OLEH : MUTAWAKKIL ABU RAMADHAN II
MELALUI tulisan opini ini, saya tidak sedang mengajak orangtua jadi permisif. Namun saya juga tidak ingin diam ketika gadget terus menerus dijadikan ‘kambing hitam’ atas segala yang buruk dalam pendidikan anak. Saya punya cerita, bukan teori apalagi hasil seminar. Tapi, ini adalah sebuah pengalaman yang diambil dari kenyataan hidup.
Beberapa tahun yang lalu, anak saya yang belum genap masuk SD sudah bisa membaca dalam dua bahasa, berbicara dengan struktur kalimat yang rapi, mampu menyampaikan ide dengan logika yang utuh dan yang paling mengejutkan : Mampu berdialog dalam bahasa Inggris dengan gaya dan artikulasi seperti halnya anak-anak yang belajar di sekolah sekolah internasional.
Bukan karena saya mendaftarkannya ke sekolah mahal dan bukan juga karena saya beri kursus tambahan. Tapi, karena satu hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai ‘musuh anak’ : gadget.
Ada sebuah cerita yang saya pikir layak untuk di share. Jadi, kami sekeluarga sedang dalam perjalanan dengan mobil, saat itu jalanan cukup padat. Anak saya yang masih baru berumur 5 tahun itu tiba-tiba berkata dengan suara tenang, sambil menatap ke luar jendela: “1 pohon bisa selamatkan ribuan nyawa” – ” Paket spesial bisnis tetep eksis saat pandemi” – “Kepak sayap kebhinekaan ”
Mamanya menoleh sambil terheran-heran. Anak ini tidak sedang memegang gadget, tapi dia membaca dengan suara lantang, dalam bahasa Indonesia yang baku. Bukan sekadar mengeja, tapi membaca dan seakan memahami dan dari intonasinya anak ini sedang berefleksi dengan sesuatu. Apalagi kalau bukan membaca reklame-reklame di jalanan yang kami lewati.
Kami baru menyadari, ini bukan sulap, ini pasti buah dari suatu kebiasaan. Anak ini terbiasa membaca subtitle, mengenali huruf dan suara sejak usia dini lewat video-video edukatif, belajar kosakata dari lagu, game dan animasi. Ia menyerap bahasa bukan dengan menghafal, tapi dengan berinteraksi, berefleksi dan menghayati dengan penuh gairah. Dan, semua itu dimungkinkan karena keakrabannya dengan layar gadget.
Banyak yang masih terjebak dalam dikotomi : Main gadget berarti malas, belajar buku berarti pintar. Tapi zaman ini bukan zaman dikotomi, menurut banyak pakar zaman ini adalah zaman sintesis. Zaman yang akan mengantarkan manusia kepada singularitas teknologi.
Anak-anak kita lahir dalam lingkungan visual, mereka bukan hanya perlu membaca, tapi juga memahami konteks, menganalisis simbol dan berpikir dialektik sejak dini. Dan, gadget seperti halnya buku bagi generasi kita, menjadi medium baru untuk itu asalkan kita tahu cara mengawalnya.
Saya berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk yang memicu sifat ujub diri. Saya apa adanya melihat ada insight dibenak anak-anak saya. Mereka bertanya soal hal hal yang dulu tak terjangkau oleh imajinasi saya ketika seusia mereka. Mereka bicara soal luar angkasa, tentang cuaca ekstrem, tentang negara lain, tentang semikonduktor, tentang demografi, geografi,kultur populer, quote, bahkan tentang bahasa isyarat! Semua itu mereka tahu bukan dari saya, tapi dari interaksi mereka dengan layar yang saya pilihkan dan saya dampingi.
Ini bukan pujian kepada teknologi, namun merupakan sebuah ajakan untuk jujur melihat kenyataan bahwa dunia ini sedang shifting, malah sedang berdisrupsi dimana sedang berubah-ubah secara drastis. Kalau kita terus terusan menyalahkan teknologi tanpa introspeksi cara pengasuhan kita dan bobot wawasan kita karena malas membaca dan berefleksi, kita bukan sedang menyelamatkan anak kita sedang membutakan mereka dari realitas zaman.
Anak-anak kita bukan hanya bisa menjadi cerdas dengan gadget. Mereka bisa jadi lebih arif dari kita, kalau kita hadir bersama mereka, bukan sekadar memberi larangan.
Tentu bukan sembarang gadget dan bukan sembarang penggunaan. Kami mengarahkan konten edukatif, tidak jarang kami dampingi. Kami batasi waktu layarnya. Dan, lebih dari itu kami beri ruang berdialektika baik itu bertanya, meniru dan mempraktikkan. Ketika ia menonton tayangan anak-anak berbahasa Inggris, kami ikut nimbrung. Kadang tertawa, kadang memotong untuk menjelaskan makna. Kami tidak menggantungkan pendidikan pada layar. Tapi, kami menjadikan layar sebagai alat bantu untuk menghidupkan keingintahuan anak.
Lalu, saya mulai membaca, ternyata yang beginian ini saya tidak sendirian. Penelitian dari Joan Ganz Cooney Center menyebut bahwa anak-anak yang terpapar konten digital berkualitas, khususnya konten interaktif, mengalami lompatan dalam penguasaan kosakata dan kefasihan bahasa. Profesor Patricia Kuhl dari University of Washington bahkan menyebut anak di bawah tujuh tahun sebagai ‘mesin bahasa’ selama mereka diberi paparan yang cukup dan konteks yang hidup.
Di sinilah kita keliru selama ini: menganggap gadget sebagai lawan. Padahal, ia hanya alat. Yang membuatnya jadi racun adalah ketika kita melepaskan kendali dan membiarkan anak menyusuri belantara konten tanpa arah, tanpa pagar dan tanpa penjelasan. Anak yang dibiarkan pasif di depan layar tentu berbeda dengan anak yang diajak berdialog soal apa yang ia tonton. Yang saya jadikan musuh besar anak di gadget : Dangdut, produk hiburan India, selebritis dalam negeri, influencer yang suka pamer kekayaan dan omong receh, kekerasan fisik dan verbal dari berbagai kultur, keagamaan yang bersifat ekstrim, game yang terindikasi ada point point yang mengarah ke judi online, pornografi dan pornoaksi dan sebagainya dan sebagainya lagi.
Saya tidak sedang mengajak kita semua jadi orangtua yang memuja gadget. Tapi, saya juga tidak setuju dengan demonisasi buta terhadapnya. Teknologi hari ini adalah bagian dari hidup anak-anak kita. Menolaknya sama saja menolak kenyataan. Yang perlu kita lakukan bukan menjauhkan mereka dari gadget, tapi mengajak mereka bersikap rasional terhadapnya.
Anak saya bisa membaca cepat, bukan karena ia hanya menatap layar. Tapi, karena dari layar itu ia belajar mengenali kata, mengeja, membaca ulang dan kemudian mencocokkannya dengan dunia nyata yang kami bangun bersama: buku di rak, tanya-jawab sebelum tidur dan kisah yang kami ceritakan setiap saat ada waktu.
Maka, kalau suatu hari Anda melihat anak mampu berbicara lancar dalam dua bahasa, membaca cepat dan memunculkan gagasan-gagasan segar, jangan lekas mengira itu sekadar faktor keturunan dari Anda atau karena sekolah mahal. Sering kali kuncinya sederhana: gadget yang dipakai secara tepat, kontennya dipilih, waktunya diatur dan prosesnya ditemani penuh kasih, cinta dan keikhlasan, kalau sekedar untuk membuat anak diam, jangan pernah bermimpi anak anda mendapatkan “wangsit” kecerdasan dari gadget.
Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Allah mencintai bila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menekuninya dengan sebaik-baiknya.”
Beliau juga mengingatkan:
اَلْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، أَيْنَمَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Hikmah itu barang hilang milik orang beriman; di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak mengambilnya.”
Imam أبوالحسن الأشعري berkata:
إِنَّمَا يُرْتَقَى فِي مَدَارِجِ الْفَهْمِ بِتَزْوِيجِ النَّقْلِ بِالْعَقْلِ
“Derajat pemahaman itu naik ketika wahyu dipadukan dengan akal.”
Dan Syaikh يوسف القرضاوي menegaskan pentingnya memanfaatkan kemajuan peradaban :
انَّ الإِسْلَامَ لَا يَقِفُ مَوْقِفَ الْعَاجِزِ مِنَ الْوَسَائِلِ الْحَدِيثَةِ، بَلْ يُسَخِّرُهَا لِخِدْمَةِ الدَّعْوَةِ وَلِصَالِحِ الإِنْسَانِ»
“Islam tidak bersikap pasif terhadap sarana modern, tetapi menundukkannya untuk dakwah dan kemaslahatan manusia.”
Artinya, Islam mendorong kreativitas, keterbukaan, dan kesungguhan menata setiap alat termasuk teknologi, selama arah dan niatnya lurus dan mau bekerja keras untuk tujuan itu, layar kecil gadget itu bisa menjadi pintu ilmu besar asalkan orangtua hadir membimbing. Kitalah jendela pertama anak melihat dunia; gadget hanyalah kaca pembesar yang kita pegangkan kepada mereka.
Gadget tidak pernah merusak anak-anak. Yang merusak adalah ketidakhadiran kita ditengah dunia baru yang sedang mereka bangun. Dunia yang, kalau kita tak ikut masuk, akan dipenuhi oleh ide yang bukan berasal kita. Dan di situlah sesungguhnya masalah dimulai. (***/goes)
(PENULIS : MUTAWAKKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama dan Pemerhati Dunia Pendidikan Islam, tinggal di Jawa Timur)

