Keberlanjutan Bukan Pilihan: Ia Adalah Akuntabilitas

Sumber Foto: Ist

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Kita hidup dalam era paradoks: pertumbuhan ekonomi global mencetak angka mengesankan, tapi pada saat yang sama, dunia memanas. Menurut laporan IPCC 2023, kita sedang menuju peningkatan suhu bumi lebih dari 1,5°C dalam waktu kurang dari dua dekade. Di sisi lain, Indonesia masih mengandalkan sektor-sektor intensif karbon seperti energi fosil dan industri ekstraktif untuk menopang perekonomiannya.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah” kita harus berkelanjutan. Pertanyaannya adalah: siapa yang berani membuat keberlanjutan menjadi sistem, bukan sekadar slogan.

Di titik inilah perbankan memainkan peran kunci. Karena setiap proyek yang dibangun, setiap industri yang dibiayai, dan setiap keputusan kredit yang disetujui—pada akhirnya akan membentuk arah masa depan kita. Dan CIMB Niaga telah memilih untuk berada di pihak yang bertanggung jawab.

Dari Risiko Iklim ke Risiko Finansial

Dalam laporan Sustainability Report 2023, CIMB Niaga secara tegas mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) ke dalam sistem pembiayaan dan manajemen risiko mereka. Mereka tidak lagi melihat kerusakan lingkungan sebagai isu eksternal, melainkan sebagai risiko bisnis yang nyata.

Bank ini secara bertahap mengurangi eksposurnya terhadap industri batubara, sekaligus memperluas portofolio sustainability-linked financing. Hingga akhir 2023, lebih dari Rp 50 triliun telah disalurkan untuk sektor-sektor berkelanjutan—mulai dari energi terbarukan, pertanian organik, transportasi ramah lingkungan, hingga pengelolaan limbah.

Lebih dari itu, mereka telah menetapkan target untuk mencapai Net Zero Operational Emissions pada tahun 2030, dan mendesain sistem penilaian risiko berbasis iklim yang diberlakukan ke seluruh portofolio pinjaman.

Ekonomi Tanpa Etika Adalah Kegagalan yang Ditunda

Perekonomian Indonesia tidak bisa terus bergantung pada model “ekspansi hari ini, bayar kerusakan besok.” Keberlanjutan bukan tentang menanam pohon di hari Jumat atau menghapus plastik sekali pakai dari ruang rapat. Ia adalah tentang bagaimana modal mengalir dan ke mana ia ditujukan.

CIMB Niaga, melalui pendekatan sustainability-first financing, menempatkan akuntabilitas sebagai parameter pembiayaan. Proyek yang memiliki potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat harus melalui mekanisme evaluasi ketat, termasuk analisis risiko sosial, audit emisi karbon, dan jejak keberlanjutan rantai pasok.

Dengan bergabung dalam aliansi global seperti United Nations Principles for Responsible Banking (PRB), CIMB Niaga secara aktif menyesuaikan dirinya dengan standar internasional dalam praktik keuangan yang etis.

Keberlanjutan yang Tidak Elitis

Salah satu kekeliruan umum tentang keberlanjutan adalah melihatnya sebagai proyek kelas menengah urban: listrik tenaga surya, kendaraan listrik, atau label “organik” di rak swalayan. CIMB Niaga memperluas perspektif ini dengan memberdayakan pelaku ekonomi akar rumput—UMKM yang bergerak di bidang sirkular, petani yang beralih ke metode agroekologi, hingga usaha kecil pengolahan limbah.

Mereka tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga pelatihan, pendampingan bisnis, dan sistem pelaporan sosial. Dengan strategi ini, keberlanjutan tidak lagi menjadi agenda eksklusif—melainkan bagian dari narasi pembangunan yang lebih inklusif.

Narasi Baru tentang Pertumbuhan

Kita terlalu lama terjebak dalam dikotomi palsu: tumbuh atau bertahan. Padahal, pertumbuhan tanpa keberlanjutan adalah utang terhadap masa depan. Dan CIMB Niaga, dalam usianya yang ke-70, tampaknya memahami bahwa loyalitas publik tidak bisa lagi dibeli dengan bunga tabungan tinggi atau aplikasi yang mulus—tetapi dengan tanggung jawab.

Dalam setiap laporan keberlanjutannya, dalam setiap kebijakan pembiayaannya, CIMB Niaga menulis ulang narasi itu: bahwa bank bisa menjadi agen perubahan, bukan sekadar penyandang dana. Bahwa ekonomi yang baik adalah ekonomi yang bisa diwariskan.

Keberlanjutan bukan komitmen yang diumumkan. Ia adalah keputusan yang dibayar mahal hari ini, agar anak-anak kita tidak membayar lebih mahal di kemudian hari.

Dan CIMB Niaga—lembaga finansial yang bekerja dalam sunyi di balik layar keputusan-keputusan besar—telah memilih untuk membayar harga itu sekarang. Bukan karena kewajiban. Tapi karena akal sehat. © RED/PRIYONO SANTOSA

Related posts

Terus Dorong Inovasi Produk & Pelayanan, Bank Jakarta Diganjar Penghargaan Digital Brand

Winmar Holdings Resmi Luncurkan Infrastruktur Berbasis ESG untuk Dukung Pasar Karbon – Energi Terbarukan & Berkelanjutan

Winmar Holdings Resmi Luncurkan Infrastruktur Berbasis ESG untuk Dukung Pasar Karbon – Energi Terbarukan & Berkelanjutan