JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pengusaha Madura anggota Ormas Madas Nusantara mengajukan penawaran untuk melakukan pembongkaran 98 Tiang Monorel ke Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mencapai Rp 1.300.000.000 (Rp 1,3 M) dengan catatan seluruh biaya mobilisasi, alat berat, tenaga kerja serta seluruh proses pembongkaran jadi tanggungjawab perusahaan.
“Namu jika ditanya ada biaya pembongkaran sebesar Rp 100 milyar, Madas Nusantara malah tidak tahu. Kami justru mau ikut membantu Gubernur DKI Jakarta membongkar Tiang Monorel dan hasil besi-besinya, kami beli,” kata Ketua Umum Madas Nusantara, KRH HM Jusuf Rizal SH dalam keterangannya kepada POSBERITAKOTA, Sabtu (10/1/2026) di Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan HM Jusuf Rizal, pria berdarah Madura yang juga Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), setelah mengomentari postingan di group WhatApp (WA) sejumlah aktivis DKI Jakarta terkait pembongkaran 98 Tiang Monorel di beberapa ruas jalan di Jakarta dengan biaya Rp 100 milyar
Karuan saja besarnya biaya pembongkaran tersebut, memperoleh berbagai komentar dan polemik. Sebab, anggarannya yang bakal dikeluarkan dinilai fantastik. Dengan biaya sebesar itu, lebih baik Pemprov DKI Jakarta alokasikan ke hal mendesak, seperti kebutuhan pangan masyarakat. Selain dapat memunculkan adanya potensi abuse of power (penyalahgunaan wewenang).
Lebih lanjut dijelaskan HM Jusuf Rizal bahwa memang Anggota Pengusaha Madas Nusantara mengirimkan surat resmi kepada Gubernur DKI Jakarta, 29 Desember 2025 atas nama PT Hidup Bahagia Abadi untuk ikut dalam proyek pembongkaran Tiang Monorel. Pihak Madas Nusantara malah memberi pengantar.
Sedangkan dalam surat penawaran yang ditunjukkan ke media, disebutkan perusahaan akan menanggung biaya seluruh proses pembongkaran. Mulai dari mobolisasi, alat berat hingga tenaga kerja. Namun besi-besi bekas bongkaran Tiang Monorel dihargai senilai Rp 1.300.000.000 (Rp 1,3 M) untuk pendapatan Pemda DKI Jakarta
“Seperti saya kemukakan di sini, Madas Nusantara tidak tahu jika ada anggaran Rp 100 milyar dalam konteks pembongkaran. Kami hanya berusaha dan kerja keras cari duit untuk membantu menghidupi organisasi. Karena, Madas Nusantara bukan organisasi preman. Jika ingin penjelasan detail, sebaiknya tanya Dinas Bina Marga DKI Jakarta saja,” imbuh HM Jusuf Rizal yang juga dikenal sebagai aktivis penggiat anti korupsi tersebut.
Patut diketahui pula bahwa publik Ormas Madas Nusantara merupakan salah satu organ pendukung atau Tim Sukses Pramono Anung-Rano Karno saat Pilkada DKI Jakarta di tahun 2024. Sepanjang pemahaman media, hanya Madas Nusantara hingga saat ini yang belum diakomodir Pramono-Rano dapat jatah di Pemprov DKI Jakarta. Sedangkan yang lainnya, malah sudah diberi jatah posisi secara profesional.
HM Jusuf Rizal sendiri saat ini terjun ke dunia usaha rongsokan, besi tua maupun pembongkaran bangunan guna menopang pengembangan program organisasinya. Salah satunya seperti Program Sedekah Satu Juta Al-Qur’an. Selain sudah membuka cabang di luar negeri.
Oleh karenanya, HM Jusuf Rizal menepis kecurigaan wartawan, dimana Madas Nusantara ikut dalam grand design terkait pembongkaran Tiang Monorel yang disebut menelan anggaran Rp 100 milyar tersebut.
“Kalau ada kecurigaan, ya teman-teman media awasi saja. Juga harus diaudit agar transparan. Apakah ada konponen lain selain pembongkaran dengan anggaran Rp 100 milyar itu? Jadi, harus dibedah,” tantang HM Jusuf Rizal.
Seperti sudah diketahui publik bahwa pembongkaran 98 Tiang Monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said (Jakarta Selatan) hingga Asia Afrika (Jakarta Pusat) sepanjang 3,5 kilometer akan menelan anggaran hingga Rp 100 miliar. Untuk pembongkaran itu sendiri bakal ditangani Dinas Bina Marga DKI Jakarta. © RED/AGUS SANTOSA