OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II
AKHIR-akhir ini, ada satu kalimat yang sering sekali kita dengar di banyak majelis atau ceramah: “adab dulu sebelum ilmu”. Kata-kata ini begitu populer, sampai-sampai banyak orang yang baru semangat belajar, baru mulai rajin baca kitab, atau aktif tanya ini itu… malah dilemahkan semangatnya dengan alasan “adab dulu”. Anehnya lagi, seolah-olah adab itu cuma soal senyum, basa-basi, atau berkata lembut.
Padahal kalau kita mau jujur, apakah adab dalam Islam memang cuma sekadar budaya lokal begitu? Apakah Islam yang kita anut ini hanya soal jaga image, pandai cengengesan,pandai mengelola tampilan pakaian atau pandai mengambil hati orang? Kita harus luruskan ini, karena kalau salah paham, akibatnya bisa gawat — bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk masa depan umat.
Banyak orang awam mengira adab itu cukup asal sopan di kampungnya, adab itu bukan cuma budaya lokal. Kalau di Jawa misalnya, yang penting bisa membungkukkan badan dan bicara alus sudah dianggap beradab. Kalau di Sunda, yang penting lemah-lembut dan nyunda sudah beradab. Padahal adab dalam Islam jauh lebih dalam dari itu.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pemikir besar yang sangat dihormati oleh ulama Azhar dan dunia, dalam bukunya Islam and Secularism menegaskan: adab adalah pengenalan dan pengakuan akan tempat sesuatu sesuai hakikatnya, baik dalam diri manusia, masyarakat, maupun dalam kosmos. Artinya, adab itu soal bagaimana kita menempatkan ilmu, amal, akhlak, dan bahkan dunia di posisi yang tepat. Bukan sekadar tata krama permukaan.
Murid beliau, Dr. KH. Fahmi Zarkasyi- putra pendiri Pondok Modern Gontor, memperjelas lagi. Kata beliau : adab bukan cuma sopan santun, tapi kesadaran intelektual, spiritual, dan moral untuk menempatkan ilmu, amal, dan tujuan hidup sesuai porsi dan kedudukannya. Jadi pertanyaannya, kalau kita tidak punya ilmunya, bagaimana kita bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya? Bagaimana tahu mana prioritas dan mana yang bukan?
Coba bayangkan, ada orang yang sopan sekali, pandai senyum, cium tangan ulama tiap ketemu. Tapi tidak paham hukum zakat — akhirnya tidak bayar zakat. Ada yang ramah dan nyunda, tapi tidak ngerti siyasah syar’iyyah — akhirnya berani main politik bermodalkan filosofi budaya kuno Sunda. Apakah ini yang dimaksud adab? Jelas bukan.
Fenomena ini makin nyata di era media sosial, awas…RUWAIBIDHAH DIGITAL di sosial media. Banyak orang yang getol teriak-teriak “adab dulu sebelum ilmu”, tapi di saat yang sama, mereka rajin membagikan postingan-postingan yang sebenarnya secara keilmuan masih mentah. Tanpa verifikasi, tanpa cek dalil, tanpa tabayyun.
Kadang mereka membagikan kutipan yang seolah-olah islami, padahal tafsirnya rancu, kelihatan indah padahal polanya ekstrim. Kadang mereka menyebarkan tulisan-tulisan motivasi agama yang bahasanya manis tapi isinya lemah secara metodologi. Anehnya, setelah membagikan itu, mereka pasang gestur seakan-akan “lihat, saya ini orang pintar dan beradab”. Padahal kalau dicek, banyak dari postingan itu asal comot, tidak jelas sanadnya, dan rawan menyesatkan umat.
Inilah yang Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebut sebagai kekacauan adab (loss of adab) — yaitu ketika orang yang tidak berkompeten bicara hal yang bukan bidangnya, lalu umat bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam istilah klasik Islam, ini cikal bakal tashaddur (orang bodoh yang sok tampil sebagai ulama). Imam al-Ghazali dalam Ihya’ sudah ingatkan: orang yang belum matang ilmunya tapi berani bicara besar, akan lebih banyak merusak daripada membangun.
Kalau kebiasaan seperti ini dibiarkan, umat Islam akan penuh dengan informasi-informasi agama yang setengah matang. Akhirnya, orang awam bingung, lalu ikut-ikutan tanpa ilmu. Inilah dominasi ruwaibidhah digital yang sangat berbahaya untuk masa depan umat.
Bahaya lain yang mengintai kalau pemahaman adab disempitkan cuma jadi sopan santun budaya lokal adalah munculnya dominasi orang bodoh. Hati hati! Jangan sampai kita – lagi lagi – dijajah orang bodoh. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah memperingatkan soal ruwaibidhah — orang bodoh yang berani bicara urusan umat. Kalau ini yang dibiarkan, yang memimpin umat nanti bukan orang alim, tapi orang yang cuma jago pencitraan. Ujung-ujungnya umat ini set back…mundur, peradaban hancur.
Negara kita sudah lama kena penyakit ini. Banyak orang lebih percaya sama yang jago basa-basi, jago berpenampilan alim….sederhana, gaul…”asik asik aja”… padahal basis ilmunya cetek. Yang benar-benar alim dan mutsaqqof malah disuruh diam dan diabaikan kerena dianggap “kurang adab”. Tidak heran kalau kita lihat data, Indonesia 60 persen penduduknya miskin. Negara-negara yang unggul di ilmu seperti Jepang dan Korea malah maju.
Mari kita luruskan lagi, kalau adab dan ilmu harus jalan bersama…Kalimat “adab dulu sebelum ilmu” itu bukan berarti adab tanpa ilmu. Maksudnya adalah pelajari dulu adab dalam menuntut ilmu, bukan suruh diam dan tidak belajar. Imam al-Juwayni – gurunya al-Ghazali – tegas mengatakan: amal tidak sah tanpa ilmu. Syaikh Muhammad al-Ṭāhir Ibn ʿĀshūr juga bilang: peradaban itu butuh dua sayap – ilmu dan adab. Kalau salah satunya tidak ada, kita tidak bisa terbang.
Ironisnya, malah ada orang yang pakai jargon “adab dulu” untuk menyingkirkan ilmu sains dan rasional. Mereka membungkusnya dengan alasan adab, padahal ujung-ujungnya mereka justru mendorong pengutamaan ilmu-ilmu klenik – amalan-amalan mistik bercampur takhayul yang sering lepas dari dalil yang jelas dan bimbingan ulama mu’tabar. Ini termasuk praktik seperti azimat, rajah, atau amalan yang dilakukan tanpa pemahaman syar’i dan tanpa adab ilmu. Ini pembodohan yang berbahaya.
Perlu ditegaskan, dalam aqidah Ahlussunnah khususnya dalam tradisi keilmuan Al Azhar, wirid dan zikir adalah amalan mulia yang sangat dianjurkan — selama sesuai tuntunan syariat dan dibimbing pemahaman yang benar. Tapi kalau dilepaskan dari dalil sahih dan adab ilmu, resikonya besar. Bisa melenceng, bahkan menjerumuskan.
Kalau begini terus, umat Islam hanya akan jadi pengamal ritual tanpa akal jernih, umat Islam akan selalu menjadi penonton di panggung dunia yang dikendalikan bangsa lain yang serius dalam sains dan teknologi. Prof. Yusuf al-Qaradhawi dalam al-ʿAql wa al-ʿIlm fi al-Qur’an sudah ingatkan: Islam tidak anti sains. Justru akal dan sains harus dipakai untuk memahami agama dengan benar dan membangun peradaban. Dr. Muhammad Imarah juga tegas mengatakan: umat Islam mundur bukan karena terlalu pakai akal, tapi karena malas pakai akal dan enggan belajar sains.
Bagi Anda yang sedang semangat belajar, jangan down hanya karena ada yang bilang “adab dulu” pakai nada merendahkan, semangat cari ilmu! Jangan Mau ditakut- takuti! Hanya karena ada orang menggunakan kelemahan kamu dan membawa bawa adab tanpa artikulasi yang jelas. Terus belajar, dengan adab yang benar — adab yang dibangun di atas ilmu, bukan atas budaya kosong. Jangan mau dibungkam oleh orang yang cuma jago basa-basi tapi malas berpikir.
Karena membangun umat dan peradaban tidak cukup dengan budaya daerah dan senyum-senyum. Kita butuh ilmu yang dalam dan adab yang kokoh. Keduanya harus jalan bareng. (***/goes)

