Industri perbankan global sedang mengalami titik balik. Dalam lima tahun terakhir, gaya hidup masyarakat berubah lebih cepat daripada satu dekade sebelumnya. Kehadiran smartphone, pandemi yang mempercepat adopsi teknologi, serta kebijakan pemerintah yang mendorong digitalisasi membuat layanan keuangan tidak lagi bisa bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Digital banking bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
CIMB Niaga, yang tahun ini genap berusia 70 tahun, membaca arah perubahan itu dengan jeli. Dari bank yang berdiri pada 1955 dan sempat dikenal luas karena menghadirkan ATM pertama di Indonesia pada 1987, CIMB Niaga kini menempatkan transformasi digital sebagai inti strategi bisnis.
Perubahan Perilaku Nasabah
Bank Indonesia mencatat, pada 2024 nilai transaksi digital banking di Indonesia mencapai Rp67.800 triliun, meningkat 25% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, transaksi tunai terus menurun.
Tren ini tidak bisa diabaikan. Nasabah, terutama generasi milenial dan Gen Z, kini menginginkan layanan bank yang serba cepat, praktis, dan tanpa hambatan. Mereka lebih memilih aplikasi mobile ketimbang antre di cabang.
“Kalau aplikasi bank lemot, saya pindah ke yang lain. Banyak pilihan sekarang,” kata Rizky, seorang pekerja start-up di Jakarta. Pernyataan singkat ini menggambarkan realitas kompetisi perbankan: loyalitas nasabah ditentukan bukan oleh janji, melainkan oleh pengalaman langsung.
OCTO Mobile: Dari Transfer ke Super-App
Menjawab tantangan itu, CIMB Niaga meluncurkan OCTO Mobile dan OCTO Clicks. Awalnya, aplikasi ini hanya menawarkan fitur dasar seperti cek saldo dan transfer. Kini, OCTO Mobile berkembang menjadi super-app finansial yang memungkinkan nasabah melakukan hampir semua transaksi: pembayaran tagihan, investasi reksa dana, top-up e-wallet, bahkan pembukaan deposito tanpa harus datang ke cabang.
“Target kami sederhana: semua layanan finansial harus ada di genggaman,” ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Strategi ini terbukti berhasil. Pada 2024, jumlah pengguna aktif OCTO Mobile mencapai lebih dari 10 juta, dengan volume transaksi digital sebesar Rp4.800 triliun. Pertumbuhan ini melampaui rata-rata industri.
Kesenjangan Akses
Namun, tidak semua masyarakat bisa menikmati transformasi digital dengan mudah. Di banyak wilayah pelosok, internet masih menjadi barang mahal. Seorang pedagang di Klungkung, Bali, mengaku lebih nyaman menggunakan ATM daripada aplikasi. “Kalau salah pencet di ponsel, siapa yang tanggung? Kalau di ATM, saya masih bisa tanya satpam,” katanya.
Pernyataan itu menegaskan adanya kesenjangan: sementara kota besar melesat dengan digital banking, sebagian daerah masih berjuang dengan infrastruktur dasar.
CIMB Niaga mencoba menjawab tantangan ini melalui program literasi keuangan digital. Workshop digelar untuk UMKM, komunitas desa, hingga mahasiswa. Namun, pekerjaan besar masih menunggu: bagaimana memastikan digitalisasi benar-benar inklusif.
Keamanan Sebagai Taruhan
Transformasi digital membawa risiko baru: kejahatan siber. Penipuan online, phising, hingga pembajakan akun menjadi ancaman serius. CIMB Niaga merespons dengan investasi besar pada biometric authentication, enkripsi end-to-end, serta pemantauan transaksi berbasis AI.
“Kami mengutamakan safety by design. Setiap inovasi digital harus aman sejak tahap awal,” kata Budi Nugroho, Chief Information Security Officer CIMB Niaga.
Tetapi sekali lagi, teknologi hanya setengah cerita. Literasi pengguna tetap krusial. Tanpa edukasi, celah kejahatan akan terus ada.
Dari ATM ke Aplikasi
Perjalanan CIMB Niaga menggambarkan dinamika teknologi. Pada 1987, mesin ATM sempat dianggap aneh dan menimbulkan ketidakpercayaan. Namun, kini ATM sudah menjadi hal biasa. Hal serupa terjadi dengan aplikasi mobile: awalnya diragukan, lama-kelamaan akan menjadi standar baru.
“Inovasi selalu membawa resistensi. Tugas bank adalah memastikan resistensi itu bisa diatasi dengan edukasi dan pelayanan yang baik,” kata Prof. Rudi Hartono, ekonom Universitas Indonesia.
Masa Depan Digital Banking
Ke depan, digital banking tidak hanya bicara soal aplikasi. Integrasi dengan ekosistem gaya hidup menjadi arah berikutnya: pembayaran transportasi, belanja daring, hingga layanan kesehatan digital bisa terhubung dengan aplikasi bank.
CIMB Niaga sudah bergerak ke arah ini, dengan kolaborasi bersama e-commerce dan startup fintech. Namun, pertanyaannya: apakah bank bisa menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan, antara kecepatan dan inklusi?
Tujuh puluh tahun perjalanan CIMB Niaga menunjukkan satu pelajaran penting: bank yang tidak berinovasi akan tertinggal. Dari ATM pertama hingga super-app OCTO Mobile, inovasi menjadi fondasi pertumbuhan.
Digital banking hari ini bukan sekadar layanan tambahan, tetapi infrastruktur baru perekonomian. Dan CIMB Niaga, di usia 70, menunjukkan bahwa mereka siap menjadi bagian dari masa depan itu. © RED/Mochamad Zaenal Efendi

