Ada di Bogor Barat, ACHMAD Mendapat Julukan Sebagai Haji Petai Berkat Kemahiran Merawat Pohonnya

BOGOR (POSBERITAKOTA) – Kalau Anda berpikir hanya manusia atau hewan saja yang bisa ngambek, sebaiknya berpikir ulang.
Tanaman juga bisa mutung, pundung atau ngambek.

Tanaman mendadak tak lagi berbunga buahnya jelek, busuk, sedikit atau malah bisa tak berbuah sama sekali.

Sekali mutung sulit pulih. Kecuali Anda tahu cara “menenangkan” dan menyenangkannya kembali.

Waktu saya menyuruh orang memetik buah Nangka, sahabat saya, almarhum Joko Supriyadi berkata.: “Awas, nanti menurunkan buahnya pakai tambang dan pelan-pelan – diterima dibawah dengan tangan. Jangan sampai kena tanah apalagi dilempar. Buah berikut bisa busuk.”

Terlambat, yang memetik main lempar saja.
Blug!

Dan, percaya atau tidak, buah berikutnya selalu busuk. Ada lingkaran hitam yang membesar, tembus sampai tengah buah. Bukan cuma satu. Banyak.
Buah dibungkus pun sama.

Sayang, hingga dipanggil Tuhan, kawan saya tidak memberi kuncinya, bagaimana memulihkan luka hati dan amarah pohon Nangka ini?

Di Bogor Barat, ada seorang Haji, sebut saja Achmad, yang mendapat julukan Haji Pete. Dipanggil demikian karena ia memang bisa berangkat ke Tanah Suci, lengkap dengan keluarga besarnya, berkat keahliannya merawat pohon Petai alias Pete!

Rumahnya megah. Lengkap dengan kendaraan roda 4 dan beberapa motor.
Uniknya, di bagian depan rumah, Pak Haji menyediakan ruang khusus untuk menyimpan hasil panenan.

Bagi Pak Haji, panen raya besar adalah saat menjelang Lebaran. Pedagang pasar grosir sayur di Bogor mengistilahkan – waktunya pemakaian – banyak orang butuh.

Untuk membuat hidangan Hari Raya Idhul Fitri, seperti sambal goreng ati, agar enak dan sedap, butuh Pete sebagai pelengkap.

Saat itu harga Pete sangat mahal. Berlaku hukum “injak“: Harga gak bisa ditawar, butuh ya bayar!

Satu renceng, atau dikenal sebutan satu papan, yang biasanya di jual grosir seribu dua ribu rupiah, bisa melonjak hingga 15-20 ribu per papan!

Dan, Pak Haji secara ajaib, bisa memprogram panennya tepat di pertengahan puasa. Ia dan anak buahnya akan mensortir, lalu mengikat per 100 papan, lengkap dengan -tangkainya. Dan di bawa ke pasar dalam mobil bak!
Buahnya bagus-bagus. Padat, berisi, sexy dan panjang!

Apakah Pak Haji memiliki kebun Pete? Tidak.
Ia cukup menggadai Pete siapa saja yang mau menggadaikannya.
Menggadaikan pohon Pete?
Wah, hal itu wajar terjadi bagi mereka yang tinggal di desa.

Mengapa pohon Pete bisa digadaikan? Biasanya, si pemilik mengeluh dengan nada sama, seperti Mang Roni dari Cibitung Kulon ini “buahnya makin dikit, pendek, bahkan kadang tidak berbuah sama sekali. Padahal sudah dipupuk”

Dari pada tidak menghasilkan, Pak Haji pun dikontak, nilai gadai bisa cuma Rp 500 ribu, 1 juta atau bahkan 2 juta. Tergantung besar kecilnya pohon.
Uang masuk kantong Mang Roni, ia bisa senyum hari itu dan merelakan pohon petainya diurus orang lain.

Dan, ajaib, setelah dirawat tangan dingin Haji Achmad, musim berikut buahnya lebat – banyak sekali. Rentengan Petai bergelayut terlihat dimana-mana!

Uang gadai yang diberikan pada Mang Roni, bisa balik modal dalam sekali rawat, bahkan bisa lebih!
Ajaib.

Saat panen tiba, wajah Pak Haji sumringah betul

Bisa jadi, orang awam seperi Mang Roni ini tidak paham bahwa Pete juga bisa ngambek. Dan, asal tahu saja, pohon Pete itu paling rewel, ngambeknya tingkat dewa! Salah menangani runyam!

Secara tak sengaja saya berjumpa dengan Jamal, anak saudagar Pete dari Labuhan, Banten. Dari Jamal inilah saya mendapat kiat mengurus pete yang ternyata super manja.

“Biasanya, Bapak kalau menggadai Pete, pertama yang dilakukan adalah memeluk pohonnya, tak ada izim atau mantra, itu pelukan sesama mahluk hidup, pesannya: “Saya sekarang merawat kamu, kenyangkan makanmu, berbuah lebat supaya saya dan keluarga saya bisa hidup. Saya nitip milik (rejeki) sama kamu”

“Setelah itu, kami akan naik ke pohon dan membersihkan semua kotoran dan tanaman benalu yang ada. Dikerok sampai bersih. Makin besar pohon makin lama merawatnya. Butuh satu sampai tiga hari, “tak apa-apa, nanti kan hasilnya juga banyak.”

Jamal menyambung, “setelah itu kami mencari daun Pisang Sereh. Daun pisang direnteng, disambung dan diikat di pohon Pete. Konon untuk mengobati luka batin, manakala buahnya dipetik dengan cara kasar seperti main potong dahan dan dilempar”

“Setelah itu, dipupuk seperti biasa. Bila terjadi gempa bumi, kami ramai-ramai menebarkan abu dari tungku dapur di rumah. Tanaman juga takut gempa, dan abu dapur bisa menenangkan, memberi rasa hangat, juga sekaligus jadi pupuk”

“Kalau mau panen, kami tidak boleh pakai pisau sembarangan, kami memiliki pisau khusus. Sangat tajam dan Tidak dipakai untuk keperluan lain,” ujar Jamal.

“Pisau khusus digunakan hanya untuk petik Pete. Titik. Pete paling “marah” kalau kita memetik buahnya memakai pisau dapur. Baunya pisau dapur beraneka ragam. Pohon Pete mau diistimewakan”

“Menurunkannya pun harus hati-hati, di atas Pete diwadahi pakai karung kemudian diturunkan pakai tambang. Lalu segera gotong ke tempat teduh. Dulu Pete hasil rawatan Bapak bisa mencapai panjang sampai siku.

Saya terpana. Sejak lama nenek moyang kita telah paham kearifan lokal seperti ini guna menjaga keseimbangan alam.
Kita, manusia modern, semakin abai akan hal ini, tanaman dan binatang peliharaan dianggap hanya ‘benda mati’ yang harus menghasilkan uang secara maksimal, karena itu terus dieksploitasi sampai menjerit.

Padahal, mereka juga mahluk hidup yang harus dihormati dan dirawat dengan hati. Betul seperti sapaan ayahnya Jamal saat memeluk pohon Pete. “Saya akan merawatmu sebaik mungkin, kenyangkan makanmu dan berbuahlah sebaik mungkin, saya nitip rejeki – anak istri saya- padamu”. ■ RED/GUNAWAN WIBISONO/GOES

Related posts

Sosok Senator Bang Dailami, KETUA LSM ‘BRANN’ SUDIRMAN Sebut Punya Modal & Cukup Mumpuni Jika Maju Sebagai Cagub DKI

Hasil Debatnya Jadi Favorit, KETUM PRO – AMIN Yakin Sosok Anies Baswedan Beri Daya Tarik Pemilih

Gelar Acara Maulid Bersama Sahabat AKSI, ADI KURNIA SETIADI Jadikan Politik Sebagai Sarana untuk Ibadah