JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Saat ini gempuran bisnis ala F&B (Food and Beverage) tidak bisa dihindari. Pasalnya, di dalam kebutuhan makan dan minum bagi siapa pun, sangat dibutuhkan pelayanan serba cepat plus praktis. Karena itu pula dunia kuliner kini bagai jamur di musim penghujan. Tumbuh subur dan sangat menjanjikan.
Namun dari kondisi yang ada sekarang, tak lantas menjadikan tempat makan ala tradisional yakni Warteg ‘Warmo Tebet’, gulung tikar. Keberadaannya tetap menggeliat, karena sudah melegenda, khususnya di kawasan Jakarta Selatan.
Seperti kita tahu bahwa Warteg ‘Warmo Tebet’, berani beroperasi 24 jam. Meski berada ditengah lokasi perumahan elite, namun pelanggannya datang dari semua kalangan. Sejak pagi hingga pagi lagi, silih berganti datang pelanggan yang ternyata dari 3 lintas generasi.
Bisa dibayangkan! Terkadang pelanggan datang dengan mobil mewah atau pakai kendaraan roda dua (motor). Belum lagi para pekerja malam atau pelanggan biasa yang akhirnya jadi pelanggan tetap. Jika bertepatan dengan jam makan siang atau malam, pasti padat pengunjung.
Tempatnya pun terbilang sederhana. Hanya cukup untuk pengunjung 20 – 30 orang. Namun sangat nyaman. Jadi, jangan heran jika pelanggan kerap dibikin ketagihan oleh olahan aneka masakan yang tersedia. Siapa pun pasti bakal muncul selera makanannya, karena tawaran menu untuk pendamping nasi putih.
Dari sop iga yang jadi ciri khas,sayur asem, jengkol, ayam goreng dan panggang, petai, sayur kangkung dan bayam, aneka lalapan, udang goreng, tahu dan tempe serta puluhan menu lain – dipastikan bakal mensugesti selera bagi siapa pun yang datang ke Warteg ‘Warmo Tebet’, Jakarta Selatan.
Warteg ‘Warmo‘ yang merupakan akronim dari Warung Tegal – Warung Mojok, sejak 4 tahun terakhir terjadi estafet pengelolaan. Saat ini Warteg ‘Warmo Tebet’ berada ditangan Syukur Iman, pengusaha muda berusia 30 tahun yang memilih melanjutkan perjalanan warteg legendaris ini.
Justru di usia yang relatif muda, Iman memikul tanggungjawab besar untuk menjaga kepercayaan puluhan tahun, sekaligus memastikan Warteg ‘Warmo Tebet‘ tetap relevan di tengah perubahan selera dan gaya hidup urban.
Terkait keputusan berani itu bermula dari langkah Iman meninggalkan dunia kerja kantoran. Berlatar belakang akuntansi, ia merasa tantangan dunia perkantoran tidak lagi cukup memberinya ruang berkembang. Momentum datang ketika ia mengetahui pemilik lama Warteg ‘Warmo Tebet’ berencana menutup usaha karena keterbatasan tenaga untuk melanjutkan bisnis.
Namu bagi Iman, Warteg ‘Warmo Tebet‘ bukan sekadar rumah makan, melainkan ruang sosial yang telah menjadi ‘rumah‘ bagi banyak orang. Rasa tanggungjawab itulah yang mendorongnya mengambil alih pengelolaan. Yakni dengan kesadaran bahwa tantangan terbesarnya bukan memulai dari nol, melainkan menjaga warisan yang sudah hidup lama ditengah masyarakat.
Tak ada pilihan kecuali melakukan perubahan drastis, Iman memilih merawat jati diri Warteg ‘Warmo Tebet‘ Perbaikan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengecatan ulang hingga penggantian furnitur lama, demi meningkatkan kenyamanan tanpa menghilangkan suasana khas yang sudah melekat di benak pelanggan.
Selain itu juga langkah serupa diterapkan pada menu. Hidangan andalan seperti sop iga tetap dipertahankan, sementara beberapa menu baru ditambahkan untuk menjangkau selera pelanggan muda di kawasan Tebet. Strategi ini membuat ‘Warmo Tebet’ tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya sebagai warteg legendaris.
Setidaknya ditengah arus modernisasi kuliner, Warteg ‘Warmo Tebet‘ menjadi contoh bagaimana usaha tradisional bisa bertahan dengan menjaga kepercayaan pelanggan. Termasuk bisa menjaga konsistensi rasa serta keberanian generasi muda untuk melanjutkan tongkat estafet. © RED/AGUS SANTOSA