OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II
ISLAM menaruh hormat yang tinggi kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan belajar. Kesungguhan itu dipandang sebagai tanda hidupnya akal sehat dan lurusnya orientasi ibadah. Kerja dan ilmu tidak diposisikan menjadi sekadar alat mencari dunia, tapi jalan menunaikan kehendak Allah SWT di muka bumi
Al-Qur’an berbicara lugas soal ini.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Ayat ini sederhana, tapi tegas. Nilai seseorang di hadapan Allah SWT terkait langsung dengan usaha, bukan klaim, bukan niat kosong, apalagi kemalasan yang dibungkus dalih tawakal. Dalam cara pandang teologi Ahlussunnah wal Jama‘ah, ayat ini adalah sumber konsep kasb. Allah SWT menciptakan perbuatan, manusia mengupayakannya dengan kehendak dan kesungguhan. Usaha manusia nyata dan bernilai, meski tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Allah SWT juga berfirman :
قُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
“Katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah SWT akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)
Perintah “bekerja” di sini bersifat umum. Perintah ini bersifat komprehensif dan tidak parsial, seperti mencakup aspek kerja fisik, kerja intelektual,usaha belajar, perjuangan mengajar, dan seluruh bentuk ikhtiar yang membawa maslahat. Islam tidak memuliakan pengangguran yang rajin bicara agama tapi alergi kerja keras dan alergi kreativitas.
Rasulullah SAW memperkuat pesan ini dalam banyak hadis. Salah satunya :
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh.” (HR. al-Baihaqi)
Hadis ini sering dikutip, tapi jarang direnungkan. Cinta Allah SWT terkait langsung dengan itqan, keseriusan dan kualitas usaha. Bahkan dalam kacamata tasawuf Asy‘ariyyah, itqan bukan sekadar profesionalisme lahir, tapi kejujuran batin dalam mengerahkan kemampuan terbaik sebagai bentuk penghambaan.
Tentang belajar, Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Belajar dipandang sebagai perjalanan eksistensial. Karena belajar itu menuntut kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati. Dalam tradisi peradaban Islam dimasa keemasan, ilmu beserta gelarnya tidak sesempit hiasan status sosial, tapi ilmu adalah entitas cahaya yang menuntun amal. Ilmu tanpa kesungguhan hanya melahirkan kepintaran kering, sementara kesungguhan tanpa ilmu mudah tergelincir ke fanatisme, kebodohan dan bahkan kesesatan.
Imam Ghazali, menegaskan hubungan erat antara ilmu, amal, dan kesungguhan. Dalam Ihyaa’ Uluum ad-Diin, beliau menulis :
العِلْمُ إِمَامُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.”
Namun Imam Ghazali juga keras mengkritik orang yang berilmu tapi malas beramal dan enggan bersungguh-sungguh. Baginya, ilmu yang tidak mendorong kerja nyata adalah hujjah yang akan memberatkan di akhirat.
Dalam konteks kerja duniawi, Imam Ghazali menolak anggapan bahwa zuhud berarti meninggalkan usaha. Beliau menulis bahwa bekerja untuk mencukupi diri dan keluarga termasuk ibadah, selama niatnya lurus dan caranya halal. Kemalasan yang berlindung di balik istilah tawakal justru disebutnya sebagai tipu daya nafsu.
Imam Abu Hasan Al Asy‘ari sendiri, meski dikenal sebagai teolog, beliau adalah contoh sosok tokoh dengan kesungguhan intelektual. Beliau berpindah posisi pemikiran melalui proses panjang, belajar, berdebat, dan menulis dengan disiplin tinggi. Tradisi Asy‘ariyyah lahir dari kerja akal yang serius, bukan dari slogan, agitasi atau emosi sesaat.
Kesimpulannya, Islam tidak pernah memisahkan iman dari kerja, dan tidak memisahkan ilmu dari kesungguhan. Dalam kerangka teologi Ahlussunnah wal Jama‘ah, manusia diminta bergerak, belajar, dan bekerja sepenuh tenaga, sambil menyadari keterbatasannya dan bergantung kepada Allah SWT. Dunia tidak ditinggalkan, akhirat tidak dilupakan. Kesungguhan menjadi jembatan antara keduanya.
Di zaman ketika banyak orang ingin hasil cepat tanpa proses, ajaran ini terasa kencang suara kritiknya. Islam memihak pada mereka yang tekun, sabar, dan mau menempuh jalan panjang. Mereka itulah yang dijanjikan keberkahan, di dunia maupun di akhirat. (***/goes)
(PENULIS : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama Besar, kini tinggal di Jawa Timur)