama Otong Lalo memberikan warna khas bagi Jali-Jali Group. Rasanya, Jali-Jali lebih komplet materinya dibandingkan dengan Dian Group, bahkan juga Jayakarta Group. Bahwa kemudian Jayakarta bisa lebih terkenal adalah soal lain, bukan semata pada sebab kemampuan para pelawaknya.

Kini Atet masih mampu menjaga eksistensinya di dunia seni. Ia menjadi salah satu saksi hidup dari perjalanan panjang dunia lawak tunggal yang masih ada. Hanya sayangnya organisasi komedi atau lawak kita belum punya dokumentasi yang lengkap dan kaya atas kiprah pelaku sejarah dunia lawak kita, seperti Atet Zakaria ini. Kita khawatir anak cucu kita akan kehilangan informasi atas perjalanan sejarah lawak di Indonesia. (***)

(PENULIS adalah Pengamat Dunia Hiburan &;Redaktur Senior di POSBERITAKOTA)

Related posts

Apalagi Jika Punya Agenda Tahunan, MEMBANGUN SISTEM KERJA Itu Penting dalam Organisasi atau Kelembagaan

Redaksi Posberitakota

MASUK DALAM INGUB ANIES, IKHWAL FORMULA E & BERPOTENSI JADI ‘SENJATA MAKAN TUAN’ BAGI SEKDA MARULLA MATALI

Redaksi Posberitakota

Ini Ada 6 Alasan, KENAPA ANIES BASWEDAN ‘Idola Baru’ bagi Kaum Milenial?

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment