DENPASAR (POSBERITAKOTA) – Seiring meningkatnya perhatian publik terhadap krisis iklim, dunia usaha kini berada dalam sorotan yang semakin tajam. Sektor keuangan, sebagai simpul dari aliran modal, memainkan peran strategis dalam menentukan arah keberlanjutan pembangunan. Pertanyaannya: apakah bank-bank di Indonesia, khususnya bank swasta nasional, telah cukup progresif dalam mengadopsi prinsip keberlanjutan?
CIMB Niaga, salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, muncul sebagai salah satu pelaku yang menaruh komitmen cukup kuat terhadap isu ini. Sejak 2019, bank ini mulai mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam operasional dan sistem manajemen risikonya.
Dari Komitmen Global ke Implementasi Nasional
Melalui partisipasi aktif dalam Principles for Responsible Banking (PRB) dan Net-Zero Banking Alliance, CIMB Niaga menempatkan dirinya dalam jaringan keuangan global yang mendorong transparansi, pelaporan dampak, dan penyesuaian portofolio pembiayaan dengan target iklim jangka panjang.
Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk kebijakan pembiayaan berkelanjutan. Data internal CIMB Niaga per akhir 2023 menunjukkan bahwa bank ini telah menyalurkan lebih dari Rp 50 triliun untuk proyek-proyek berwawasan lingkungan dan sosial, termasuk energi terbarukan, transportasi hijau, efisiensi energi, dan pengelolaan air bersih.
Dari Risiko Bisnis Menjadi Risiko Iklim
Dalam dunia keuangan modern, isu lingkungan telah berubah dari faktor eksternal menjadi risiko internal. Perubahan iklim, kelangkaan air, bencana hidrometeorologi, dan tekanan terhadap sumber daya alam kini memiliki dampak langsung terhadap profitabilitas dan kelangsungan bisnis sektor-sektor yang dibiayai.
CIMB Niaga telah menerapkan kerangka penilaian risiko iklim dalam proses kredit. Proyek yang masuk dalam kategori sensitif lingkungan—seperti pertambangan, perkebunan skala besar, dan konstruksi besar-besaran—harus melewati tahap analisis risiko tambahan, termasuk uji kelayakan sosial dan lingkungan.
Peluang dan Tantangan
Meski arah kebijakan CIMB Niaga menunjukkan komitmen jangka panjang, tantangan tetap ada. Pertama, literasi keberlanjutan di kalangan pelaku UMKM masih tergolong rendah. Kedua, pembiayaan hijau kerap terkendala oleh kurangnya proyek bankable yang sesuai dengan kriteria ESG. Ketiga, kebutuhan akan sistem pelaporan dampak yang lebih transparan dan terstandar masih menjadi pekerjaan rumah.
Di sisi lain, peluang terbuka lebar. Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor energi terbarukan, pertanian organik, dan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Peran bank dalam membiayai transisi menuju ekonomi hijau sangat menentukan arah pembangunan nasional.
Penutup
Keberlanjutan dalam sektor keuangan tidak bisa lagi diperlakukan sebagai strategi tambahan. Ia harus menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan. CIMB Niaga telah memulai langkah ke arah tersebut, meski jalan masih panjang.
Yang dibutuhkan kini adalah konsistensi, peningkatan kapasitas internal, serta keterlibatan yang lebih luas dari masyarakat sipil untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan benar-benar berkontribusi terhadap masa depan yang lebih adil dan lestari. © RED/AGUS SANTOSA

