BALI (POSBERITAKOTA) – Pulau Dewata (Bali) terus ‘menyihir‘ para pelancong (turis), baik itu yang datang dari mancanegara (internasional) maupun lokal (nasional) berbagai daerah. Bahkan dengan keberagaman kekayaan alam (pantai) dan keunikan tradisi budayanya, semakin dikemas agar terus menjadi daya tarik bagi siapapun untuk datang mengunjungi.
Dalam kesempatan mengikuti media gathering Wartawan Balaikota Pemprov DKI/DPRD DKI Jakarta (Balkoters) di Pulau Dewata (Bali), POSBERITAKOTA tak ingin melewatkan kesempatan menikmati pergelaran ‘Tari Kecak‘ yang dihelat di Pantai Melasti, Ungasan, Jumat (7/11/2025) sore kemarin.
Kurang lebih sekitar satu jam lamanya menikmati pergelaran ‘Tari Kecak‘, serasa memperoleh kesan mendalam betapa kekayaan alam (pantai) dan keunikan tradisi budaya Bali, begitu dieksplore. Hal tersebut, tentu saja tidak lepas dari adanya political will dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang begitu kuat.
Keberadaan ‘Tari Kecak‘ juga tak bisa dipungkiri memiliki kepopuleran di mata masyarakat luas. Setingkat dengan ‘Tari Saman‘ sebagai tarian tradisional dari Suku Gayo di Aceh atau ‘Tari Tor Tor’ dari suku Batak Toba di Sumatera Utara.
Waktu pergelaran yang dibikin jelang terbenamnya matari, antara pukul 17.00 – 18.00 WITA, jelas menambah eksotiknya suasana yang terbangun. Bahkan, memiliki makna magis tersendiri, karena disesuaikan dengan mayoritas penduduknya sebagai penganut Hindu.
‘Tari Kecak‘ yang dipentaskan di Pantai Melasti (Ungasan) tersebut, menyajikan pengalaman yang tak terlupakan. Bisa dibayangkan, jika Anda bisa menikmati pertunjukan sambil melihat matahari terbenam di pinggir pantai.
Bentuk kombinasi antara suara ‘Cak‘ yang khas, juga dipadu dengan gerakan dinamis dari para penarinya serta keindahan alam sekitar, ternyata mampu menciptakan suasana yang begitu magis. Begitu pun cerita epik Ramayana yang diangkat dalam tarian, justru semakin menambah daya tarik pertunjukan itu sendiri.
Patut diketahui bahwa tarian tersebut terinspirasi dari ritual Sanghyang dan bagian dari cerita Ramayana. Sedangka ritual Sanghyang sendiri merupakan tarian tradisional yang penarinya melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dalam kondisi tidak sadar, dimana maksud para penari adalah menyampaikan harapan dan doa kepada masyarakat.
Namun pada awalnya, tarian ini hanya berupa nyanyian tanpa gerakan. Tapi, seiring berjalannya waktu, ‘Tari Kecak‘ pun mengalami perkembangan dan dipadukan dengan unsur-unsur tari tradisional Bali lainnya.
Pertanyaannya kemudian, mengapa disebut ‘Tari Kecak’? Sebab, nama ‘Kecak‘ diambil dari suara ‘Cak‘ yang diucapkan berulang-ulang oleh para penarinya. Dan, suara tersebut dianggap memiliki kekuatan magis dan dapat memanggil roh-roh leluhur.
Menyaksikan pergelaraan ‘Tari Kecak‘ di Pantai Melasti (Ungasan) adalah pengalaman yang tentu saja bisa rugi jika dilewatkan. Cukup dengan membeli tiket Rp 150 ribu, Anda pun bisa menyaksikan keindahan tarian dan sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya Bali. Nah, tunggu apalagi? Maka, segeralah untuk merencanakan liburan ke Pulau Dewata (Bali). Karena, Anda bisa nikmati pesona ‘Tari Kecak’.
Adapun lokasi pergelaran dari ‘Tari Kecak‘ di Pantai Melasti (Ungasan) langsung berbatasan dengan pantai, dimana memberikan suasana santai dan juga akses bermain di air. Sedangkan unruk di Pura Uluwatu, pertunjukan malah dilakukan di area amfiteater atas tebing yang juga menghadap laut lepas.
Jika ingin tahu akses menuju ke Pantai Melasti itu sendiri, terbilang cukup mudah dengan jalan yang lebih lebar. Berbeda untuk akses Pura Uluwatu lebih menantang karena harus melewati tangga-tangga yang curam.
Seperti disebut guide wisatawan untuk turis mancanegara dan lokal, Ketut, setiap pergelaran ‘Tari Kecak’ hampir melibatkan puluhan penari yang merupakan warga masyarakat asli dari Pulau Dewata (Bali). Bahkan, setiap penari ‘Tari Kecak‘ bergaji mencapai Rp 30 juta. Total gaji tersebut diberikan ke penari, setiap 6 bulan sekali. © RED/AGUS SANTOSA