PosBeritaKota.com
Opini Syiar

Dari Video YouTube Al Azhar Mesir, AKIDAH YANG MENYATUKAN & Bukan Memecah Belah

OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II

BEBERAPA waktu lalu, saya menonton video YouTube dari seorang adik kelas saya di Al-Azhar Mesir. Dalam tayangan itu, beliau berbicara dengan semangat dalam memperjuangkan pencerahan akidah umat ditengah kerasnya cara berpikir sebagian kalangan dan kebablasan sebagian yang lain. Sudah lama saya kagum dengan kecerdasan dan keluasan ilmu junior saya ini.

Karena video junior saya ini, saya jadi menerawang, dimana orang-orang di kota, dengan segala kesibukan dan tekanan hidupnya, mereka beragama dengan cara yang unik. Di satu tepi, ada yang keras dengan memandang perbedaan dengan curiga dan cepat menghakimi.

Di tepi lain, ada yang bablas menjadikan agama hanya simbol moral tanpa makna syariat dan spiritual yang berarti. Di tengah dua ekstrem inilah saya merasa perlu menulis. Tulisan ini lahir dari keyakinan bahwa akidah seharusnya melahirkan sifat muslim yang menyatukan agama Allah ini, bukan memecah-belah.

Umat Islam hari ini terlihat seperti tubuh besar yang kehilangan keseimbangan dan harmoni. Di satu sisi, kita menghadapi tekanan global yang makin rumit seperti krisis moral, ekonomi, dan geopolitik yang tak berkesudahan. Tapi di sisi lain, energi kita justru habis untuk bertengkar di dalam rumah sendiri.

Sesama muslim saling mencurigai, saling menyesatkan, bahkan yang ironis mudah mengkafirkan. Padahal, yang kita lawan seharusnya bukan sesama saudara, melainkan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketimpangan dan kezaliman yang mencabik wajah peradaban Islam.

Di sinilah momentumnya kita perlu kembali menengok warisan intelektual Islam yang dalam sejarah peradaban Islam pernah menjadi jantung pemersatu dan kebangkitan umat, warisan itu adalah teologi Asy‘ariyyah.

Asy‘ariyyah berdiri di atas satu prinsip yang sederhana tapi sangat mendalam yang diambil dari literatur sang pendulum warisan intelektual ini yaitu Imam Abu Hasan al Asy’ari dari Kitab karya beliau Al Ibanah :

لا نكفر أحدا من أهل القبلة

Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahlul Qiblah“.

Prinsip ini tidak seperti yang kerap dituduhkan oleh sebagian kaum Muslimin yaitu fitnah terhadap Asy’ariyyah sebagai paham relativisme agama. Prinsip Asy’ariyyah ini lahir dari cara pandang yang matang dalam memahami perbedaan pemikiran di antara sesama umat Islam.

Imam Abu Hasan Al Asy‘ari tidak menghapus batas batas fundamental akidah, akan tetapi menolak dengan tegas terhadap segala hal yang menjadikan perbedaan dalam furu‘ sebagai alasan untuk membid’ahkan dan mengkafirkan saudara seiman selama masih didalam koridor Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah.

Teologi ini sejatinya tumbuh dari kesadaran bahwa Islam hadir bukan untuk menambah perpecahan kelompok-kelompok perbedaan yang berseteru, tetapi untuk memperluas konsep rahmat di tengah manusia. Maka, dalam bingkai Ahlussunnah wal Jama‘ah, Asy‘ariyyah mengajarkan keseimbangan antara kejelasan prinsip dan keluasan pandangan.

Dalam 1 abad terakhir, kebangkitan gerakan Salafi kontemporer membawa semangat purifikasi yang sebenarnya lahir dari niat baik, namun seringkali terjebak kepada sikap eksklusivisme. Seperti yang dicatat oleh Yasir Qadhi yaitu seorang da’i intelektual populer di dunia barat yang mantan pengikut Gerakan Salafi, dalam buku terbarunya Understanding Salafism :

Salafism has a major problem with intolerance and exclusivism… This exclusive attitude is the main problem of Salafi groups.” (2015:47)

Salafisme memiliki masalah besar dengan intoleransi dan eksklusivisme… Sikap eksklusif inilah masalah utama kelompok-kelompok Salafi.

Masalahnya krusialnya terletak pada klaim monopoli kebenaran yang seakan-akan hanya mereka yang benar-benar mengikuti manhaj salaf. Padahal, kalau kita mau jujur kepada metodologi salafus shalih itu sendiri, membentuk kelompok eksklusif dengan nama “Salafi” justru tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, para tabi’in, para tabi’uttabi’in dan para ulama salafusshalih.

Mereka hidup dengan iman yang terbuka diantara sesama muslim, namun tidak terlalu longgar. Lugasnya, tegas dalam akidah, tapi tidak keras dalam pemikiran, pendapat, tindakan dan pergaulan.

Inklusivitas Asy‘ariyyah berbeda amat jauh dari sinkretisme yang sering diusung kaum sekuler liberal. Asy’ariyyah tidak menghapus batas plafon keimanan, akan tetapi mengajarkan cara menghormati perbedaan tanpa mengorbankan prinsip aqidah.

Konsep inklusivitas dalam teologi Asy’ariyyah terletak pada pendekatannya yang moderat dalam memahami teks-teks agama (ayat-ayat mutasyabihat) yang menolak sikap literalis yang kaku (seperti aliran puritanisme/Salafi modern saat ini) dan penakwilan filosofis yang ekstrem (seperti Mu’tazilah/liberalisme saat ini).

Aqidah Asy‘ariyyah berpijak kokoh pada apa yang dinamakan dengan prinsip dasar utama agama yaitu ushuluddin, yaitu tentang keberadaan Allah, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya yang sempurna, serta seluruh rukun iman yang disepakati.

Namun, dalam bingkai Ahlussunnah wal Jama‘ah, inklusivitas itu tetap menjaga manhaj yang jelas, tidak membuka pintu bagi relativisme akidah. Para pengikutnya tetap merujuk kepada tradisi otentik ulama salafus shaleh, bukan kepada opini bebas yang lahir dari logika tanpa wahyu.

Kalau kita mau jujur, fleksibilitas para sahabat salafus shaleh justru jauh lebih besar daripada yang dibayangkan oleh sebagian pengklaimnya dari kaum puritan. Dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan Buraidah yang ditakhrijkan oleh Imam Tirmidzi nomor 3689, Bilal bin Rabah pernah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW, Bilal melakukan shalat sunnah setiap kali selesai berwudhu, sebagai bentuk syukur atas kesucian dirinya.

Sholat sunnah ini kelak dikenal sebagai solat Syukrul Wudhu. Ketika Nabi SAW mendengar hal ini beliau tidak menegurnya malah memujinya atas amal tersebut karena Rasulullah mendengar langkah sandalnya Bilal di surga yang ternyata atas klarifikasi Bilal bahwa hal ini terkait dengan amalan ini.

Ini menunjukkan bahwa Nabi SAW membenarkan inovasi amal yang berlandaskan cinta dan niat ikhlas, selama tidak bertentangan dengan syariat. Dari sinilah para ulama menyebutnya sebagai bid‘ah hasanah, yaitu amal baru yang disetujui karena selaras dengan ruh ajaran Islam.

Eksklusivisme teologis yang berkembang belakangan ini dikalangan Salafisme modern justru menimbulkan masalah masalah baru dalam tubuh umat. Pertama, pandangan ekslusivisme ini memecah masyarakat Islam menjadi “kami dan mereka”, membentuk dikotomi kami vs bid‘ah yang tidak sehat.

Kedua, menutup ruang dialog dan pembelajaran lintas mazhab, padahal sejarah peradaban Islam tumbuh dari dinamika pemikiran madzhab. Ketiga, dalam beberapa kasus, ekslusivisme bahkan berujung pada kekerasan simbolik terhadap sesama muslim yang hanya berbeda cara berpikir.

Inilah yang diingatkan Yasir Qadhi dalam bukunya Understanding Salafism sebagai “violence against innocence” yaitu kekerasan terhadap yang sebenarnya tidak bersalah, hanya karena perbedaan pandangan belaka.Nampaknya, kini saatnya kita mengembalikan teologi Asy‘ariyyah ke panggung utama berIslam. Umat perlu dididik kembali untuk memahami bahwa keragaman dalam mazhab adalah rahmat dan bukan merupakan ancaman.

Ulama klasik seperti Imam Ghazali telah mencontohkan bagaimana perbedaan bisa dikelola dengan adab ilmiah, jauh dari perilaku caci maki. Dalam dunia Islam yang kian bising oleh fanatisme dan polarisasi, kita perlu menghidupkan kembali tradisi munazharah yang beradab yaitu perdebatan ilmiah yang tidak menyalakan api kebencian. Sebab, seperti sabda Nabi SAW :

مَنْ سَبَّ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَقَدْ فَسَقَ

Mencaci maki sesama muslim adalah kefasikan”. (HR. Bukhari-Muslim)

Dunia Islam butuh teologi Asy’ariyyah yang inklusif dan pola pendekatan yang memanusiakan, bukan yang memecah belah dan menghakimi. Kalau kita mau jujur, bahkan Ibnu Taimiyah yang sering diklaim sebagai ikon eksklusivisme pun menulis di akhir kitabnya (Majmu‘ al-Fatawa) dengan penuh rasa rendah hati :

أنا لا أكفر أحدا من الأمة

Saya tidak mengkafirkan seorang pun dari umat ini”.

Itulah semangat sejati Ahlussunnah wal Jama‘ah yang diwariskan oleh para ulama besar sepanjang sejarah yang mengutamakan menjaga akidah dengan ilmu sekaligus menjaga persaudaraan dengan adab.

Jika umat ini ingin kembali berwibawa, maka harus berhenti bertengkar tentang siapa yang paling salaf, dan mulai bertanya: apakah kita masih meneladani akhlak para salaf yang sesungguhnya?

Kita sibuk menegakkan kebenaran, sampai lupa menjaga cara kita menegakkannya. Umat Islam tidak sedang kekurangan semangat, tapi sedang kehilangan kesejukan berpikir. Ditengah zaman ultra modern yang mengagungkan kecepatan, teologi Asy‘ariyyah mengajak kita untuk kembali kepada apa yang di istilahkan oleh seorang mujtahid Asy’ariyyah era modern Shekh Dr Yusuf Al Qaradhawi yaitu : Al Rusyd, bijak dengan selalu belajar, merenung, berdialog, terbuka terhadap sesama Ahlusunnah dan menyadari bahwa iman itu tumbuh dalam ruang berpikir dan gerak yang lapang, bukan didalam benteng yang sempit.

Saat kita menolak mengkafirkan saudara seiman, ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak kedewasaan Aqidah. Nampaknya kita harus belajar lagi dari apa yang ditulis oleh Imam Al Ashbahani dalam kitabnya Hilyat Al Awliyaa :

مَنْ عَرَفَ اللهَ تَوَاضَعَ لِعِبَادِهِ،

Barang siapa mengenal Allah, dia akan merendahkan diri di hadapan hamba-hamba-Nya“.

وَمَنْ أَحَبَّ الحَقَّ رَحِمَ الْخَلْقَ

Barang siapa mencintai kebenaran, dia akan berbelas kasih kepada makhluk”.

فَكُلُّ عِلْمٍ لَا يُنْبِتُ الْحِلْمَ فَهُوَ جَهْلٌ مُتَلَبِّسٌ بِصُورَةِ الْعِلْمِ

Setiap ilmu yang tidak menumbuhkan kelembutan, hanyalah kebodohan yang menyamar dalam rupa ilmu. (***/goes)

(PENULIS : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama Besar dari Jawa Timur)

Related posts

Sabtu 9 Desember, MAJELIS SAUNG AKHIRAT DAARUL AHGAFF INDONESIA Bikin VGH Babelan Bersholawat Nabi Muhammad SAW

Redaksi Posberitakota

Bagaimana Soal Harta Kita yang Sesungguhnya? Perlu Disiapkan untuk Kehidupan Sesudah Kematian

Redaksi Posberitakota

Peringati Maulid Nabi, MAJLIS DZIKIR DARUL HIKMAH & MUSHOLA AS SHIDDIQIYAH Babelan Bekasi Menghadirkan Penceramah Abuya KH Munawwir Aseli MA

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang