YOGYAKARTA (POSBERITAKOTA) – Sosok Tiyo Ardianto mendadak ramai jadi perbincangan luas di masyarakat. Tentu saja bukan untuk cari sensasi, melainkan karena sikapnya yang terbuka mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi bagian dari agenda pemerintahan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka.
Justru ditengah perdebatan publik yang semakin dinamis, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) satu ini, berani tampil menyuarakan mahasiswa yang lugas dan argumentatif. Sosoknya bukan figur sembarangan. Apalagi dirinya dikenal sebagai mahasiswa Program Studi Filsafat yang dikenal aktif dalam berbagai gerakan advokasi kebijakan publik.
Sebagai pimpinan mahasiswa di salah satu kampus tertua dan paling berpengaruh di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo telah lama terlibat dalam diskursus sosial-politik. Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dalam menyuarakan isu-isu strategis, mulai dari transparansi kebijakan hingga keberpihakan terhadap masyarakat rentan.
Tak ayal sorotan publik semakin menguat manakala dirinya mengirim surat terbuka kepada UNICEF terkait implementasi program MBG. Langkah tersebut menuai beragam respons – dari dukungan hingga kritik tajam. Namun di situlah dinamika demokrasi menemukan relevansinya: ruang dialog tetap terbuka, sekalipun penuh perbedaan.
Sedangkan gaya komunikasi Tiyo yang tegas, argumentatif dan berbasis kajian membuatnya dipandang sebagai representasi generasi muda yang tidak apatis. Di era Gen Z dan milenial, keberanian menyampaikan pendapat dengan basis data dan nalar kritis menjadi nilai yang diapresiasi.
Terlepas dari pro dan kontra, kemunculan Tiyo Ardianto dalam perdebatan publik menegaskan kembali satu hal penting: mahasiswa tetap memegang peran strategis sebagai agen kontrol sosial. Kritik bukan sekadar oposisi, melainkan bagian dari upaya memastikan kebijakan publik berjalan akuntabel dan tepat sasaran.
Bahkan ditengah lanskap politik yang terus bergerak cepat, suara mahasiswa seperti Tiyo mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya tentang kekuasaan. Namun juga tentang partisipasi, keberanian, dan tanggungjawab intelektual. © RED/PRAPTO BST/EDITOR : GOES

