OLEH : AGUNG NUGROHO – KETUA UMUM REKAN INDONESIA
HARI pertama selalu terasa meyakinkan. Kita memulai dengan niat yang jelas dan semangat yang penuh. Rasanya seperti membuka lembaran baru. Namun perjalanan tidak hanya ditentukan oleh awal yang kuat, melainkan oleh kemampuan menjaga arah di tengah jalan.
Memasuki hari kedua belas, semangat awal biasanya sudah lebih tenang. Rutinitas berjalan. Tidak ada lagi euforia. Justru di titik inilah muncul pertanyaan penting: apakah kita masih berjalan sesuai tujuan awal?
Seringkali, perubahan arah tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia bergerak pelan. Awalnya kita ingin berubah karena ingin menjadi lebih baik. Di tengah jalan, kita mulai ingin terlihat lebih baik. Awalnya ingin tulus. Lalu muncul keinginan untuk diakui.
Ilmu sosial menjelaskan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian. Kita dipengaruhi lingkungan, norma, dan harapan orang lain. Sosiolog seperti Anthony Giddens menyebut bahwa tindakan individu dan tekanan sosial saling membentuk. Artinya, niat pribadi bisa saja berubah karena pengaruh sekitar, tanpa kita sadari.
Di era media sosial, pengaruh itu semakin kuat. Kita tidak hanya melakukan sesuatu, tetapi juga memikirkan bagaimana orang lain melihatnya. Tanpa sadar, keputusan kita mulai mempertimbangkan citra dan respons publik. Bukan karena kita buruk, tetapi karena kita hidup dalam lingkungan yang menuntut pengakuan.
Di sinilah hari kedua belas menjadi penting. Ia seperti jeda di tengah perjalanan. Bukan untuk berhenti selamanya, tetapi untuk memeriksa kompas.
Apakah langkah kita masih sesuai dengan tujuan awal?
Apakah yang kita lakukan masih lahir dari kesadaran sendiri?
Atau sudah lebih banyak dipengaruhi keinginan untuk terlihat baik?
Refleksi semacam ini bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa kita tidak ingin berjalan tanpa arah. Dalam banyak teori perubahan sosial modern, perubahan yang bertahan lama selalu diawali dengan kesadaran diri. Tanpa refleksi, kita mudah mengulang pola lama hanya dengan tampilan baru.
Hari kedua belas mengingatkan bahwa perjalanan bukan sekadar soal bertahan, tetapi juga soal memastikan arah. Kita bisa sangat rajin, sangat disiplin, bahkan sangat konsisten. Namun jika tujuannya sudah bergeser, semua itu kehilangan makna.
Karena itu, berhenti sejenak bukan kemunduran. Ia adalah cara untuk meluruskan kembali niat sebelum melangkah lebih jauh.
Perjalanan yang baik bukan yang paling cepat. Bukan pula yang paling banyak disorot.
Ia adalah perjalanan yang tetap jujur pada alasan mengapa ia dimulai.
Dan, mungkin yang kita butuhkan hari ini bukan tambahan motivasi, melainkan keberanian untuk bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Apakah aku masih setia pada tujuan awalku? (***/goes)
(PENULIS : AGUNG NUGROHO adalah Ketua Umum REKAN Indonesia, tinggal di Jakarta)