OLEH : MASSOES
SAYA memasuki ruang UGD sebuah rumah sakit di bilangan Ciledug Tangerang, beberapa waktu silam. Malah dengan hati tenang. Kok tenang? Iyalah. Kan sakit saya biasa, kolesterol, darah tinggi, asam urat, kebas kesemutan yang menyerang semua anggota tubuh.
Hal itu biasa. Apalagi itu penyakit kan gantian. Begitu periksa dokter dan dikasih obat pulang, beres!
“Minum obat dan jangan lupa banyak konsumsi air putih. Juga, jangan lupa istirahat yang cukup!” Begitu selalu nasihat dokter yang terngiang di kuping.
Kejadian yang kayak gini sering berulang. Artinya, apa? Penyakit ‘berdamai’ setelah minum obat.
Malah, kadang jadi dokter sendiri. Kita, hapal banget tuh yang namanya obat darah tinggi, kolesterol, asam urat.
Apalagi kalau hanya sekadar obat sakit perut atau mual-mual, masuk angin. Tinggal ngeloyoyor aja ke warung atau toko obat terdekat. Sebut saja resep di luar kepala. Apoteker tanggap. Oke!
Tapi, sore itu semuanya jadi berubah. Setelah diagnose dokter rumah sakit berucap; “ Bapak kena stroke ringan!”
Diantara keterkejutannya, saya masih menjawab; “Dok, kalau yang namanya stroke, biarpun ringan, saya sih tetap nggak mau. Saya ogah banget!”
Saya lihat dokter muda itu malah tersenyum. Mungkin setuju dengan ucapan saya. Atau sekadar ingin menghibur saya yang lagi setengah terkejut.
Kawan, bayangkan saja penyakit stroke! Selama ini, saya merasa kasihan dan ikut prihatin ketika melihat orang lain menderita stroke. Sehari-hari saya saksikan kegiatan mereka. Jalan dipapah atau menggunakan kursi roda.
Dalam hati, bagaimana jika saya menderita seperti mereka, ya?
Ah, pertanyaan itu ternyata jadi kenyataan. Pada awal-awal, jangan ditanya soal pikiran yang datang menggangu.
Lalu berkecamuk, nggak karuan. Yang ada, tentu saja, kecewa marah, takut dan ujung-ujungnya stress. Kedua kaki lemas, tak mampu bergerak apalagi berdiri atau berjalan? Dunia serasa berhenti berputar, tubuh ini oleng.
Beruntung orang dekat, yakni sang istri selalu memberi semangat mengetuk kesadaran yang sedang goyah.
“Sabar, Pa! Kita lagi dapat cobaan,” katanya.
Selanjutnya sambil menyelipkan nasihat; “Semua penyakit pasti ada obatnya. Allah SWT kasih penyakit, pasti akan kasih kesembuhan. Pokoknya berdoa, janga putus asa dan tetap semangat!” Begitu istri berulang-ulang mengucapkan kalimat : semangat, semangat dan terus semangat!
“Nggak ada obat buat penyakit Bapak. Kecuali Bapak sendiri yang harus berusaha mengobati diri sendiri,“ timpal dokter di satu klinik yang kami kunjungi.
Tentu saja, obat sendiri bukan berarti bikin obat sendiri. Obat itu adalah mengolah tubuh kita sendiri dengan berbagai gerakan yang kita bisa dan tentu saja dengan semangat.
Pembangkit semangat datang dari mana-mana. Anak-anak, sahabat yang berbagi saran dan pengalaman. ”Jangan males berjemur mata hari pagi. Bagus itu,” ujar seorang sahabat.
Banyaklah kawan-kawan, tetangga maupun saudara yang mampir sambil menyarankan berbagai uasaha. Cerita tentang stroke memang bukan rahasia baru. Banyak orang yang kena dan mereka berusaha berobat dengan segala cara semangat di mana – mana.
Sesuai dengan saran dari berbagai pihak saya memang lebih memilih pengobatan melalui teraphi tradisional. Bukan nggak percaya dengan cara medis. Tapi, rasanya sudah mual dengan obat-obatan.
Seperti nasihat yang saya terima, bahwa obat itu sebagian besar datang ada dalam diri kita sendiri. Dari fisik misalnya, coba bergerak sendiri. Berusaha dengan keyakinan bahwa kita pasti bisa.
Misalnya, dulu kita bisa berdiri, dan berjalan. Ayolah anggota tubuh untuk bergerak. Kaki tangan dan anggota tubuh yang lain; “Ayo bangkit lagi.”
Ajak dialog terus supaya semua anggota yang beku bangun kembali. Kita dulu bisa, sekarang juga harus bisa! Berdiri dan berjalan!
Selama setahun lebih. Akhirnya sedikit demi sedikit, mulai begerak berdiri. Juga bisa berjalan walau dengan alat bantu. Dan, saya terus latihan dan latihahan dengan tekun, iklas dan sabar.
Berserah diri pada Yang Maha Agung, Allah SWT. Sambil mengisi waktu dengan kegiatan yang saya mampu. Terutama menulis yang saya mampu, kata sahabat; “Menulis itu melawan pikun.”
Dan, benar adanya ketika mengetik, lupa kalau jari-jari sedang bermasalah. Sekarang sudah bersahabat dengan penyakit. Tapi, terus mengharapkan dan merelakan ‘sahabat’ tersebut lekas menghilang dari tubuh saya.
Saya juga sudah rindu untuk jalan-jalan dan berkunjung bercengkerama dengan sahabat kerabat maupun anak dan cucu-cucu.
Lebih dari itu, saya juga ingin hidup ‘Sejahtera’. Yang menurut Quraish Shihab; “Selama masih bisa tidur dan bahka mtanpa obat tidur. Kita juga bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara. Kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita. Justru
Itulah sebenarnya merupakan hidup sejahtera! (***/goes)
PENULIS : SOESILO ARIENANJAYA alias Massoes adalah Wartawan Senior Pensiunan Harian POSKOTA)

