KUALA LUMPUR (POSBERITAKOTA) – Tim inovasi Institut Teknologi Perusahaan Listrik Negara (ITPLN) berhasil mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. Tim yang dipimpin oleh dosen pembimbing Ir Dwi Listiawati MT IPM ASEAN Eng, sukses membawa pulang medali emas dari Kementerian Riset Malaysia dalam ajang ‘Invention, Innovation, Technology Competition & Exhibition’ (ITEX) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia (18–20 Mei 2026) kemarin.
Sedangkan inovasi yang mereka usung terbilang revolusioner: sebuah alat pemanen energi dari kelembapan udara yang diberi nama Prototype Hygroelectric Generator (HEG). Bukan sekadar alat biasa, HEG dirancang khusus sebagai sumber energi mandiri untuk sistem pemantauan gas karbon dioksida (CO2) tanpa memerlukan baterai eksternal.
Disampaikan Dosen pembimbing tim ITPLN, Dwi Listiawati, ide itu sendiri berakar dari urgensi penanganan krisis iklim dan keterbatasan alat pemantau konvensional yang selama ini sangat bergantung pada baterai sekali pakai. Ketergantungan tersebut dinilai memperberat beban lingkungan akibat limbah B3.
“Dalam hal ini, kami melihat ada potensi besar yang belum tergarap optimal pada kelembapan udara. Melalui lapisan hidrogel higroskopis yang menciptakan gradien kelembapan, kami berhasil memicu pergerakan ion dan menghasilkan listrik,” ujar Dwi Listiawati kepada media, Minggu (24/5/2026).
Pada sisi lain, inovasi ini digarap secara kolektif oleh lima mahasiswa lintas disiplin ilmu di ITPLN. Mereka adalah Yana Agustianingsih Miharjo (S1 Sistem Energi), Seja Sastrianto (S1 Teknik Elektro), Evan Leonardus Ginting (S1 Teknik Tenaga Listrik), Aliya Salsabila Faryani (S1 Teknik Tenaga Listrik) dan Yoan Rivaldy Ada’ (S1 Bisnis Energi). Tak disangka mereka berhasil menyisihkan 700 tim dari berbagai negara di dunia.
Tentang kolaborasi antardisiplin ini melahirkan pendekatan mutakhir. Mulai dari perancangan berbasis material tinta konduktif dan serat kayu hingga penerapan algoritma energy-aware sampling untuk efisiensi daya sensor CO2.
Adapun keberhasilan menyabet medali emas di ITEX 2026 menjadi bukti nyata bahwa inovasi hijau asal Indonesia mampu bersaing di panggung dunia. Skema desain seri dan paralel yang fleksibel pada HEG juga membuka peluang komersialisasi tinggi karena biaya produksinya yang tergolong rendah serta ramah lingkungan. Setiap program inovasi ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.
“Tentunya ini merupakan langkah awal. Namun kedepannya, kami memproyeksikan teknologi HEG ini sebagai baterai masa depan untuk berbagai komponen elektronik ultra-low-power, sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs),” ucap Dwi Listiawati, mengakhiri keterangannya dengan penuh optimistis. ® RED/FATHONIE AG/ EDITOR : GOES