OLEH : MASSOES
TAHUN 2025 kita tinggalkan, untuk masuk tahun 2026. Di tahun yang lalu tentu banyak kenangan manis, pahit dan getir. Ada tawa dan juga ada air mata. Itu biasa dinamika hidup yang kadang ada di atas dan di bawah. Itulah roda kehidupan!
Ada yang tertawa, terbahak-bahak pesta-pesta menikmati harta. Jika itu harta halal mereka selamat. Tapi, kalau itu hasil kejahatan, maling, korupsi penjarahan tunggu saja balasannya. Hukum pasti akan bertindak.
Jika hukum dunia tak mampu, hukum langit yang bicara dan kalau Allah SWT yang bertindak, tahulah akan akibatnya. Itulah sebab akibat. Jika bigini ya akibatnya begini. Kalau begitu, ya begitu.
Namun bukan berarti kejahatan mau berhenti sampai di situ. Soalnya, orang berbuat kejahatan itu lupa kalau itu nggak boleh, nggak benar, salah, merugikan orang banyak. “Jangan maling, merampok, begal!”
Akibat perbuatan para penjahat, banyak korban menderita. Bukan saja harta benda, tapi sakit dan bahkan bisa kehilangan nyawa karena penjahat brutal.
“Ampun, Pak! Saya lapar,” ujar penjahat kelas teri tersebut.
Alasan kejahatan mereka klise, karena perut. Kalau benar begitu adanya, yakni soal perut memang mau bilang apa? Tapi, jika itu sebagai alasan pembenaran kejahatannya, ya nggak boleh, Bro!
Namanya kejahatan, sekecil apapun nggak boleh. Tidak dibenarkan. Kalau lapar, carilah makan yang halal. Kerja, kerja dan kerja. Kerja apa saja, banyak kok rezeki menanti buat orang yang mau mencari dengan gigih dan tekun.
Hal itu barusan penjahat kroco, yang berbuat hanya sebatas perut. Tapi ada banyak kejahatan yang memenuhi kebutuhan hasrat serakah tak terbatas. Yakni mengumpulkan harta benda, sebanyak banyaknya.
Apa itu? Mereka yang melakukan kejahatanya korupsi, dengan keren dibungkus baju dinas kekuasaan dan kekuatan pengaruh. KKN, korupsi kolusi dan nepotisme bukan faham baru di negeri ini. Jika ada pejabat, keluarga dan antek-anteknya kerja bareng atau kolaborasi di ranah kejahatan tersebut.
Dalilnya berbunyi; bahwa kegiatan memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau golongan itu namanya korupsi. Sasarannya adalah harta kekayaan milik atau yang dikuasai negara untuk kepentingan rakyat.
Buat para pelaku nggak peduli itu dalil. Pokoknya kejahatan korupsi itu dilakukan dengan aji mumpung. Mumpung jadi pejabat, ada kesempatan lakukan saja. Ngapain mikirin dalil hukum dunia? Wong hukum akhirat saja, nggak dihiraukan, kok!
Lalu, kejahatan korupi pun terus berlanjut. Mereka pejabat nakal yang punya kekuasaan lantas main apa saja. Dana proyek, harta kekayaan milik negara dilibas.
Dilakukan sendiri-sendiri atau bareng-bareng. Pelaku menyuburkan kroninya. Orang dekat, istri atau simpanan selingkuhan boleh ikutan menikmati. Lagi viralkan? Itu mantan pejabat di Jawa Barat yang sedang diperiksa KPK.
Wouw, malah bikin miris Bupati dan bapaknya yang lurah di Bekasi, kolaborasi dalam korupsi, bagi-bagi kue proyek. Mereka lupa nasihat-nasihat kebaikan, tentang kejujuran, tentang amanah.
Lantas, penjarahan di bumi Andalas yang menuai bencana besar, karena isi bumi dibantai habis-habisan jadi bancakan. Akibatkan rakyat kecil kena getah deritanya. Ribuan nyawa dan harta benda melayang.
Kejahatan memang banyak macamnya. Tapi, sayang selalu saja orang kecil jadi korban dari orang-orang kuat. Dari sikap masyarakat luas yang protes menandakan ketidakadilan selalu menimpa orang kebanyakan yang lemah.
Hiruk pikuk kasus guru Mansur, kasus nenek Surabaya dan lain-lain yang terjadi di negeri ini, kayaknya harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Pokoknya banyaklah kasus-kasus yang melahirkan protes masyarakat karena merasa tidak memperoleh keadilan.
Saat ini rakyat sedang mempertanyakan dimana letak keadilan?
Ujungnya penegak hukum harus bertindak tegas. Jangan ada pilih atau pandang bulu. Kata orang, hukum hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.
Jangan lupa juga adagium atau pepatah keren Latin, Fiat Justitia Ruat Caelum ; “Biarpun langit akan runtuh, tapi keadilan harus tetap ditegakkan!” Begitu maunya. (***/goes)
(PENULIS : SOESILO ARIENANJAYA alias Massoes adalah Wartawan Senior Pensiunan Harian POSKOTA)

