Jangan Hanya Dijadikan Seremonial, HIKMAH dari MAULID NABI MUHAMMAD SAW

OLEH : BENZ JONO HARTONO

HIKMAH AWAL

KALAU Nabi Muhammad SAW hadir hari ini, Beliau tidak akan duduk di kursi VIP bersama pejabat korup, politisi licik atau konglomerat rakus yang pura-pura cinta Rasul. Beliau malah akan berdiri bersama rakyat kecil yang digusur, ditindas dan diperas.

Janganlah terbuai dengan panggung Maulid Nabi yang penuh Baliho dan shalawat lantang. Itu semua menjadi kosong jika besok masih ada korupsi, ketidakadilan serta sikap keserakahan yang merajalela.

Cinta Rasul bukan di spanduk, juga bukan di mikrofon. Tapi, di kejujuran, kesederhanaan dan keberanian melawan kedzaliman.

Kalau Maulid Nabi hanya jadi pesta makan dan pencitraan, maka itu bukan penghormatan pada Nabi Muhammad SAW itu sendiri, justru merupakan penghinaan.

SEANDAINYA NABI HADIR HARI INI

Beliau akan menegur pejabat yang rajin bershalawat di panggung, tapi sibuk menandatangani izin tambang yang menghancurkan bumi.

Beliau juga akan menolak politisi yang berteriak ‘takbir’ di depan kamera. Namun perilakunya malah menjual suaranya di parlemen untuk undang-undang titipan oligarki.

Beliau juga akan membongkar pengusaha rakus yang pura-pura dermawan di acara Maulid Nabi. Tapi, sikapnya menindas buruh demi menumpuk laba.

Bahkan, Beliau bakal terus mengingatkan masyarakat yang sibuk selfie di pawai Maulid Nabi. Namun bersikap tega saling menghina di media sosial (Medsos).

HIKMAH AKHIR

Hidupkan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam setiap keputusan. Mulai dari rakyat biasa hingga Presiden sebagai pimpinan nasional.

Hidupkan pula akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sosial dan politik. Sebab, kalau benar-benar diri kita cinta pada Rasul, maka berhentilah menipu rakyat. (***/goes)

(PENULIS : BENZ JONO HARTONO adalah Praktisi Media Massa di Jakarta)

Related posts

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Pendudukan Jepang-Teror Kempeitai dan Kriminalisasi Informasi (Seri-19)