PosBeritaKota.com
Sport

Bagi Semua Cabor, MENPORA Tegaskan Agar Olimpiade & Paralimpiade Sebagai Tujuan Utama Prestasi

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Bagi semua cabang olahraga (Cabor) di Indonesia agar menjadikan ajang Olimpiade dan Paralimpiade sebagai tujuan utama prestasi. Berbeda untu event yang skala di bawahnya, yakni SEA Games (SEAG) maupun Asian Games (AG) hanya dipakai sebagai sasaran. Demikian kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, menegaskan kembali harapannya.

“Kondisinya, kita sekarang belum fokus. Kadang SEA Games jadi sasaran utama atau kadang suatu waktu Asian Games. Maka, grand design utama adalah Olimpiade, sedangkan SEA Games dan Asian Games kita tempatkan di posisi sasaran antara,” tegasnya saat menjadi narasumber pada Seminar Olahraga Nasional yang digelar SIWO PWI Pusat secara virtual, Rabu (24/3/2021) kemarin di Hotel Pullman Jakarta.

Bicara kondisi sekarang, dipaparkan Menpora, cabang yang mendapatkan prioritas mengejar prestasi di Olimpiade ada 14 cabang meliputi bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, atletik, renang, senam artistik dan pencak silat. Sedangkan untuk Paralimpiade, pihaknya menyebut 5 cabang yang masuk daftar unggulan seperti para badminton, para tabble tennis, para power lifting, para atletik dan para swimming.

“Jadi, kami tidak asal menaruh 14 Cabor unggulan ini. Tapi sebelumnya sudah dilakukan diskusi sangat panjang,” papar Amali seraya memastikan semua atlet butuh perjuangan keras, bahkan bisa sampai 10 tahun atau 1.000 jam latihan.
Jadi tidak ada yang instan, by accident, tapi harus by design,” terangnya, lagi.

Menpora terus terang telah mendapatkan tugas dari Presiden Joko Widodo untuk bergerak cepat mencari akar persoalan olahraga di negeri ini. Problem tersebut harus diurai agar prestasi olahraga nasional tidak stagnan dan terus membaik.

Namun setelah dipetakan, imbuh Menpora, ada 13 persoalan yang terjadi selama ini, antara lain partisipasi kebugaran jasmani masyarakat berolahraga masih rendah, sarana dan prasarana olahraga masih terbatas dan belum memenuhi standar.

“Begitu ditunjuk jadi penyelenggara Piala Dunia 2021 yang kemudian diundur 2023, kita merasa punya stadion berstandar, ternyata dilihat FIFA masih banyak renovasi agar sesuai standar FIFA,” ucap Menpora.

Persoalan lain yang disebutkan Amali adalah sistem pembinaan olahraga prestasi belum dikembangkan dan dilakukan secara sistematis, terencana, berjenjang dan berkelanjutan. “Terkadang enam bulan atau satu tahun digelar Pelatnas sebelum mengikuti kejuaraan. Jadi tidak mungkin hasilkan prestasi kalau tidak melakukannya secara sistematis, terencana dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Sedangkan persoalan lainnya adalah manajemen kompetisi belum berjenjang, rutin, berkelanjutan dan tidak sesuai dengan kelompok usia serta karakteristik cabang olahraga, keempat tenaga keolahragaan belum memenuhi secara kuantitas dan kualitas 18, sport science belum dijadikan sebagai faktor utama untuk mendukung prestasi olahraga dandukungan anggaran masih menjadi keluhan.

Di sisi lain, juga manajemen organisasi keolahragaan belum sepenuhnya dijalankan secara profesional, kemudian profesi sebagai olahragawan belum sepenuhnya menjadi pilihan dan tidak ada jaminan masa depan purna prestasi. “Contohnya di SKO Cibubur, atlet dilatih di situ biar jadi atlet berprestasi. Tapi saya kaget ketika mereka ditanya setelah keluar dari situ, jawaban rata-rata ingin jadi angota TNI, Polri. Jujur bahwa ini belum ada jaminan,” terangnya.

Dipaparkan selanjutnya yang disebut Menpora adalah kurikulum Pendidikan Khusus Atlet belum ada, lalu Data base, Sistem Informasi dan analisis big data keolahragaan belum dilakukan, belum optimalnya peran BUMN dan Pemerintah Daerah dalam mendukung atlet berprestasi serta masih kurangnya sinergitas dengan organisasi keolahragaan.

Persoalan-persoalan olahraga ini, juga Grand Design Olahraga Nasional telah disampaikan Menpora Amali saat Rapat bersama Komisi X DPR RI sehari sebelumnya. Grand Design dibuat untuk mencapai target jangka menengah dan panjang mulai tahun ini hingga 2045.

Menpora kemudian mencontohkan bahwa pada 2021 hingga 2024 targetnya adalah partisipasi siswa aktif berolahraga 10 persen, sedangkan masyarakat 40 persen. Pada Olimpiade Tokyo 2021, targetnya adalah Indonesia bisa masuk peringkat 40 besar, sesangkan Paralimpiade 50 besar. ■ RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Mampu Redam Ledakan ‘Tim Dinamit’, INGGRIS Pastikan Tantang Italia di Partai Puncak Euro 2020

Redaksi Posberitakota

Niat Rasakan Hal Berbeda, HAMILTON Kunjungi MotoGP 2019

Redaksi Posberitakota

JADI SOROTAN DI OLIMPIADE TOKYO 2020, ZEHRA GUNES ‘BINTANG’ ATLET VOLI PUTRI ASAL TURKI YANG CANTIK & SEKSI

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment