PosBeritaKota.com
Nasional Top News

Sebagai Sikap Hidup, MEL SOFYAN & Jalan Sunyi Keberpihakan kepada Pedagang Kecil

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Tidak semua orang memilih jalan terang ketika kekuasaan dan modal membuka pintu. Sebagian justru menempuh jalan sunyi – berjalan perlahan, menjauh dari sorot berlebihan, namun tetap teguh pada prinsip. Jalan itulah yang ditempuh Mel Sofyan.

Ditengah jejaring elite dan dunia usaha berskala besar, Mel Sofyan tetap menjaga kedekatan dengan pedagang pasar, sopir angkutan, buruh bongkar muat, dan pelaku usaha kecil. Ia bergaul lintas lapisan sosial tanpa jarak. Kedekatan dengan rakyat, baginya, bukan strategi pencitraan, melainkan pilihan hidup.

Mel Sofyan dikenal sebagai pengusaha lintas sektor, organisator, dan pencipta lagu Minangkabau papan atas. Namun lebih dari sekadar identitas profesional, ia adalah figur perantau yang memadukan dunia usaha, kebudayaan, dan keberpihakan sosial dalam satu napas yang utuh.

LINTAS WILAYAH, LINTAS PENGALAMAN

Mel Sofyan lahir di Jakarta. Masa kecilnya dijalani di Sumatera Utara, sebelum kemudian kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Pengalaman hidup lintas wilayah sejak usia dini membentuk kepekaan sosial dan cara pandangnya terhadap kehidupan – tentang kerasnya perjuangan, nilai kemandirian, serta arti bertahan di luar pusat kekuasaan.

Dalam catatan pendidikan formal yang tersedia di ruang publik, Mel Sofyan tercatat sebagai lulusan SMA Negeri 62 Jakarta. Tidak terdapat informasi terbuka mengenai pendidikan formal lanjutan setelah jenjang tersebut.

Ketiadaan jejak akademik lanjutan itu justru memperlihatkan jalur pembentukan diri yang berbeda. Pengetahuan, ketajaman berpikir, dan kepekaan sosialnya lebih banyak ditempa oleh pengalaman lapangan dan pergulatan panjang di dunia nyata.

BERTUMBUH DARI LAPISAN BAWAH

Memasuki usia dewasa, Mel Sofyan memilih bertahan melalui jalur usaha kecil. Ia memulai dari bawah- mengalami langsung ketidakpastian penghasilan, kerasnya persaingan, serta sistem ekonomi yang kerap menyisakan ruang sempit bagi pelaku usaha kecil.

Puluhan tahun berkecimpung di dunia usaha membuatnya menyaksikan perubahan besar dalam lanskap ekonomi nasional. Sejak beberapa dekade pemerintahan silih berganti hingga hari ini, pengusaha kecil, pelaku UMKM, dan pedagang pasar tradisional kian tersingkir. Mereka dibiarkan berjalan sendiri, tanpa perlindungan memadai, tanpa benar-benar diikutsertakan dalam menikmati kue pembangunan.

Di sisi lain, pembangunan justru lebih sering dinikmati oleh segelintir kelompok yang berada dekat dengan lingkar kekuasaan. Ketimpangan ini tidak hanya melukai rasa keadilan, tetapi juga menggerus fondasi ekonomi rakyat yang selama ini menjadi penyangga utama negeri ini.

Bagi Mel Sofyan, pembangunan tanpa keadilan sosial hanya melahirkan kemajuan semu. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan manusia, pada akhirnya, akan rapuh oleh ketimpangan yang diciptakannya sendiri.

DUNIA USAHA YANG BERANGKAT DARI LAPANGAN

Dalam dunia usaha, Mel Sofyan memiliki rekam jejak yang beragam. Ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT Saibu Nusantara dan PT Saibu Rasa Nusantara, serta merupakan pemilik PD Damar Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang jual beli hasil bumi dan rempah-rempah.

Ia juga aktif di sektor perdagangan, logistik, jasa angkutan barang, pergudangan, serta pengelolaan limbah kardus, kertas, dan besi scrap – bidang usaha yang bersentuhan langsung dengan kehidupan ekonomi rakyat sehari-hari.

Di sektor properti, ia mengembangkan usaha melalui PT Saibu Property Indonesia. Namun baginya, properti tidak semata dimaknai sebagai instrumen investasi, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi yang idealnya memberi manfaat sosial dan keberlanjutan.

Berbeda dengan banyak figur bisnis yang tumbuh dari ruang rapat, Mel Sofyan memahami ekonomi dari lapangan. Ia membaca realitas bukan dari grafik dan laporan, melainkan dari pengalaman hidup.

MENJAGA BUDAYA, MERAWAT IDENTITAS

Di luar dunia usaha, Mel Sofyan memiliki posisi penting dalam khazanah seni dan budaya Minangkabau. Ia dikenal sebagai pencipta lagu Minang papan atas dengan puluhan karya yang hidup di tengah masyarakat lintas generasi.

Sejumlah lagu ciptaannya- seperti Takuruang Dirantau, Gadih Minang dan Pulang Basamo – telah menjadi bagian dari narasi kolektif perantau Minangkabau tentang rindu, identitas, dan harapan untuk pulang. Di tingkat nasional, ia juga menciptakan lagu pop Indonesia, salah satunya Perahu Terbelah yang dipopulerkan oleh Eno Viola.

Komitmen kebudayaannya diwujudkan melalui perannya sebagai Ketua Umum Rumah Seniman Minang, sebuah wadah yang memperjuangkan keberlangsungan dan martabat seniman Minangkabau ditengah perubahan zaman.

KIPRAH ORGANISASI PERANTAU

Di ranah organisasi, Mel Sofyan saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Bendahara Umum Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM). Sebelumnya, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi, Kelembagaan dan Keanggotaan DPP IKM, dengan fokus memperkuat konsolidasi organisasi serta jejaring perantau Minangkabau di dalam dan luar negeri.

Melalui peran-peran tersebut, ia mendorong agar perantau Minang tidak tercerai-berai, melainkan mampu bersinergi, saling menguatkan, dan berkontribusi nyata bagi kampung halaman serta kehidupan kebangsaan.

JALAN SUNYI SEBAGAI SIKAP HIDUP

Kegelisahan terhadap makin tersingkirnya pedagang kecil dan pasar tradisional mendorong Mel Sofyan untuk bersuara. Melalui tulisan-tulisan reflektif dan kritis di berbagai media serta platform digital, ia berharap pemerintah mau mendengar dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada mayoritas rakyat Indonesia – yakni pelaku UMKM, pedagang pasar tradisional dan pekerja sektor informal.

Baginya, negara akan kuat jika ekonomi rakyatnya kuat. Pasar tradisional bukan sekadar ruang jual beli, melainkan simpul kehidupan sosial yang harus dijaga.

Meski memiliki jejaring luas dengan tokoh nasional dan pelaku usaha besar, Mel Sofyan dikenal menjaga kesederhanaan sikap. Ia meyakini bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh jabatan atau kekayaan, melainkan oleh adab, keberpihakan dan cara memperlakukan sesama.

Dengan pengalaman lintas daerah, usaha lintas sektor, karya budaya, serta keterlibatan organisasi, Mel Sofyan terus menempuh jalan sunyi – menjaga keberpihakan pada pedagang kecil di tengah arus besar kekuasaan dan modal. © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Kena Serangan Jantung, KETUA DEWAN PERS Azyumardi Azra Meninggal Dunia di RS Selangor Malaysia

Redaksi Posberitakota

Marah Berpotensi Jadi Pencetus Stroke, LINDA GUMELAR : “Pemerintah Wajib Libatkan Peran Masyarakat”

Redaksi Posberitakota

Ajak Diskusi Prof Din Syamsudin, KETUM PAN ZULKIFLI HASAN Bahas Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang