BEKASI (POSBERITAKOTA) – Dari momentum bulan suci Romadhon seyogyanya diri kita bisa melatih menjadi pribadi yang sabar. Selain terbuka kesempatan bagi kita para pendosa untuk memperbaiki kualitas ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-NYA.
“Bahkan dari puasa Romadhon yang dijalani dengan baik, semestinya dapat memberikan dampak kepada kita. Hikmah yang pertama adalah melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang bersabar,” tegas Ustadz Muhammad Saeful Aziz.
Materi ceramah singkat tersebut di atas, disampaikanya sebelum pelaksanaan Sholat Taraweh bersama ratusan jamaah pada malam ke-4 Romadhon 1447 H/2026 M bertempat di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Sabtu (21/2/2026) malam.
Masih menurut Ustadz Aziz bahwa dengan berpuasa, semestinya diri kita bisa bersikap sabar dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Hal itu sebagaimana kita mampu bersabar menunggu waktu berbuka puasa. Kenapa? Karena harus mengikuti aturan syariat dan mampu menahan amarah ketika menghadapi masalah.
“Seperti seorang istri atau ibu yang mampu bersabar ketika membangunkan keluarganya. Kemudian harus menyiapkan untuk makan makan sahur bersama, meskipun dengan melawan rasa ngantuk,” ucapnya, memberikan gambaran.
Begitu pun bagi seorang kepala rumahtangga yang juga harus memiliki sikap sabar, terutama di dalam menghadapi masalah kehidupan. Terlebih tengah menghadapi kondisi saat ini, seperti ekonomi sulit maupun lapangan kerja sempit.
“Sebagai contoh yang lain adalah orang miskin banyak yang sakit. Tapi, saat berobat ke rumah sakit, malah ditolak karena nggak punya duit,” urainya.
Ditambahkan Ustadz Aziz lewat ceramahnya bahwa sikap sabar tersebut bahkan dipuji oleh Nabi dalam hadits yang dikutip dari kitab Riyadhussholihin yang berbunyi :
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialami baik baginya. Apabila dia mendapatkan kebaikan, dia bersyukur. Hal itu merupakan kebaikan baginya.
Dan, apabila dia tertimpa keburukan, dia bersabar. Hal itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Sedangkan untuk hikmah yang kedua, dijelaskan Ustadz Aziz, puasa merupakan perisai. Sebagaimana disebutkan dalam hadits : (الصِّيَامُ جُنَّةٌ) yang bermakna puasa berfungsi sebagai pelindung atau benteng bagi seorang Muslim, baik itu di dunia maupun di akhirat kelak. “Perisai ini menghalangi diri dari perbuatan maksiat dan syahwat di dunia serta dapat membentengi dari api neraka di akhirat.
Selain itu Ustadz Aziz menyebutkan bahwa puasa itu menahan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan dosa. Karena itu menuntut pelaku puasa agar menjaga lisan serta perbuatan dari hal-hal negatif (seperti berkata kotor atau bertengkar).
“Termasuk merasa bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT, sehingga takut ketika akan melakukan perbuatan-perbuatan dosa di manapun berada. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan usia kepada kita, yakni untuk bisa beramal sholeh dan mendapatkan predikat Muttaqin. Sebagai orang bertaqwa yang balasannya adalah Surga,” tutup ceramahnya. © RED/AGUS SANTOSA