OLEH : DIMAS SUPRIYANTO
SAYA belajar menulis berita dari Rosman Sirait, redaktur halaman ‘Nasional’ koran harian Pos Kota di Jakarta. Pak Rosman, saya memanggilnya. Aksen Bataknya kental. Dia rajin berdiri di depan pintu redaksi, di sore hari, dengan rokok kretek Gudang Garam kesukaannya di tangan, sembari menunggui para reporter pulang dari liputan.
Dia selalu mengajukan pertanyaan yang khas: “Dapat berita apa kau ?” tanyanya, dengan aksen Bataknya yang kental. Saya menuturkan berita yang baru saya dapat. “Aah, cepat kau tulislah, ” perintahnya.
Biasanya, Pak Rosman mendatangi meja saya, saat menyusun lembar kertas dan karbon tindasannya, saat dapat giliran mengetik, sembari bersiap siap menulis. Di sekitar awal 1984 hingga ‘85, kantor redaksi ‘Pos Kota’’ di Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Barat, belum ber-AC. Pendingin ruangan hanya kipas angin. Suasana panas dan sesak. Mesin tik dipakai bergantian.
“Ayo tulis, ” katanya. Puluhan mesin ketik mulai berbunyi serentak. Saat berita ditulis reporter dan diserahkan. Sangat bising, khas ruang redaksi koran di era mesin ketik.
Saya diam dan berpikir keras. ”Belum dapat ‘lead’nya, ”saya mengaku terus terang. ‘Lead’ adalah alinea pertama dalam berita yang merangkum seluruh berita.
“Coba kau tulis begini, ” katanya sembari duduk di meja, tempat saya mengetik. Lalu dia mendikte, kata demi kata, dan saya mengetiknya: sebuah lead dengan 32 kata, pembuka berita, yang merangkum cerita dari bertia yang saya dapat.
“Nah, kau lanjutkan, dari yang kau dapat tadi, ” katanya pergi menuju meja lain, tempat reporter baru sedang kelabakan, bagaimana menuliskan berita yang dia dapat.
‘Lead’ atau teras berita adalah momok yang menakutkan bagi reporter baru. Ternyata juga momok bagi penulis kawakan. Opening itu segalanya. Orang biasa tertarik membaca karena judul dan kata pembuka.
Pengalaman tak terlupakan, saat sudah menjadi wartawan peliput kebudayaan, Pak Rosman mengajak saya menjadi juri Lomba Teater Antar Gereja di Setiabudi, Jakarta Selatan. Hasilnya, dalam sidang penurian, angka penilaian kami sama, dari pemenang yang kami pilih, meski kami duduk berjauhan.
Setiap kali saya merenungi perjalanan panjang saya sebagai reporter, wartawan, redaktur, dan pemimpin redaksi, hingga pensiun kini, saya tak pernah melupakan jasa besar Rosman Sirait. Pak Rosman.
Saya pernah menangis mengenang kebaikannya.
Pak Rosman, semoga damai di surga. AminNELSON SIAHAAN adalah redaktur saya, yang segera melihat potensi saya. Dialah yang menyunting naskah kiriman dan giat mempromosikan saya. Bahkan dia yang menjamin ketika saya pertama di kirim ke Malaysia dan Thailand pada tahun pertama menjadi wartawan. Selanjutnya keliling Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan hingga Amerika Latin.
Saya tak menyangka. Bang Rosman pernah diomeli Redaktur Pelaksana, karena dianggap memanjakan saya. Dia keras mengritik, tapi juga tetap mendukung kegiatan saya.
Bang Nelson, begitu saya memanggilnya, juga yang membawa saya ke dunia malam dan memperkenalkan saya pada dosa. Dosa yang manis, dosa yang indah. Mengajak mabuk dan pesta. Bang Nelson masih bugar di usianya yang 70 tahun, giat olahraga dan berenang di pantai.
Semoga selalu bugar dan sehat serta panjang umur buat Bang Nelson Siahaan.
SOFYAN LUBIS. Sebagai jurnalis saya banyak melakukan kesalahan yang terfatal ketika menulis tanpa konfirmasi. Pak Sofyan Lubis meminta keterangan saya, dan saya gemetar mengaku salah. Dia memaafkan, dan pada akhirnya membuat vonis melegakkan, “Jangan diulangi!”
Pak Sofyan Lubis beristerikan orang Cirebon dan di sela kerja berkisah romantikanya mondar mandir di antara Medan dan Cirebon.
H Sofyan Lubis selain pemimpin redaksi, kemudian jadi ketua PWI Jaya dan PWI Pusat. Dia juga menjadi Anggota DPR RI. Tak banyak berubah saat dia kembali ke redaksi. Di balik penampilannya yang galak, terasa keramahannya. “Jangan macam macam kau!” adalah gaya tegurannya, ditulis tawa. Dia sering jadi bahan ledekan Bang Sakti Sawung Umbaran, senior di olahraga. “Ah Sakti, kau ada ada saja, ” katanya.
Al Fathihah buat Pak H. Sofyan Lubis.
SIREGAR. Menjadi wartawan adalah nasehat jarak jauh yang saya terima dari Ashadi Siregar, novelis, Dosen Fak Publisistik di Universitas Gajah Mada, Jogyakarta.
Dari “Trilogi Kampus Biru” – novel bacaan saya saat masih SMA : “Cintaku di Kampus Biru”, “Kugapai Cintaku”, dan “Terminal Cinta Terakhir” (seluruhnya difilmkan) – berlanjut ke “Jentera Lepas” saya menjadi fans berat dan memperoleh nasehat lewat wawancaranya di koran, “Kalau mau disiplin menulis jadilah wartawan. Sebab wartawan harus menulis dan membuat laporan setiap hari, ” katanya.
Saya menyimak benar nasehatnya. Pada awalnya saya ingin menjadi penulis saja, membuat risalah, karangan dan opini. Bang Adi – panggilan akrab Ashadi – lah yang mendorong saya ke jurnalistik, meski dari jauh.
Bang Adi masih menulis novel hingga masa pensiunannya. Inspirasi darinya takterlupakan.Sirait, Siahaan, Lubis dan Siregar adalah orang orang Batak yang berjasa dalam hidup dan perjalanan panjang saya sebagai wartawan.
SEJARAH pers Indonesia mencatat, orang orang Batak memiliki peran yang cukup signifikan baik sebagai jurnalis, pemimpin redaksi, maupun pemilik media. Mereka dikenal dengan semangat juang yang tinggi, integritas, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran.
Mereka dikenal karena gaya bahasa yang lugas, dan keberanian dalam melaporkan berbagai peristiwa penting dan ketajaman dalam menganalisis. Beberapa tokoh Batak telah memberikan kontribusi besar dalam memajukan dunia pers di tanah air.
Julukan ‘King of the Java Press’ pernah diberikan kepada Parada Harahap karena kiprahnya dalam dunia jurnalistik yang melejit terutama di tanah Jawa tahun 1922 – sebelum negeri republik kita lahir. Berkat karier jurnalistik yang meningkat pesat, Parada Harahap berhasil mendirikan kantor berita pertamanya yang bernama “Algemene Pers en Nieuws Agentschaap” alias ‘Alpena’.
Memang saya memperkaya ilmu jurnalistik saya dari kebersamaan dengan H. Rosihan Anwar (Minang), dari buku buku PK Ojong dan Jacob Oetama (Tionghoa) , Goenawan Mohamad dan Romo Mangunwijaya (Jawa), H. Mahbub Junaedi (Betawi), MAW Brower (Belanda), dan deretan penulis opini lainnya. Akan tetapi, nama nama orang Batak yang saya sebut di atas merupakan pembimbing langsung di lapangan.
Rosman Sirait, Nelson Siahaan, H. Sofyan Lubis, dan Ashadi Siregar, juga Sabam Leo Batubara, Parakriti Simbolon, dan nama lainnya, mereka memberikan jalan dan jasa besar dalam karir jurnalistik saya, dan akan saya kenangkan sampai hari akhir nanti.
Semoga kami jumpa lagi di alam keabadian. (***/goes)
(PENULIS : DIMAS SUPRIYANTO adalah Wartawan Senior POSKOTA)