KOTA BEKASI (POSBERITAKOTA) – Untuk menjadi relawan membutuhkan perpaduan langkah, antara waktu luang, stabilitas finansial serta energi emosional. Sedangkan bagi sebagian orang yang sibuk bekerja untuk kepentingan pribadi, mendedikasikan waktu tanpa upah adalah sebuah kemewahan yang tak mudah diwujudkan.
Pandangan tersebut di atas disampaikan Kepala BBPPKS Bandung Kementerian Sosial RI, Drs. Iyan Kusmadiana, MPS,Sp, saat menutul acara Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS), yang diselenggarakan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Bandung Kementerian Sosial RI, di Kota Bekasi, Kamis (11/06/2026) kemarin.
“Hal paling penting lain bahwa untuk menjadi relawan kemanusiaan membutuhkan panggilan jiwa, waktu, tenaga dan pengorbanan yang tidak semua orang siap atau mampu berikan,” tegas Iyan Kusmadiana saat memberi sambutan.
LKS Penting dan Patut Diapresiasi
Dikatakan Iyan Kusmadiana, dedikasi mereka yang turun langsung membantu sesama, baik dalam situasi bencana, krisis kesehatan, maupun isu sosial, adalah sesuatu yang sangat berharga dan patut diapresiasi.
“Adapun LKS sangat penting sebagai garda terdepan untuk menjembatani kesenjangan sosial. Memberikan akses terhadap kebutuhan dasar, serta melindungi hak-hak kelompok rentan, seperti fakir miskin, penyandang disabilitas, dan lansia, yang kadang tidak terjangkau program pemerintah,” paparnya.
Sekarang ini terdapat ribuan lembaga yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial dan kemanusiaan yang tersebar di berbagai daerah. Sebagian di bawah koordinasi Kementerian Sosial.
“Namun jumlah LKS-nya hanya beberapa persen saja, jika dibanding jumlah penduduk Indonesia yang saat ini diperkirakan mencapai 288 juta jiwa,” ucap Iyan Kusmadiana, menambahkan.
Pekerja Sosial Setara Dokter dan Guru
Pada masa depan, katanya, peran pekerja sosial diproyeksikan sama krusialnya dengan dokter atau guru. Jika dokter menyembuhkan fisik dan guru mengasah intelektual.

“Sebab, pekerja sosial itu merawat kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Bahkan menjadi profesi yang sangat dicari untuk mengatasi stres dan tekanan hidup di era modern,” urainya.
Untukbdi Indonesia profesi ini semakin diakui dan diatur secara formal melalui UU Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial. Jenjang karir yang jelas, mulai dari pendamping program perlindungan sosial (seperti PKH), pekerja sosial medis di rumah sakit, hingga posisi Jabatan Fungsional di instansi pemerintah.
Menciptakan LKS yang Profesional
Dalam Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS) yang diselenggarakan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Bandung Kementerian Sosial RI, juga Dinas Sosial Kota Bekasi tersebut, berlangsung sejak Senin (08/06/2026) hingga Kamis (11/06/2026).
Diikuti 35 peserta dari berbagai elemen masyarakat, pekerja sosial, dan pimpinan lembaga sosial kemasyarakatan, se-Kota Bekasi.
Materi pelatihan antara lain; Manajemen Organisasi Kesejahteraan Sosial, meliputi Manajemen Kasus, dan Manajemen Mutu. Materi lainnya, Membangun Tim yang Efektif, Kemitraan dalam Organisasi Pelayanan Sosial, Advokasi Sosial, Pemasaran Sosial, Supervisi Pelayanan Sosial, Penggalian Dana, dan Pengelolaan Keuangan Lembaga.
Menampilkan narasumber; DR. Endah Triati, MSW, (Ahli Utama BBPPKS Bandung Kementerian Sosial RI), Nandang Sofyan, M.Pd, (Ahli Muda BBPPKS Bandung Kementerian Sosial RI), serta Anggraeni N.Prastiwi (Pekerja Sosial dan Ketua Yayasan Rumah Piatu Muslimin Jakarta), dan pemateri lainnya.
DR. Endah Triati, MSW, yang juga selaku penanggungjawab program menyampaikan, MLKS bertujuan membekali pengurus LKS dengan keterampilan manajerial, penggalangan dana, kemitraan, dan tata kelola keuangan yang akuntabel.
Tujuannya adalah menciptakan LKS yang profesional, terstandarisasi, dan terakreditasi oleh Kementerian Sosial RI agar lebih berdaya melayani masyarakat.

“Ingin meningkatkan pengetahuan keterampilan dan sikap para pengelola dalam pengelolaan lembaga. Memastikan lembaga Kesejahteraan Sosial beroperasi dengan lebih profesional dan berdaya. Mendorong manajemen lembaga yang transparan inovatif dan terarah,” ujar Endah Triati.
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Dinas Sosial Kota Bekasi
Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi, Robet TP Siagian, S.STP., M.Si, dalam sambutan pembukaan acara pelatihan MLKS menyampaikan, pihaknya berkomitmen ikut meningkatkan kualitas pelayanan sosial di wilayahnya melalui penguatan kapasitas kelembagaan lembaga kesejahteraan sosial.
“LKS memiliki peranan strategis sebagian mitra pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melindungi kelompok rentan. Melalui pelatihan ini memastikan lembaga mampu memberikan dampak nyata dalam pelayanan sosial kepada masyarakat,” ujar Robet.
Pelatihan MLKS, lanjut Robet, sebagai langkah awal dalam meningkatkan kompetensi SDM kesejahteraan sosial yang bergerak di lembaga kesejahteraan sosial.
“Pekerja sosial mendapat pengetahuan tentang bagaimana mengelola lembaga kesejahteraan sosial. Memperkuat struktur dan tata kelola lembaga agar lebih akuntabel,” papar Robet.
Tidak Ada yang Berjuang Sendirian
Para peserta pelatihan MLKS, mengharapkan pelatihan ini tidak berhenti pada upaya meningkatkan kompetensi teknis, melainkan dirancang guna memupuk solidaritas, kebersamaan, dan empati bagi para pekerja sosial dalam menangani berbagai masalah kesejahteraan sosial.
“Memperkuat kapasitas SDM. Mempererat sinergi. Fondasi moral yang saling menguatkan. Menyatukan kita dalam perjuangan bersama, dan kebersamaan ini adalah ruang yang memastikan tidak ada yang berjuang sendirian,” ucap Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Eddie Karsito, yang didaulat menjadi Koordinator Peserta Pelatihan MLKS Tahun 2026 ini.
Acara Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS) ditutup dengan observasi lapangan dengan mengunjungi Panti Asuhan Yayasan Al-Ikhlas Kayuringin Kota Bekasi Jawa Barat. ® RED/RANGGA ARYA WIJAYA /EDITOR : GOES

