OLEH ; TAUFAN HIDAYAT
CINTA kepada Allah SWT bukan sekadar pengakuan di lisan. Tetapi, juga harus dibuktikan dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan. Dari akidah, ibadah hingga akhlak, semua menjadi satu kesatuan jalan lurus yang mengantarkan hamba kepada ridha-Nya. Tanpa ittiba’, cinta hanya menjadi klaim kosong yang tak bernilai di hadapan Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui isi hati manusia.
Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, selalu ada persimpangan antara keinginan pribadi dan tuntunan Ilahi. Di titik itulah keimanan diuji. Apakah ia memilih mengikuti hawa nafsu, ataukah tunduk kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Ta’ala telah memberikan garis tegas yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW kepadamu maka ambillah. Dan, apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW terhadapmu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah SWT. Sungguh, Allah SWT sangat keras hukuman-Nya” (QS. Al Hasyr: 7).
Ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan fondasi hidup seorang muslim. Tidak ada ruang tawar-menawar dalam ketaatan. Apa yang datang dari Rasulullah SAW harus diterima sepenuhnya, dan apa yang dilarang harus ditinggalkan tanpa syarat. Inilah bentuk ketundukan yang sejati.
Lebih dari itu, Allah SWT mengaitkan kecintaan kepada-Nya dengan ittiba’ kepada Rasulullah SAW. Sebuah hubungan yang sangat dalam, juga yang menjadikan sunnah sebagai ukuran kejujuran cinta seorang hamba:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٣١﴾ قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah SWT, ikutilah aku, niscaya Allah SWT mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Taatilah Allah SWT dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang kafir’” (QS. Ali Imran: 31-32).
Ayat ini menyingkap hakikat cinta. Bahwa cinta bukan hanya rasa, melainkan ketaatan. Siapa yang benar dalam cintanya, pasti akan mengikuti. Dan siapa yang enggan mengikuti, sejatinya sedang mempertanyakan sendiri kejujuran cintanya.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat dalam tentang ayat ini:
فجعل اتباع نبيه محمد صلى الله عليه وسلم عَلَمًا لحبه، وعذاب من خالفه
“Allah SWT menjadikan ittiba’ (mengikuti sunnah) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tanda cinta kepada Allah SWT, dan Allah SWT jadikan sunnah Nabi bagaikan azab bagi orang yang menyelisihi Allah SWT”.
Betapa jelasnya batas antara kebenaran dan penyimpangan. Sunnah menjadi penunjuk jalan sekaligus pembeda. Ia adalah cahaya bagi yang mengikuti, dan menjadi peringatan keras bagi yang menolak.
Dalam kehidupan sehari-hari, meneladani Nabi bukan hanya dalam perkara ibadah yang besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil yang sering terabaikan. Cara berbicara, cara bersikap, bahkan cara menghadapi ujian, semuanya telah dicontohkan dengan sempurna. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan, tetapi juga memperagakan bagaimana menjadi hamba yang dicintai Allah SAW.
Imam Al Bazzar rahimahullah menyampaikan sebuah kaidah penting yang menggetarkan hati:
من علم طريق الحق سهل عليه سلوكه، ولا دليل على الطريق إلى الله إلا متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم في أحواله وأقواله وأفعاله
“Barangsiapa yang mengetahui jalan kebenaran, maka perjalanannya akan mudah. Dan tidak ada petunjuk menuju jalan Allah kecuali dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam kehidupan beliau, perkataan beliau, dan perbuatan beliau.”
Ini adalah kunci kemudahan. Banyak orang merasa berat dalam beragama, bukan karena agama itu sulit, tetapi karena mereka tidak berjalan di atas jalur yang benar. Ketika seseorang mengikuti Rasulullah SAW, ia seperti berjalan di jalan yang sudah terang, tanpa kebingungan dan tanpa tersesat.
Meneladani Nabi juga berarti menerima bahwa kesempurnaan hanya ada pada wahyu dan risalah yang beliau bawa. Akal manusia memiliki keterbatasan, sementara wahyu datang dari Yang Maha Mengetahui. Maka, ketika terjadi pertentangan antara logika dan sunnah, seorang mukmin sejati akan mendahulukan sunnah dengan penuh keyakinan.
Di tengah kehidupan modern yang penuh godaan dan distraksi, ittiba’ kepada Rasulullah SAW menjadi semakin penting. Dunia menawarkan banyak jalan, tetapi tidak semuanya mengantarkan kepada Allah SWT. Hanya satu jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Siapa yang ingin mendapatkan cinta Allah SWT, maka hendaklah ia meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam akidah, ia lurus tanpa syirik. Dalam ibadah, ia ikhlas tanpa bid’ah. Dalam akhlak, ia lembut tanpa kepalsuan. Dalam muamalah, ia adil tanpa kedzaliman.
Pada akhirnya, ittiba’ bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan. Tanpa mengikuti Rasulullah SAW, manusia akan kehilangan arah. Dan dengan mengikuti beliau, setiap langkah menjadi ibadah, setiap detik bernilai, dan setiap perjalanan bermuara pada ridha Allah Ta’ala.
Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh keikhlasan, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya. (***/goes)
(Penulis : Taufan Hidayat adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial, kini tinggal Jakarta)