32.1 C
Jakarta
16 August 2022 - 17:11
PosBeritaKota.com
Syiar

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal, ‘HAKEKAT Alam Barzakh’

OLEH : PROF. DR. KH. NASARUDDIN UMAR, MA

ALAM barzakh dapat didefinisikan ke dalam berbagai perspektif. Pandangan para teolog, termasuk ahli fiqih, mengartikan kata ini sebagai sebuah tempat transit setelah orang meninggal dunia. Pada saatnya mereka akan dibangkitkan lagi di dalam sebuah alam baru yang diistilahkan di dalam Al-Quran dengan beberapa nama.

Seperti hari akhirat (al-yaum al-akhir) terulang menyebutnya 20 kali, hari kebangkitan kembali (yaum al-qiyamah) setelah ditiup trompet sangsakala kedua yang menyebutannya 70 kali hari rekapitulasi amal-amal anak manusia di dunia (yaum al-hisab) penyebutannya terulang lima kali, hari pembalasan (yaum al-din), hari kehancuran semua makhluk (yaum as-sa’ah) yang disebutkan 34 kali dan hari kiamat (yaum al-mi’ad) yang terulang sekali.

Alam barzakh berasal dari bahasa Arab, dari akar kata barazayabrizu, berarti ‘pergi‘, keluar tanah lapang kemudian membentuk kata bafzakh, berarti dinding atau pemisah antara dua sesuatu (al-hajiz bain al-syaiain). Dari sinilah kata barzakh sering diartikan sebagai antara dunia dan akhirat, dari waktu kematian sampai hari kebangkitan.

Barang siapa yang meninggal berarti memasuki alam barzakh. Barzakh juga sering diartikan sebagai antara awal dan akhir (pertengahan), antara ragu dan yakin (ma bain al-syak wa al-yaqin).

Ibn ‘Arabi (w.1240 M) memberi pengertian lebih mendalam mengenai hakikat alam barzakh, yakni sebuah keadaan yang kompleks antara sesuatu yang diketahui dengan jelas dan sesuatu yang tak terketahui, antara yang ada dan tak ada, antara yang ditiadakan yang diadakan, antara yang dapat diindra dan yang tak dapat diindra.

Tidak ada suatu tempat di antara banyak tempat, tiada suatu keadaan di antara berbagai keadaan, tiada suatu keberadaan di antara berbagai keberadaan, tiada suatu jenis di antara berbagai jenis. Termasuk juga alam barzakh antara al-Haq (Allah SWT) dan makhluk-NYA atau antara Allah SWT dan alam.

Dalam hadits pun banyak riwayat menceritakan pemandangan alam barzakh dapat diakses melalui mimpi atau pandangan mukasyafah. Ontologi alam barzakh ialah dunia kehidupan anak manusia yang dikumpulkan ke dalam wilayah atau benua lainnya, supaya mereka tidak terkontaminasi kehidupan-kehidupan dunia syahadah.

Bahkan dalam hadist Nabi disebutkan ada sejumlah binatang yang mampu mendengarkan jeritan orang-orang yang sedang disiksa di alam kubur. Suatu ketika Nabi pernah mampir di sebuah pemakaman karena terusik dengan suara isak tangis orang-orang yang ada di makam baru itu.

Para sahabat kemudian menanyakan, mengapa ia berhenti di makam ini? Dijawab oleh Rasulullah SAW bahwa kedua makam ini disiksa penghuninya lantaran perbuatannya di dunia. Yang satu ketika ia buang air, ia tidak mengindahkan tata krama pembersihan najis menurut syariah.

Sedangkan yang satunya disiksa karena pada masa hidupnya sering menjadi kekuatan provokator. Lalu, Rasulullah SAW mengambil setangkai pohon, sebagian ulama mengartikannya dengan memetik beberapa pohon kurma.

Para sahabat Nabi baru sadar bahwa telinga Rasulullah SAW begitu sensitifnya sehingga masih dapat mendengarkan orang-orang yang disiksa di alam barzakh. Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan, sejumlah orang yang sudah dinyatakan wafat lalu hidup kembali atas izin Allah SWT, seperti orang kaya yang dibunuh keponakannya sendiri sebagaimana dikisahkab dalam surah al-Baqarah.

Nabi Isa juga pernah menghidupkan orang mati atas izin Allah SWT. Kesemuanya itu meyakinkan kita bahwa alam barzakh itu betul-betul ada dan relatif masih dekat dengan alam fana, alam yang kita tempati sekarang.

Kisah dan pengalaman orang-orang yang ada di alam barzakh kiranya cukup menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa kehidupan sesudah mati betul-betul terjadi. Apa yang kita alami di sana sangat ditentukan oleh apa yang kita amalkan ketika hidup di dunia ini.

Marilag kita terus mengontrol diri kita di dalam menjalankab sisa-sisa kehidupan yang dipinjamkan Tuhan YME. Semoga kita kelak meraih husnul khatimag, mengakhiri kehidupan dengan kebaikan. (***/bersambung/goes)

Related posts

Kutbah Ied Fitri 1443 H, Ustadz Abdul Munif Ingatkan Memutus Tali Silaturahmi Termasuk Dosa Besar

Redaksi Posberitakota

Di Bogor, LAZISNU DKI JAKARTA Sukses Gelar Pelatihan Manajemen & Pengelolaan ZIS

Redaksi Posberitakota

Isi Pengajian Rutin Ba’da Maghrib, USTADZ NUR ALI : Dosa Seseorang Bisa ‘Dicuci’ dengan Cara Banyak Sedekah

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang