JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Dalam menghadapi kemungkinan adanya lonjakan terhadap kebutuhan pangan sepanjang Ramadhan 1447 H dan Idhul Fitri 2026 mendatang, PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) membeberkan strategi.
Badan usaha milik daerah (BUMD) Provinsi DKI Jakarta satu ini justru mengandalkan penguatan pasokan dari daerah, diversifikasi skema pengadaan, perluasan jaringan distribusi, operasi pasar murah harian serta keterbukaan informasi stok dan harga kepada publik.
Seperti dikatakan Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda), Dodot Tri Widodo, biasanya di hari besar keagamaan selalu diikuti kenaikan konsumsi, terutama pada komoditas tertentu. Sedangkan komoditas yang dimaksud antara lain mulai dari beras, telur, minyak goreng, tepung terigu dan sebagainya.
“Kalau beras kenaikannya tidak terlalu banyak, kurang lebih sekitar delapan persen, sedangkan telur ayam sekitar 7-17 persen, jadi memang konsumsinya naik,” kata Dodot saat Balkoters Talk bertajuk ‘Kesiapan Tiga Pangan BUMD Pangan Jelang Ramadhan dan Idhul Fitri 2026’, di Balaikota Pemprov DKI Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dalam kesempatan diskusi bersama wartawan Balakotaters turut hadir Sekdaprov DKI Jakarta Uus Kuswanto sebagai pembicara kunci (key note speaker) dan 3 narasumber lainnya masing-masing Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok; Dirut Perumda Pasar Jaya Agus Himawan dan Dirut Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman.
Ditambahkan Dodot bahwa untuk mengamankan pasokan, Food Station memperluas kerjasama lintas daerah dengan dua pola. Pertama standby buyer atau membeli gabah dari daerah penghasil, dan on farming atau membiayai petani untuk menanam padi.
“Bahkan untuk memenuhi stok beras itu, kami bekerja sama dengan daerah-daerah. Mulai dari Lampung, kemudian di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan bahkan terakhir dengan Bali,” paparnya.
Masih menurut Dodot bahwa berdasarkan data yang ada untuk stok beras yang dimiliki Food Station saat ini, mencapai 80.000 ton dengan prognosa kebutuhan rumah tangga periode Februari – Maret sebesar 151.023 ton.
Adapun untuk stok beras di Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) mencapai 18.000 ton, yakni dengan kebutuhan beras di Jakarta itu normalnya di kisaran 2.500 ton per hari, sehingga dalam sebulan kebutuhannya 70.000-75.000 ton.
“Hal ini angkanya cukup karena kami juga mengelola PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) yang rata-rata stok per hari itu 40.000 ton. Kemudian dibagi dengan 2.500,maka untuk 20 hari ke depan itu aman,” ujarnya, lagi.
Menurut Dodot terkait permintaan gula pasir saat Ramadhan 1447 H dan Idhul Fitri 2026, juga cenderung naik untuk membuat makanan berat atau kue.
Namun saat ini untuk stok gula pasir yang tersedia mencapai 192 ton, dan perseroan berencana melakukan pengadaan 1.447 ton dengan melibatkan PT PN dan ID Food.
Begitu pun dengan ketersediaan minyak goreng dengan stok 36.234 liter saat ini, Food Station akan melakukan pengadaan sebesar 643.530 liter untuk kebutuhan HBKN. Sedangkan stok telur ayam 4,1 ton akan ditambah 1.002 ton, dan stok tepung terigu 25 ton, bakal ditambah sebesar 63,2 ton.
Lain lagi di sektor distribusi, Food Station memaksimalkan jaringan perdagangan modern trade di 39.000 lokasi dan konvensional dengan 1.000 pelanggan. Guna menjaga keterjangkauan harga, perusahaan menggencarkan operasi pasar murah bersubsidi.
“Maka itu, Pasar Murah itu bakal kami jalani setiap hari di 10 titik setiap kelurahan-kelurahan maupun di Rusun. Semua itu untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama menengah ke bawah untuk menjangkau harga pangan yang murah,” tambahnya.
Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto menegaskan, tidak boleh ada lonjakan harga maupun kekurangan stok pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Saat memberikan pengaraha, Uus menyebut bahwa seluruh BUMD pangan, terutama PT Food Station Tjipinang Jaya (FS), harus memastikan ketersediaan komoditas utama tetap aman dan terkendali.
“Sebab, kata Pak Gubernur, tidak ada alasan lagi Pemprov DKI tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok warga. Jangan sampai ada kagetan menjelang Ramadhan 1447 H dan Idhul Fitri 2026,” tuturnya.
Berdasarkan laporan dan proyeksi Pemprov DKI, konsumsi pangan mengalami peningkatan signifikan saat Ramadhan dan melonjak lebih tinggi lagi menjelang datangnya Idhul Fitri.
Setiap menjelang Ramadhan, kebutuhan telur diprediksi naik 7,5 persen, daging sapi dan kerbau 3,57 persen, bawang putih 3,57 persen, cabai rawit 3,05 persen, serta bawang merah 2,89 persen.
Sementara menjelang Idhul Fitri, lonjakan lebih tinggi terjadi pada telur ayam yang mencapai 17,20 persen, disusul daging ayam 10,77 persen, bawang merah 10,67 persen, minyak goreng 9,67 persen, dan cabai rawit 9,18 persen.
Khusus lonjakan dua digit pada komoditas telur dan hampir 10 persen pada minyak goreng, justru menjadi perhatian khusus. Apalagi mengingat kedua bahan tersebut sangat dekat dengan kebutuhan rumah tangga maupun pelaku UMKM makanan.
Demi mengantisipasi hal tersebut, Pemprov DKI mengandalkan koordinasi tiga BUMD pangan, yakni Perumda Pasar Jaya, Perumda Dharma Jaya, dan PT Food Station Tjipinang Jaya. Food Station memegang peran strategis terutama dalam menjaga pasokan beras sebagai komoditas utama pengendali inflasi.
Pada saat ini total stok beras di Jakarta tercatat mencapai 182.172 ton, rinciannya 40.088 ton berada di Pasar Induk Beras Cipinang, 8.100 ton di Food Station, 18.000 ton dialokasikan sebagai cadangan HBKN, 141.823 ton di Bulog, serta 261 ton di Pasar Jaya.
“Jika melihat hitung-hitungan kebutuhan dan ketersediaan, kita siap. Tetapi kita juga tidak boleh terlalu percaya diri. Perkembangan di lapangan bisa sangat dinamis,” katanya.
Diungkapkan selain beras, stok minyak goreng tercatat 625 ton, gula 437,4 ton, telur 5,5 ton, cabai rawit 57 ton, bawang merah 104 ton dan bawang putih 48 ton.
Kembali ditegaskan Uus bahwa stabilitas pangan menjadi bagian penting dalam menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi Jakarta. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 5,21 persen, melampaui rata-rata nasional.
“Stabilitas pangan adalah fondasi stabilitas ekonomi. Dengan koordinasi yang solid dan langkah antisipatif, kami optimistis kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri dapat terpenuhi, inflasi tetap terkendali, dan pertumbuhan ekonomi terjaga,” tutupnya.
Lain lagi yang dikatakan Kepala Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengatakan, meski kebutuhan meningkat namun pihaknya memastikan ketersediaannya di Jakarta dalam kondisi aman. Apalagi stok yang tersedia disebut jauh melampaui kebutuhan bulanan masyarakat.
“Ketersediaan beras pada Maret diperkirakan masih dalam kondisi cukup. Bahkan melampaui kebutuhan bulanan. Jadi, secara umum untuk komoditas strategis masih aman,” jelasnya.
Dari sisi harga, fluktuasi tercatat terjadi antarbulan, khususnya pada bawang putih, daging sapi murni dan gula pasir yang mengalami kenaikan dari Januari ke Pebruari.
Soal harga komoditas hortikultura seperti cabai rawit merah, cabai merah keriting dan cabai merah besar justru mengalami penurunan cukup signifikan.
Karena itu, Hasudungan menekankan bahwa komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menjadi perhatian khusus karena tingkat kerentanannya tinggi. Produk tersebut tidak dapat disimpan lama dan mudah rusak, sehingga fluktuasi pasokan sangat memengaruhi harga di pasaran.
“Komoditas hortikultura ini rentan karena tidak bisa disimpan dalam jangka panjang. Sedikit gangguan distribusi saja bisa berdampak pada harga dan inflasi daerah,” imbuhnya.
Pada komoditas pabrikan seperti minyak goreng dan gula pasir, tren harga dinilai relatif terkendali. Termasuk harga minyak goreng yang sempat mencapai titik tertinggi pada Oktober 2025 kini cenderung melandai.
Kemudian untuk harga daging sapi, ayam potong dan telur ayam juga menunjukkan tren stabil seiring pengendalian dari pemerintah pusat dan daerah.
Seluruh proyeksi kebutuhan dan ketersediaan pangan tersebut disusun berdasarkan asumsi jumlah penduduk, tingkat konsumsi per kapita rumah tangga dan nonrumah tangga, serta koefisien peningkatan kebutuhan dari Badan Pangan Nasional dengan dukungan data BUMD pangan.
Pemprov DKI melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan rutin terhadap stok dan perkembangan harga, guna memastikan lonjakan kebutuhan selama Ramadhan dan Idhul Fitri tidak memicu gejolak harga maupun gangguan pasokan.
“Dengan proyeksi kenaikan konsumsi yang telah diantisipasi sejak awal, Pemprov DKI optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan di Jakarta dapat tetap terjaga selama periode hari besar keagamaan,” ucapnya, panjang lebar. © RED/AGUS SANTOSA