JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sepertiga wilayah Pulau Sumatera (Aceh, Sumur dan Sumbar) pada akhir Nopember 2015 kemarin, menyisakan duka mendalam. Apalagi sampai memakan ribuan korban jiwa meninggal dunia, hilang terseret arus serta luluh lantahnya pemukiman warga.
Karena itulah akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang juga dikenal sebagai tokoh perempuan inspiratif, Dr Munawaroh MSi, mendesak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Yakni segera mengorganisir kelompok dan organisasi perempuan di seluruh Indonesia untuk segera dikirim sebagai relawan ke lokasi terdampak.
Sedangkan tujuan dari aksi tersebut adalah membantu penanganan korban, terutama di bidang pelayanan dasar dan trauma-healing bagi penyitas banjir dan longsor serta keluarga mereka, sekaligus menunjukkan peran aktif perempuan dalam kontribusinya terhadap negara.
Dalam pengamatan Dr Munawaroh bahwa krisis kemanusiaan akibat banjir dan longsor tidak boleh hanya dihadapi oleh aparat TNI/Polri, aparat penanggulangan bencana, dan tim tanggap darurat.
“Justru dengan melibatkan perempuan itu, jauh lebih memiliki kepekaan sosial dan kapasitas emosional yang sangat diperlukan dalam pemulihan psikologis korban,” kata Dr Munawaroh kepada wartawan di Jakarta, Jumat (5/12/2025).
Selain itu dirinya juga menekankan bahwa organisasi perempuan harus segera dikerahkan bersama struktur kemanusiaan resmi.
“Untuk pendekatan ini mendapat dukungan dari literatur kebencanaan: penelitian dan kajian kebijakan menyatakan bahwa perempuan memainkan peranan penting di seluruh fase penanggulangan bencana baik dari mitigasi, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Secara filosofis, keterlibatan perempuan dalam aksi kemanusiaan memunculkan perspektif kepedulian, empati, dan pemulihan sosial-komunitas, yang melengkapi upaya teknis dan material,” tegasnya.
Ditambahkan Dr Munawaroh bahwa teori manajemen bencana kontemporer menganjurkan kolaborasi multipihak diantaranya adalah pemerintah, lembaga formal, komunitas lokal, masyarakat sipil, agar tanggapan terhadap krisis lebih efektif dan menyeluruh.
Disebutkan bahwa dalam kerangka tersebut, perempuan dan organisasi-organisasi perempuan bukan sekadar penerima manfaat, tetaplah subjek agen perubahan yang mampu memperkuat ketahanan sosial pasca bencana.
Secara historis di Indonesia, diungkapkan Dr Munawaroh, perempuan telah berperan dalam upaya tanggap darurat dan pemulihan, baik lewat komunitas lokal maupun organisasi sosial. Namun seringkali peran itu kurang mendapatkan perhatian formal dan dukungan struktural.
Situasi darurat di Sumatera kini dengan ribuan korban, pengungsi, hilangnya infrastruktur dasar, menghadirkan momentum penting untuk mengakui dan mengaktualisasikan kembali peran perempuan dalam manajemen bencana.
Namun jika ditilik dari sudut humanis, krisis tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak hanya fisik (kerusakan rumah, infrastruktur, korban jiwa). Tetapi juga psikologis seperti trauma, kehilangan, rasa takut serta ketidakpastian. Dimana memerlukan intervensi sensitif, empatik dan berkelanjutan. Hadirnya relawan perempuan yang peduli dan mampu mendampingi korban dalam proses trauma-healing bisa menjadi penyeimbang dalam upaya pemulihan yang lebih manusiawi.
Mengacu pada fakta bencana hidrometeorologi telah dominan dan rentan terjadi di Indonesia. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi keharusan Mengorganisir kelompok perempuan dan organisasi perempuan untuk dikerahkan sebagai bagian dari tim tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana akan memperluas kapasitas respons dan memberikan dimensi kemanusiaan yang mendalam.
Dr Munawaroh menegaskan bahwa pemerintah harus segera membentuk mekanisme koordinasi khusus misalnya lewat kementerian terkait, BNPB, dan jaringan organisasi perempuan agar relawan perempuan diberi pelatihan psikososial, logistik, serta dukungan keamanan dan legitimasi.
Hal ini penting agar kehadiran mereka tidak sekadar simbolis, tetapi efektif, berdaya guna, dan berkelanjutan.
“Jadi, bukan semata belas kasih. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kolektif kita terhadap sesama warga negara dan pengakuan bahwa perempuan punya kapasitas besar untuk membantu bangsa pulih,” pungkas Dr Munawaroh. © RED/AGUS SANTOSA

