OLEH : TAUFAN HIDAYAT
DALAM kehidupan sehari-hari, banyak aturan tidak tertulis yang sebenarnya mencerminkan nilai nilai luhur dalam ajaran Islam. Aturan tersebut bukan sekadar etika sosial, tetapi juga bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Al Quran dan hadis Nabi.
Ketika seseorang menjaga sikap, perkataan, serta perasaannya terhadap orang lain, ia sedang menapaki jalan adab yang mendekatkannya kepada keridhaan Allah SWT.
Sedangkan dalam kehidupan manusia, tidak semua aturan ditulis secara resmi dalam kitab hukum atau peraturan masyarakat. Banyak nilai hidup justru diwariskan melalui kebijaksanaan sederhana yang dipahami oleh hati nurani.
Nilai nilai ini sering disebut sebagai aturan hidup tidak tertulis. Dalam perspektif Islam, aturan semacam ini sebenarnya sangat dekat dengan konsep adab dan akhlak yang diajarkan dalam Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW ﷺ.
Salah satu aturan yang sering disebut adalah: jika seseorang tidak mendengarkanmu, berhentilah berbicara dengannya. Sikap ini bukan sekadar menjaga harga diri, tetapi juga bentuk kebijaksanaan dalam berbicara. Islam sendiri mengajarkan agar manusia berkata dengan baik dan tidak memaksakan diri ketika orang lain tidak siap mendengar. Allah SWT berfirman dalam Al Quran:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan apabila orang orang bodoh menyapa mereka dengan kata kata yang tidak baik, mereka mengucapkan kata kata yang mengandung keselamatan.”
(QS. Al Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang beriman tidak memaksakan dialog yang sia sia. Ketika percakapan tidak membawa kebaikan, mereka memilih diam dan menjaga ketenangan hati.
Aturan lain yang sering disebut dalam kehidupan adalah: jika seseorang meminjam satu barang lebih dari tiga kali, maka sebaiknya ia mulai membeli sendiri. Prinsip ini sebenarnya berkaitan dengan kemandirian dan tanggungjawab. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja, berusaha, dan tidak bergantung kepada orang lain secara berlebihan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maksud hadist ini adalah bahwa memberi lebih mulia daripada meminta. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga ia tidak membebani orang lain.
Aturan berikutnya adalah jangan marah kepada seseorang ketika ia sedang makan. Dalam budaya timur, makan adalah waktu untuk menenangkan tubuh dan mensyukuri nikmat Allah SWT.
Mengganggu seseorang dengan kemarahan saat makan dapat menyakiti perasaan dan merusak suasana. Islam mengajarkan agar manusia menghormati nikmat makanan dan bersikap tenang ketika menyantapnya.
Allah SWT berfirman:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas nikmat Allah SWT jika kamu hanya kepada-NYA menyembah.” (QS. An Nahl: 114)
Ayat ini mengingatkan bahwa makan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Aturan lain yang sangat penting adalah jangan pernah membuat lelucon tentang kekurangan seseorang. Banyak orang menganggap candaan sebagai hal ringan, padahal dalam Islam menjaga kehormatan sesama manusia adalah kewajiban.
Allah SWT dengan tegas melarang umat manusia merendahkan orang lain, sebagaimana firman-NYA:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Wahai orang orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok.” (QS. Al Hujurat: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kekurangan seseorang tidak boleh dijadikan bahan ejekan, karena di sisi Allah SWT bisa jadi orang tersebut lebih mulia.
Selain empat aturan tersebut, masih banyak adab kehidupan yang sejalan dengan nilai nilai Islam. Misalnya: jangan menyela pembicaraan orang lain sebelum ia selesai berbicara. Sikap ini mencerminkan penghormatan dan kesabaran. Nabi Muhammad SAW ﷺ dikenal sebagai pribadi yang sangat menghargai orang yang berbicara di hadapannya.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini mengajarkan bahwa perkataan seorang Muslim harus membawa kebaikan. Jika tidak, lebih baik ia memilih diam.
Aturan lainnya adalah menghargai waktu dan kesibukan orang lain. Jangan datang atau meminta sesuatu tanpa mempertimbangkan keadaan mereka. Dalam Islam, menjaga hak orang lain merupakan bagian dari akhlak yang sangat penting. Nabi Muhammad SAW ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Hadist ini menekankan pentingnya menjaga batas dan tidak mencampuri hal yang tidak perlu.
Pada akhirnya, aturan hidup tidak tertulis sebenarnya adalah pantulan dari nilai nilai akhlak yang sudah diajarkan Islam sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Ketika seseorang menjaga ucapan, menghormati orang lain, tidak merendahkan sesama, serta berusaha hidup mandiri, ia sedang menapaki jalan adab yang diridhai Allah SWT.
Hidup yang penuh adab akan menghadirkan kedamaian dalam hubungan antar manusia. Masyarakat yang menjaga akhlak akan menjadi masyarakat yang saling menghormati dan saling menjaga kehormatan. Inilah salah satu tujuan besar ajaran Islam: membentuk manusia yang bukan hanya kuat dalam ibadah kepada Allah, tetapi juga lembut dalam memperlakukan sesama manusia. (***/goes)
(PENULIS : TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Soal Keagamaan dan Kehidupan, kini tinggal di Jakarta)

