Demokrasi Zaman Now, KETIKA ALGORITMA Jauh Lebih Berdaulat Ketimbang Rakyat

OLEH : BENZ JONO HARTONO

DEMOKRASI Zaman Now sudah pindah rumah. Ia tak lagi tinggal di gedung parlemen atau rapat-rapat elite politik.

Sekarang alamat resminya ada di Facebook, Instagram, TikTok, X (Twitter) dan WhatsApp (WA) grup keluarga.

Dari sanalah urusan bangsa ini diatur, mulai dari jualan skincare abal-abal, debat politik ala warung kopi, sampai seruan aksi yang berujung lempar batu.

JEMPOL LEBIH BERKUASA KETIMBANG KURSI DPR

Kalau dulu suara rakyat dihitung lewat kotak suara, kini lewat jumlah like, retweet dan viewer. Satu orang dengan HP bisa lebih berpengaruh daripada pejabat yang duduk di kursi empuk DPR.

Bedanya, kalau pejabat butuh golden ticket dari partai, influencer hanya butuh lighting murah dan caption provokatif.

Demokrasi media sosial (Medsos) ini bahkan lebih ‘efisien’ ketimbang birokrasi negara.

Mau bikin bisnis? Cukup live streaming dan teriak “murah, murah, murah!” Dagangan pun laris.

Mau jatuhin lawan? Tinggal bikin konten gosip setengah benar, setengah bohong, Netizen bisa menghakimi sendiri.

DARI HASHTAG KE JALANAN

Fenomena paling memukau adalah ketika hashtag jadi bahan bakar kerusuhan. Awalnya santai, trending topic soal harga beras, isu korupsi, atau kebijakan pemerintah yang bikin geleng – geleng kepala. Tapi setelah diviralkan, berubah jadi ajakan demo.

Masalahnya, demo ini seringkali tidak punya ujung. Dari niat mulia memperjuangkan keadilan, ujung-ujungnya bakar ban, lempar batu dan selfie sambil teriak “revolusi!” untuk konten.

Demokrasi berubah jadi reuni akbar orang-orang yang frustasi tapi butuh panggung.

DEMOKRASI ATAU DAGELAN

Inilah titik lucunya, orang percaya Medsos adalah suara rakyat.

Padahal, suara itu seringkali sudah direkayasa buzzer, pasukan cyber atau akun anonim yang tidak jelas siapa pemiliknya.

Demokrasi Medsos ini kadang lebih mirip pasar malam, ramai, bising, penuh tipu-tipu, tapi bikin ketagihan.

Mau cari kebenaran? Susah. Yang ada hanyalah siapa yang lebih cepat bikin narasi dramatis. Mau cari aspirasi rakyat? Sulit. Yang lebih kelihatan malah adu emosi, debat kusir dan teori konspirasi.

Demokrasi Medsos adalah demokrasi dengan sistem “siapa paling viral, dia yang berkuasa”.

Dari bisnis sampai demonstrasi, dari obral diskon sampai obral kebencian, semuanya diputuskan oleh algoritma.

Jika demokrasi klasik lahir dari perjuangan panjang rakyat melawan tirani, maka demokrasi Medsos lahir dari kuota internet dan paket data unlimited malam hari.

Dan, jika dibiarkan, bukan mustahil negara ini akan lebih sering terbakar oleh trending topic ketimbang api revolusi sejati. (***/goes)

(PENULIS : BENZ JONO HARTONO adalah Praktisi Media Massa, tinggal di Jakarta)

Related posts

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Pendudukan Jepang-Teror Kempeitai dan Kriminalisasi Informasi (Seri-19)