OLEH : AGUNG NUGROHO – KETUM REKAN Indonesia
MEMASUKI hari kedua Ramadhan, tubuh mulai beradaptasi. Rasa lapar tidak lagi mengejutkan. Ritme sahur dan berbuka mulai terasa biasa. Justru di fase yang lebih tenang ini, ada ruang untuk bertanya: apakah puasa hanya soal menahan diri, atau juga tentang memperluas kepedulian?
Selama Ramadhan, praktik berbagi begitu mudah ditemukan. Takjil dibagikan di pinggir jalan. Santunan disalurkan. Kegiatan sosial digelar. Semua itu tentu baik dan patut diapresiasi. Namun etika berbagi tidak berhenti pada momen seremonial.
Puasa pada dasarnya melatih empati. Lapar bukan sekadar pengalaman fisik, melainkan cara untuk memahami kenyataan sebagian orang yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Bedanya, bagi kita lapar memiliki batas waktu. Bagi mereka, tidak selalu demikian.

Di sinilah makna berbagi perlu diperdalam. Berbagi bukan hanya memberi dari kelebihan, tetapi juga meninjau kembali cara hidup kita. Apakah pola konsumsi kita berlebihan? Apakah gaya hidup kita tanpa sadar ikut memperlebar jarak sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini lebih penting daripada sekadar jumlah bantuan yang disalurkan.
Etika berbagi juga menyentuh soal keadilan. Ia menuntut keberlanjutan, bukan hanya kebaikan sesaat. Jika Ramadhan hanya menghadirkan lonjakan amal tanpa perubahan sikap setelahnya, maka nilai sosialnya menjadi terbatas.
Di hari kedua Ramadhan ini justru dapat menjadi titik refleksi. Puasa bukan hanya tentang ketahanan diri, tetapi juga tentang tanggungjawab sosial. Ukurannya bukan semata seberapa lama kita menahan lapar, melainkan seberapa luas kita membuka ruang kepedulian.
Dari ritual menuju kesadaran. Dari kepedulian sesaat, kemudia menuju komitmen yang berkelanjutan. (***/goes)
(PENULIS : AGUNG NUGROHO adalah Ketua Umum REKAN Indonesia, tinggal di Jakarta)

