Soroti Tantangan Besar yang Ada Didepan Mata, Kadis Kebudayaan Kota Denpansar Sebut Subak Terancam Punah di Bali

BALI (POSBERITAKOTA) – Ancaman Subak Bali, sistem irigasi tradisional, kini semakin nyata. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menyoroti tantangan kompleks. Ini termasuk alih fungsi lahan dan edukasi petani.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, menyatakan tantangan melindungi Subak semakin kompleks. Alih fungsi lahan menjadi isu utama di wilayah perkotaan. Selain itu, animo masyarakat mendorong Subak bermetamorfosis menjadi ekowisata.

Desa adat menghadapi kesulitan dalam memantau lahan Subak. Aturan adat atau awig-awig hanya mengikat warga desa pemilik lahan. Lahan yang telah dijual kepada pihak luar sulit dikenai sanksi adat.

“Ketika lahannya sudah dijual, itu yang susah untuk mengenakan sanksi adat,” kata Purwantara. Ia menjelaskan lahan bersertifikat berada di luar kewenangan desa adat. Transaksi sertifikat tidak melalui pekaseh.

Intervensi terhadap lahan pribadi bersertifikat menjadi sulit. Purwantara menekankan pemberlakuan hukum sesuai sertifikat. Kolaborasi antar-perangkat daerah membantu melalui Peraturan Daerah (Perda) RTRW. Perda ini dapat mengikat alih fungsi lahan.

Dinas Kebudayaan Denpasar juga menyoroti lahan pertanian yang semakin sempit. Pengairan pun mulai tercemar sampah. Petani perkotaan disarankan mengubah pola tanam ke depannya. Mereka dapat beralih ke hortikultura.

Penanaman padi di lahan sempit dinilai kurang menguntungkan. “Kalau 15 are, tanam padi mungkin tidak dapat untung,” ujar Purwantara. Ia menyarankan menanam bunga, jagung, terong, atau tomat. Tanaman semusim ini bisa diadopsi.

Pola tanam hortikultura ini justru lebih dahulu dibawa kaum pendatang. Sementara petani lokal masih berfokus pada penanaman padi. Petani lokal kurang melihat peluang pasar.

Kaum urban justru memanfaatkan peluang ini. Mereka mengontrak lahan petani dan menanam komoditas bernilai tinggi. Contohnya melon atau cabai. Petani harus lebih cermat.

Purwantara menekankan reorientasi petani. Mereka harus melihat peluang untung dengan perubahan pola tanam. Pendekatan teknologi terkini juga penting. Petani harus mampu melihat tren pasar.

Kondisi wilayah juga menentukan pola tanam yang sesuai. Daerah hulu seperti Denpasar Timur masih cocok untuk padi. Namun di hilir seperti Sidakarya dan Intaran, hortikultura lebih sesuai. Upaya mitigasi ancaman Subak Bali ini memerlukan komitmen bersama. ® RED/BALI 01

Related posts

Merupakan Fenomena, Pesisir Bali Berpotensi Banjir Rob Akibat Bulan Purnama

Diprediksi hingga 5 Juni, BMKG Himbau Warga Pesisir Bali Siaga Banjir Rob Akibat Purnama

Masa Penerimaaan Anggota Baru, KMHDI Buleleng Soroti Potensi Ketergantungan AI dalam Pendidikan