BEKASI (POSBERITAKOTA) – Dalam kurun waktu kurang lebih 3 minggu kedepan, umat Islam bakal mendapati kesempatan istimewa, yakni ber-Hari Raya Idhul Adha. Bahkan, bisa disebut sebagai satu perayaan kegembiraan dan sekaligus menjadi ajang bersedekah atau berbagi daging hewan qurban.
Hal itu juga sebagai bentuk kesadaran dan wujud rasa syukur atas banyaknya nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Lebih dari itu bahwa momentum Idhul Adha, juga mengajarkan kepada kita untuk dapat memberikan pengorbanan totalitas atas segala sesuatu yang kita lakukan dan kita cintai.
“Bahkan, begitu istimewanya Idhul Adha, sehingga kita layak untuk memberikan apresiasi sekaligus memuliakannya dengan meningkatkan berbagai macam amal kebajikan,” sebut Drs KH Muhammad Makhtum dalam khotbah Jumat-nya selaku imam dan khotib di Masjid Jami Abubakar As-Shidiq RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Gerbang Timur, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jumat (16/5/2025).
Melanjutkan khotbahnya, Kyai Makhtum mengutarakan bahwa baik dengan meningkatkan amalan Sunnah maupun mengetatkan amalan Wajib, yakni di dalam rangka menyambut dan memuliakan momentum Hari Raya Idhul Adha tersebut.
معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Dijabarkan bahwa berbagai macam amalan Sunnah yang dapat kita tingkatkan adalah antara lain :”Yang pertama, yaitu dengan memperbanyak bacaan tahlil, takbir, tahmid atau takbiran ba’da Ashar, menjelang 10 Dzulhijjah, hingga akhir 13 Dzulhijjah menjelang Maghrib pada bulan yang akan datang,” urainya.
Disebutkan Kyai Makhtum yakni dari Umat bahwa Nabi bersabda
:مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ
وَالتَّحْمِيد
Artinya : “Tiada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah SWT untuk berbuat satu kebajikan di dalamnya, melebihi daripada sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) ini. Maka, pada hari itu perbanyaklah bacaan tahlil, takbir dan tahmid.” (HR Ahmad No 6154).
“Untuk yang kedua, dapat kita lakukan adalah dengan berpuasa sunnah Tarwiyah dan Arafah pada harinya nanti. Sebab, puasa tersebut merupakan salah satu ibadah yang umum dilakukan kaum Muslimin pada bulan Dzulhijjah. Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah. Sedangkan puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Karena, kondisi kita tidak sedang melaksanakan ibadah haji dan umroh pada tahun ini. Maka, kita pun sangat dianjurkan untuk melakukan Puasa Arofah nanti,” ungkap Kyai Makhtum, panjang lebar.
Rasululloh bersabda :صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Artinya : “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Sementara Puasa ‘Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim). معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Sedangkan untuk hal yang ketiga, lanjut Kyai Makhtum, dimana dapat kita lakukan adalah dengan menunaikan ibadah haji dan umrah. Terutama bagi yang mampu secara fisik, finansial serta perjalanan atau diberikan kemampuan oleh Allah SWT.
“Tentu, bagi kita yang mampu, maka wajib melakukannya sekali seumur hidup. Kenapa? Karena, haji merupakan salah satu rukun Islam dan balasan pahalanya adalah surga,” ucap Kyai Makhtum, melanjutkan khotbahnya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi:سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya, amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab, beriman kepada Allah SWT dan Rasul-NYA. Ada yang bertanya lagi, kemudian apalagi? Beliau menjawab, Jihad di jalan Allah SWT. Ada yang bertanya kembali, kemudian apalagi?” Haji mabrur, jawab Rasulullah.’’ (HR Bukhari).
Dipaparkan Kyai Makhtum, lantas dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji, didalamnya juga dilaksanakan ibadah umrah, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah.
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ”
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas serta perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang Mabrur, kecuali surga.” (HR An Nasai). معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Diungkapkan Kyai Makhtum, adapun hal keempat yang dapat kita lakukan adalah dengan melaksanakan sholat Ied Adha, kemudian setelahnya dilanjutkan dengan melakukan penyembelihan hewan qurbanAllah SWT berfirman :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ .فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْArtinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah sholat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.”(QS Al-Kautsar).
Lantas, Rasulullah bersabda :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَة
Rasulullah صلى الله عليه وسلم dahulu berangkat pada hari Idhul Fitri dan Adha ke mushala. Beliau memulai dengan shalat.’’ (HR Muttafaqun ‘Alaihi).
“Kemudian setelah pelaksanaan sholat Ied, maka dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban untuk taqorrub kepada Allah SWT dan sekaligus merupakan ibadah sosial.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:*_*عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya : “Dari Aisyah, Rasulullah mengatakan, tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Alloh melebihi daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, kukunya, dan juga rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Alloh sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berqurban.” (HR Tirmidzi).
Melalui momentum Idhul Adha, menurut Kyai Makhtum bahwa khotib mengajak dan menghimbau kepada seluruh warga jama’ah Masjid Jami Abu Bakar As-Shidiq.
“Apabila pada bulan Dzulhijjah yang akan datang diberikan kelancaran dan keluasan harta, maka tingkatkan semangat untuk berqurban demi meraih ketaqwaan, tampakkan rasa syukur dan semarakkan syi’ar Idhul Adha. Semoga bermanfaat untuk kita semua,” tutup khotbahnya. © RED/AGUS SANTOSA