BEKASI (POSBERITAKOTA) – Hari ‘Jumat‘ tergolong unik dalam Islam. Kenapa? Karena dari segi penamaan, pilihan nama ‘Jumat‘ sungguh sangat berbeda dari nama-nama hari lainnya.
Bahkan, kata ‘Jumat‘ seperti dalam Qamus Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Ma’ashir justru dapat dibaca dalam tiga bentuk. Masing-masing: Jama’ah, Jum’ah dan Juma’ah yang dapat diartikan berkumpul.
Karena itu pula, seperti yang disampaikan Ustadz Muhammad Andi dalam khutbahnya di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, hari ‘Jumat‘ adalah hajinya bagi orang-orang fakir.
“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir. Dan, hal itu ada dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Qadia’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas,” sebut Ustadz Andi saat mengawali khutbahnya yang penuh makna di hadapan ratusan jamaah yang memadati Masjid Jami Al-Ikhlas, Jumat (25/7/2025).
Sementara itu, lanjut Ustadz Andi, hari-hari lain memiliki makna yang mirip dengan urutan angka hari dalam sepekan. Ahad sebagai hari pertama, Isnain (kedua), Tsulatsa (ketiga), Arbi’a (keempat), Khamis (kelima) serta Sabt yang berakar kata dari Sab’ah sebagai hari ketujuh.
Berbeda lagi pada masa Arab Jahiliyah. Disebutkan Ustadz Andi bahwa untuk nama-nama hari terdiri dari Syiyar (Sabtu), Awwal (Senin), Awwal (Ahad), Ahwan (Senin), Jubar (Selasa), Dubar (Rabu), Mu’nis (Kamis) dan Arubah (Jumat). “Kemudian, nama-nama tersebut, diubah dengan datangnya Islam,” urainya.
Melanjutkan khutbahnya, Ustadz Andi menyebutkan pula bahwa Rasullullah SAW tidak hanya melakukan revolusi moral. Tapi, juga revolusi bahasa. Sedangkan di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah, ‘Arubah merupakan momentum untuk menampilkan kepongahan, kebangaan, berhias dan semacamnya.
“Seperti dalam Islam sendiri, ‘Arubah menjadi Jama’ah yang mengandung arti berkumpul. Tentu saja lebih dari sekadar berkumpul, karena dalam syari’at, Jumat mendapatkan julukan sayyidul ayam atau rajanya hari. Juga dengan kata lain, Jumat menduduki posisi paling utama, yakni di antara hari-hari lainnya dalam sepekan,” ulasnya, panjang lebar.
Bukan hanya itu, Ustadz Andi juga menjabarkan bahwa hari Jumat menjadi semacam konferensi mingguan bagi umat Islam. Karena, di hari Jumatlah ada sholat berjamaah dan khutbah Jumat. Artinya, apa? Setiap umat Islam laki-laki yang tidak memiliki uzur syar’l wajib ‘ain melaksanakannya.
“Artinya, lebih dari sebatas berkumpul, Jumat adalah momen konsolidasi persatuan umat dan sekaligus memupuk ketaqwaan melalui nasehat-nasehat positif dari sang khotib. Tentu keutamaan ini bersamaan dengan asumsi bahwa jamaah melaksanakan sholat Jumat dengan kesungguhan penuh. Menyimak khotbah secara baik. Jadi, bukan cuma rutinitas sekali sepekan untuk sekadar menggugurkan kewajiban,” katanya, lagi.
Selanjutnya masih dalam khutbah Jumatnya, Ustadz Andi menggambarkan bahwa amalan – amalan di hari Jumat , juga bertebaran. “Antara lain adalah dengan memperbanyak baca shalawat, memperbanyak doa, bersedekah, membaca Surat al-Kafhi, Surat al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat an-Nas. Selain itu ibadah-ibadah lainnya. Kesemua itu masing-masing amalan memiliki fadhilah yang luar biasa,” ulasnya.
Disebutkan Ustadz Andi bahwa Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, Amal Yaum wa Lailah, mengatakan ;
ويقرأ بعد الجمعة قبل أن يتكلم: الإخلاص والمعوذتين (سبها سبعا)، ويكان من
الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم سوم الجمعة وليلة الجمعة ويصلى
راتبة الجمعة التي بعدها في بيته لا في المسجد، وما ذا يفعل بعدها؟ ويعلمى
بعدها لزيارة أخ أو عيادة مريض أو حضور جنازة أو عقد لقاح
“Nabi Muhammad SAW membaca Surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas usai sholat Jumat sebanyak tujuh kali dan beliau juga memperbanyak shalawat pada hari Jumat dan malamnya. la juga mengerjakan sholat sunah, setelah shalat Jumat di rumahnya, tidak di masjid. Setelah itu, apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW? Beliau mengunjungi saudaranya, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah (bertakziah) atau menghadiri akad nikah.”
Masih dalam khutbahnya, Ustadz Andi kemudian menggambarkan bahwa dengan demikian, umat Islam seolah diajak untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari khusus untuk memperbanyak ibadah. Tidak jarang, Jumat dijadikan oleh para ulama untuk mengistirahatkan diri sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan duniawi. Dan, juga untuk mengkhususkan diri beramal saleh di hari Jumat.
“Sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW, hari Jumat bukan semata untuk meningkatkan ritual ibadah kepada Allah SWT. Tapi, juga berbuat baik kepada sesama, seperti bersilaturahim, berempati kepada orang yang kena musibah, dan lain-lain,” jelasnya.
Oleh karena itu, papar Ustadz Andi lebih lanjut, di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dan Ibnu Abbas disebutkan:
الجمعة حج الفقراء
“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir“.
Selain itu, dijabarkan pula oleh Ustadz Andi bahwa hadits tersebut adalah penegasan tentang betapa istimewanya hari Jumat dibanding hari-hari biasa lainnya. Karena itu patut bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak untuk muhasabah, menaikkan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Memperbaiki hubungan sosial serta memperbanyak amal-amal sunnah lainnya.
“Cukuplah enam hari kita sibuk dan larut dalam kesibukan duniawi. Apa salahnya menyisihkan satu hari untuk menyegarkan kondisi rohani kita. Yakni agar tidak layu, kering atau bahkan mati. Semoga khotib al-faqir dan jamaah sekalian dapat melaksanakan anjuran ini dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran diri,” ungkapnya.
Pada bagian kedua khutbahnya, Ustadz Andi juga menukil. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah
hadits ;
سيّدُ الأَيَّامِ عِندَ الله يَوْمُ الْجُمُعَةِ وهو أعلم من يوم النحر ويوم الفطر وفيه
خَمْسَ حصَالَ فيه خلق الله آدم وفيه البط من الجنة إلى الأرض وفيه توفي
وَفِيهِ سَاعَةً لَا يَسان العبد فيها الله شيئًا لا أعطاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِنَّمَا أَو قطيعة
رجع وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَة وما من ملك مقرب ولا مقام ولا أرض ولا راح ولا
جبل ولا حجر إلا وهو مطلق من يوم الجمعة
“Rajanya hari di sisi Allah SWT adalah hari Jumat. la lebih agung daripada hari raya kurban dan hari raya Fathis. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah SWT menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah SWT mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah SWT, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali la khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat.”
Menurut Ustadz Andi terkadang di antara kita sering lupa, tak merasakan, keutamaan hari Jumat karena tertimbun oleh rutinitas sehari-hari. Kesibukan yang melingkupi kita tiap hari sering membuat kita lengah sehingga menyamakan hari Jumat tak ubahnya hari-hari biasa lainnya.
Padahal setiap tahun ada bulan-bulan utama, di tiap bulan ada hari-hari utama dan di tiap hari ada waktu-waktu utama. Masing-masing keutamaan memiliki kekhususan sehingga menjadi momentum yang sangat baik untuk merenungi diri, berdoa, bermunajat, berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
“Keistimewaan hari Jumat bisa dilihat dan disunnahkannya mandi Jumat. Dalam Al-Hawi Kabir karya al-Mawardi, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa kendati shalat Jumat dilaksanakan pada waktu shalat dhuhur, mandi Jumat boleh dilakukan semenjak dinihari, setelah terbit fajar. Mandi adalah simbol kebersihan dan kesucian diri. Setelah mandi, seseorang dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik, terutama warna putih, sebelum berangkat menuju shalat Jumat,” ungkapnya.
Sebagai penutup khutbahnya, Ustadz Andi menyebutkan bahwa dalam hal ini umat Islam diperingatkan untuk menyambut hari istimewa itu dengan kesiapan dan penampilan yang juga istimewa.
Bahkan salam Bidayatul Hidayah, Imam Abu Hamid al-Ghazali menyebut hari Jumat sebagai hari raya kaum mukmin (idul mu’minin). Termasuk Imam al-Ghazali malah menyarankan agar umat Islam mempersiapkan diri menyambut hari Jumat sejak hari Kamis, dimulai dengan mencuci baju, lalu memperbanyak membaca tasbih dan istighfar pada Kamis petang, karena saat-saat tersebut sudah memasuki waktu keutamaan hari Jumat.
“Selanjutnya, kata Imam al-Ghazali, berniatlah puasa hari Jumat sebagai rangkaian dari puasa tiga hari berturut-turut Kamis Jumat-Sabtu. Sebab, ada larangan puasa khusus hari Jumat saja,” pungkas Ustadz Andi. © RED/AGUS SANTOSA


