Rezeki Bersih & Hati yang Tenang, JANGAN REMEHKAN KEHIDUPAN Tanpa Riba

OLEH : USTADZ TAUFAN HIDAYAT

ADA orang yang hidupnya terlihat biasa saja. Rumah masih ngontrak, kendaraan tak pernah berganti, dan gaya hidupnya sederhana. Namun jangan tergesa menilai. Bisa jadi mereka sedang menjaga sesuatu yang mahal di sisi Allah SWT: rezeki yang bersih dan hati yang tenang. Mereka tidak hidup dalam tekanan bunga dan cicilan. Mereka memilih pelan, tapi selamat, karena takut pada murka Allah SWT.

Di zaman ini, riba sudah seperti budaya. Ia masuk dalam transaksi, cicilan, pinjaman, bahkan dalam gaya hidup. Banyak orang menganggap riba hanya “biasa saja”, sekadar sistem ekonomi.

Padahal, dalam pandangan Islam, riba bukan perkara ringan. Ia bukan sekadar dosa kecil yang bisa ditutup dengan alasan kebutuhan. Riba adalah dosa besar yang mengundang ancaman perang dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan siapa pun yang berani menjauhinya, meski hidupnya sederhana, sesungguhnya ia sedang memilih jalan kemuliaan.

Allah Ta’ala menegaskan secara keras dalam Al-Qur’an tentang riba. Bukan dengan bahasa lembut, tetapi dengan peringatan yang mengguncang hati.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya lalu berhenti, maka baginya apa yang telah lalu dan urusannya kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275).

Perhatikan ayat ini. Allah SWT menggambarkan pelaku riba seperti orang yang jatuh bangun karena kesurupan. Itu isyarat bahwa riba bukan hanya merusak harta, tetapi juga merusak jiwa. Ia membuat manusia kehilangan ketenangan. Lahirnya mungkin terlihat sukses, tetapi batinnya penuh gelisah. Karena riba itu memaksa seseorang mengejar dunia dengan cara yang Allah SWT murkai.

Lalu Allah SWT melanjutkan ancaman yang lebih menggetarkan:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Artinya:Allah SWT memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276).

Inilah rahasia yang sering tidak disadari manusia. Riba tampak menambah angka, tetapi Allah SWT memusnahkan keberkahannya. Sedekah tampak mengurangi, tetapi Allah SWT melipatgandakan nilainya. Maka jangan heran jika ada orang yang hartanya besar tetapi hidupnya penuh masalah, penuh pertengkaran, penuh sakit yang tak kunjung sembuh, penuh ketakutan kehilangan. Dan jangan heran jika ada orang yang hartanya sedikit namun hatinya lapang, keluarganya rukun, tidurnya nyenyak, dan hidupnya terasa cukup. Karena yang membedakan bukan jumlahnya, tetapi berkahnya.

Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Artinya:Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Ancaman perang dari Allah SWT adalah ancaman yang tidak pernah disebut untuk dosa-dosa kecil. Ini menunjukkan bahwa riba adalah penyakit besar yang menghancurkan tatanan hidup manusia. Karena riba membuat orang kaya semakin menindas, dan orang lemah semakin tercekik. Maka Islam datang membawa keadilan. Islam tidak ingin manusia hidup dengan menekan manusia lain.

Rasulullah SAW ﷺ juga memperingatkan dengan keras. Dalam hadis sahih disebutkan:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

Artinya:Rasulullah SAW ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Hadis ini sangat tegas. Bukan hanya yang memakan riba, bahkan yang membantu prosesnya pun ikut terkena laknat. Laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Maka jika seseorang menolak riba, meski harus hidup lebih sederhana, ia sesungguhnya sedang menjaga dirinya agar tetap dekat dengan rahmat Allah SWT.

Karena itu, jangan remehkan orang yang hidup tanpa riba. Mungkin rumahnya masih kontrak. Mungkin motornya tidak pernah ganti. Mungkin bajunya biasa. Tetapi ia tidak tidur dalam ketakutan tagihan. Ia tidak bangun pagi dengan kecemasan bunga berjalan. Ia tidak memandang masa depan dengan gelap. Ia hidup sederhana, namun hatinya terang.

Orang yang menjaga diri dari riba sedang menjalankan prinsip takwa. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah SWT, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan, Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi kepastian. Orang yang takut kepada Allah SWT akan selalu ditolong Allah SWT. Mungkin rezekinya datang pelan, tapi datang dengan cara yang halal. Mungkin tidak melimpah di mata manusia, tetapi cukup untuk menegakkan kehormatan. Dan yang paling mahal: ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Rasulullah SAW ﷺ bersabda:

إِنَّ الرُّوحَ الْقُدُسَ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

Artinya: “Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah seseorang akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah SWT dan carilah rezeki dengan cara yang baik.” (HR. Ibnu Majah).

Maka jangan takut miskin karena meninggalkan riba. Rezeki tidak akan tertukar. Yang ditakutkan seharusnya bukan kurangnya uang, tetapi hilangnya keberkahan. Karena uang tanpa berkah hanya akan menjadi sumber kegelisahan.

Orang yang hidup tanpa riba memang tampak pelan. Tapi arah hidupnya jelas: ridha Allah SWT. Ia mungkin tidak viral, tidak pamer, tidak punya gaya hidup mewah. Namun di sisi Allah SWT, bisa jadi ia sedang menabung kemuliaan. Sebab ia berani memilih halal ketika banyak orang memilih mudah. Ia berani menahan nafsu ketika dunia menawarkan jalan cepat.

Maka jika engkau melihat orang yang sederhana tetapi menjaga diri dari riba, jangan remehkan dia. Bisa jadi doanya lebih mustajab. Bisa jadi sedekahnya lebih diterima. Bisa jadi rumah tangganya lebih diberkahi. Dan bisa jadi di hari kiamat, ia termasuk orang yang selamat, sementara yang tampak kaya justru tertahan karena hisab yang panjang.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga harta dari yang haram, membersihkan rezeki dari riba, dan diberi kecukupan yang penuh berkah. Aamiin. (***/goes)

(PENULIS: USTADZ TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial Kemasyarakatan)

Related posts

Di Momen Idhul Adha, Erna Santoso Berbagi Daging Qurban serta Menghibur Anak-anak Nelayan Tanjung Burung Tangerang

Dari Ciganjur Menuju ke Cibubur, Program Jumat Berkah Wartawan Ajak Berbagi BudayantaraTV Digital Network

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri